Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Dari 150 Nyawa ke Satu Hidayah

Ahmad
Terakhir diupdate: 6 Mei 2025 17:14 5:14 pm
Ahmad
Dipublikasikan 6 Mei 2025 19:00
Bagikan
Bagikan

Kisah mantan gangster Australia yang bersyahadat setelah membunuh lebih 150 orang. Dari kegelapan ke terangnya sajadah

Hidayatullah.com | DI SEBUAH malam yang lengang di kawasan gelap bawah tanah Sydney, hujan peluru memecah kesunyian. Dua magasin peluru dilepaskan dalam sembilan detik, mencabut nyawa seorang tokoh kejahatan.

Dalam hiruk pikuk perang antar geng itu, seorang pria berdarah dingin berdiri sebagai eksekutor: penembak jitu, bagian dari jaringan kriminal terorganisasi Australia. Pria itu kini duduk tenang, dengan sorban di kepala, menggenggam tasbih di tangan.

Namanya tidak dicantumkan atas permintaan pribadi. Tapi kisah hidupnya sudah menjadi legenda dalam dunia kejahatan Negeri Kanguru.

“Saya membunuh 150 orang, mungkin lebih. Saya berhenti menghitung,” katanya datar dalam sebuah wawancara panjang dengan Lily Jay, YouTuber yang dikenal karena membahas topik-topik seputar Islam, spiritualitas bertema “EMOTIONAL STORY From Crime to Quran + wife DIED 1 week after her Shahada | Finding Islam in prison”.

Baca Juga

10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Kisah Mualaf Big Frank, Influencer Penuh Tato asal Inggris
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam

Matanya teduh, tidak lagi mencerminkan amarah yang dulu membara di setiap tembakan yang ia lepaskan.

Ia pernah hidup dalam dunia yang hanya dilihat orang lewat layar televisi dan berita kriminal. Dalam hiruk-pikuk dunia malam Sydney, para gangster besar datang menemuinya untuk menagih atau menagih utang. “Saya adalah orang yang mereka datangi saat tak ada lagi yang bisa menyelesaikan masalah,” katanya.

Namun dunia itu runtuh dalam sekejap, saat sebuah eksekusi gagal membuatnya harus berhadapan dengan hukum. Ia dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara. Dalam sunyi sel penjara itulah, sebuah cahaya masuk ke dalam hatinya.

“Waktu di penjara, saya banyak berpikir. Tidak ada keluarga, tidak ada pekerjaan. Hanya saya dan waktu. Di situlah saya menemukan Tuhan, saya menemukan Allah,” katanya.

Hidayah itu datang perlahan. Ia mulai membaca Al-Qur’an, belajar shalat, dan memperbaiki hidup. Teman-teman satu sel menyebutnya “Abang Imam”, karena ia mulai memimpin shalat Jumat di lapas. “Ketenangan itu datang ketika kamu berserah. Tidak ada lagi rasa takut… kecuali kepada Allah.”

Setelah bebas, pemerintah Australia mendeportasinya. Ia kembali ke negara asalnya, memulai hidup baru. Kini ia mengabdikan hidupnya untuk berdakwah kepada anak muda. Ia mengingatkan mereka bahwa jalan kekerasan dan dunia malam tak akan membawa ke mana-mana.

“Gangster terbesar bukan yang paling banyak membunuh,” katanya pelan. “Gangster terbesar adalah yang bisa bangun pagi untuk shalat Subuh dan shalat lima waktu.”

Cinta, Air Mata, dan Kalimat Syahadat

Perjalanan hidupnya tak hanya soal peluru dan penjara. Ia juga memiliki satu cinta sejati: Sharon, seorang perempuan kulit putih yang telah menemaninya sejak 2009. Mereka menikah dan hidup bersama, saling menopang di tengah kesulitan ekonomi dan trauma masa lalu.

Namun takdir berkata lain. Sharon mengalami cedera pada bagian panggul dan harus menjalani operasi. Sebuah prosedur medis yang mestinya sederhana itu berakhir menjadi tragedi.

“Saya masih ingat, sehari sebelum operasi, dia bilang: “Kalau aku mati, jangan nikah lagi ya,’” katanya sambil tersenyum getir.

Operasi itu memicu komplikasi. Sharon mengalami koma dan harus dipasang alat bantu napas.

Dalam detik-detik kritis itu, sang suami membisikkan dua kalimat sakral ke telinga istrinya.

“Saya bisikkan syahadat di telinganya. Tiga kali. Dan di kali ketiga, air matanya menetes. Saya tahu dia mendengar,” ujarnya dengan suara gemetar.

Sharon wafat dalam Islam hari Jumat, di bulan suci Ramadan. Pemakamannya dilakukan setelah shalat Jumat. Ia sendiri yang memandikan jasad sang istri.

Keajaiban pun terjadi: luka bekas infus dan suntikan perlahan-lahan menghilang. Tubuh Sharon tampak tenang dan bersih, seperti baru dimandikan oleh malaikat.

“Allah membersihkan semuanya. Dia wafat dalam keadaan suci. Islam menyambutnya dengan tangan terbuka,” katanya lirih.

Kini, pria yang pernah menjadi bayangan kematian itu justru menjadi pembawa pesan kehidupan. Dari kegelapan lorong-lorong gangster ke terangnya sajadah, ia berjalan dengan damai, membawa luka, cinta, dan harapan.

Ia menutup kisahnya dengan pesan menyentuh: “Kalau kamu bisa punya semua uang di dunia, tapi tidak kenal Tuhan, kamu tetap orang paling miskin. Tapi jika kamu shalat lima kali sehari dan serahkan tubuh dan jiwamu kepada Allah, maka kamu adalah orang terkaya yang sesungguhnya,” ujarnya.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:gangstergangster AustraliaHeadlinemasuk islammualafpenjaraPilihan Redaksisajadahsyahadat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dilabeli Ekstremis Partai Anti-Islam AfD Gugat Intelijen Jerman
Tulisan selanjutnya Iming-iming $1.000 Bagi Migran Ilegal yang Sukarela Tinggalkan Amerika Serikat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Berita
15 Oktober 2026 16:32
Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
Serangan Drone Paramiliter Sudan Tewaskan 41 Orang Dekat Perbatasan Ethiopia
PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak

Terbaru

  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
  • Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga

30 Juni 2026 16:15
Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

30 Mei 2026 17:30
Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?