Hidayatullah.com—Rama Abu Seif, 12 tahun, ingin kembali ke kelas untuk belajar tetapi sekolah tersebut sekarang menjadi pemukiman bagi keluarga yang mengungsi akibat perang.
Buku-bukunya dibakar untuk menyalakan api di oven tanah liat. Tas sekolahnya penuh dengan pakaian kalau-kalau dia perlu menghindari serangan ‘Israel’.
“Mereka yang seusia saya atau lebih muda dari saya, tentu semua ingin kembali ke utara (Gaza) dan kembali bersekolah, belajar dan bermain di sekolah, tapi itu semua hilang…,” ujarnya.
Tidak ada prospek bagi Rama dan banyak anak lainnya untuk kembali bersekolah dalam waktu dekat di Jalur Gaza, dan waktu mereka terbuang sia-sia akibat pemboman ‘Israel’.
Sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023, sekolah-sekolah telah dibom atau diubah menjadi tempat penampungan bagi para pengungsi, menyebabkan sekitar 625.000 anak sekolah di Gaza tidak dapat bersekolah.
Di usianya yang sekarang, seharusnya ia berolahraga dan bermain di taman bermain sekolah, namun Rama malah mengantri panjang untuk mendapat giliran mengambil air untuk dikonsumsi – air yang didistribusikan seringkali kotor dan tidak dapat diminum.
Serangan ‘Israel’ di wilayah yang dikuasai Hamas menewaskan lebih dari 40.600 warga Palestina, menurut kementerian kesehatan setempat.
Sebagian besar dari 2,3 juta penduduk Gaza telah mengungsi, sehingga memicu krisis kelaparan dan kesehatan di wilayah tersebut.
Rama dan teman-teman sekelasnya hanya dapat mengingat hari-hari yang lebih baik di Gaza, salah satu daerah terpadat di dunia.
Gaza dan Tepi Barat yang diduduki memiliki tingkat melek huruf yang tinggi secara internasional, dan sistem pendidikan yang kekurangan sumber daya di seluruh penjuru adalah harapan dan kebanggaan rakyat Palestina.
Sejak perang pecah, warga Gaza telah mengungsi ke utara, selatan dan wilayah lain.
Pada awal Agustus, ‘Israel’ melancarkan serangan udara di halaman sebuah sekolah di Kota Gaza yang menampung sekitar 100 orang, melibatkan keluarga Palestina yang kehilangan rumah.
“Dulu kami membuka tas sekolah dan menemukan buku di dalamnya, jadi kami mengambil buku itu dan belajar.
“Tetapi sekarang kami membuka tasnya dan menemukan pakaian di dalamnya. Pakaian itu untuk kami bawa kemanapun kami pergi, dari satu tempat ke tempat lain,” kata Rama.
Masuk bulan ke-12
Setelah memasuki bulan ke-12, kemarin, genosida ‘Israel’ di Palestina masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda atau berakhir, sehingga memberikan harapan tipis bagi masyarakat Palestina dan para sandera ‘Israel’.
Kemungkinan terjadinya gencatan senjata yang juga melibatkan pertukaran tahanan Palestina di penjara-penjara ‘Israel’ dengan sandera yang ditahan oleh Hamas sangat kecil, karena kedua belah pihak tetap pada posisi masing-masing.
Menurut kantor hak asasi manusia PBB, sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.
Selain itu, terdapat 251 sandera yang diduga disandera oleh kelompok pejuang Palestina sejak perang meletus, dengan 97 orang masih berada di Gaza, termasuk 33 korban yang diklaim tentara ‘Israel’ telah tewas.
Beberapa sandera dibebaskan selama gencatan senjata selama seminggu pada bulan November tahun lalu.
Pengumuman ‘Israel’ minggu lalu terkait penemuan enam jenazah sandera, termasuk seorang warga negara AS-’Israel’, menimbulkan duka dan kemarahan di ‘Israel’.
Hal ini mendorong ribuan pengunjuk rasa untuk melakukan unjuk rasa pada hari Sabtu di Tel Aviv dan beberapa kota ‘Israel’ lainnya, termasuk Yerusalem dan Haifa, untuk menuntut pemerintah memastikan pembebasan para sandera.*