Pengetatan aturan penyembelihan menjelang Idul Adha di Benggala Barat membuat pasar sapi musiman ambruk, memukul peternak dan pedagang yang selama ini hidup dari hubungan dagang lintas komunitas.
Hidayatullah.com | DI BAWAH atap seng yang memantulkan panas akhir Mei, para pedagang hanya duduk menunggu. Sapi-sapi dan kerbau tetap berdiri terikat. Tidak ada yang salah dengan ternaknya. Yang hilang adalah pembelinya.
Kurang dari sepekan menjelang Idul Adha, Pasar Sapi Dhulagarh di pinggiran Kolkata yang biasanya penuh negosiasi berubah seperti pasar yang lupa cara berdagang.
Lebih dari 200 sapi menunggu tangan yang tak kunjung datang.
Bagi banyak keluarga peternak dan pedagang, hari-hari menjelang Idul Adha biasanya menjadi masa panen. Ada yang meminjam uang untuk membeli ternak, menggemukkan sapi berbulan-bulan, lalu berharap hasil penjualan cukup untuk menutup utang dan menjadi modal hidup sampai musim berikutnya.
Tahun ini, hitungannya berubah.
Seorang pedagang Hindu dari Midnapur Timur mengaku datang dengan harapan besar, pulang dengan kecemasan yang sama besarnya.
“Siapa yang mau beli sapi? Orang-orang sekarang hidup dalam ketakutan, ” ujar seorang pedagang sapi di Dhulagarh kepada Al Jazeera.
Ketakutan itu muncul setelah pemerintahan baru Benggala Barat yang dipimpin BJP memperketat penerapan West Bengal Animal Slaughter Control Act 1950 menjelang Idul Adha.
Pemerintah menegaskan penyembelihan sapi dan kerbau hanya boleh dilakukan setelah mendapat sertifikasi resmi dan di lokasi yang ditentukan.
Secara formal, pemerintah menyebut ini penegakan aturan lama—bukan kebijakan baru. Namun di pasar, para pedagang merasa dampaknya terasa seperti larangan yang datang mendadak.
Selama puluhan tahun, perdagangan sapi di wilayah ini berjalan lewat pola yang relatif tetap: banyak penjual berasal dari keluarga Hindu pedesaan, sementara pembeli musiman berasal dari komunitas Muslim yang menjalankan ibadah kurban.
Begitu pembeli berhenti datang, seluruh rantai ekonomi ikut tersendat.
Ketika Penjual Mulai Marah
Bagi sebagian peternak dan pedagang, yang merusak pasar bukan sapinya, bukan pembelinya—tetapi cara pemerintah menjalankan aturannya.
Yang menarik, kritik paling keras tidak seluruhnya datang dari kelompok yang selama ini diasosiasikan sebagai pihak terdampak.
Video-video yang beredar justru memperlihatkan pedagang sapi Hindu mulai mempertanyakan kebijakan pemerintah negara bagian.
Mereka tidak bicara soal ideologi. Mereka hanya bicara soal utang.
Seorang pedagang yang videonya ramai dibagikan mengatakan dirinya meminjam hampir 500 ribu rupee untuk membeli dan memelihara ternak menjelang Idul Adha.
Kini pasar sepi. Dan kemarahannya diarahkan langsung kepada pemerintah.
“Mengapa BJP tidak mengizinkan kami menjual sapi kepada Muslim? Saya mengambil pinjaman 500 ribu rupee untuk memelihara dan menjual ternak ini saat Bakrid. Muslim tidak pernah menyakiti kami. Mengapa BJP menghentikan kami berdagang? Kalau begitu berikan saja kami racun, ” pedagang sapi Hindu, dikutip Maktoob Media.
Di video lain, seorang perempuan pedagang juga menyampaikan keluhan yang sama: pembeli Muslim berhenti datang dan keluarga pedagang mulai kehilangan pemasukan.
“Muslim sudah tidak membeli sapi lagi. Kami sekarang berada dalam masalah besar. Sistem lama harus dikembalikan. Kami tidak bisa bertahan seperti ini, ” tambah pedagang sapi di Benggala Barat.
Di Magrahat, sebuah video lain memperlihatkan ironi yang lebih tajam. Seorang penjual Hindu datang membawa sapi ke pasar menjelang Idul Adha. Namun sejumlah calon pembeli Muslim memilih mundur.
Bukan karena tidak ingin membeli. Mereka mengaku tidak ingin berhadapan dengan pengawasan dan ketidakpastian aturan. Salah satu percakapan yang terekam berbunyi: “Kami tidak akan membeli sapi karena administrasi sudah melarang,” ujar pembeli Muslim dalam video yang dikutip Maktoob Media.
Pasar yang selama ini hidup dari saling percaya mendadak berhenti karena semua orang memilih aman.
Muslim Masih Bisa Kurban, Tapi Pedagang Kehilangan Pelanggan
Di tengah situasi itu, sejumlah tokoh Muslim memilih menyerukan kepatuhan terhadap aturan. Sekretaris Milli Ettehad Parishad, Abdul Aziz, mengingatkan bahwa kurban tidak harus sapi.
“Komunitas Muslim harus menjalankan kurban dalam kerangka hukum. Islam memperbolehkan beberapa jenis hewan untuk kurban. Orang bisa memilih kambing atau domba sambil tetap menjalankan ibadah, ” Abdul Aziz kepada Maktoob Media.
Pandangan serupa datang dari ulama Kolkata. “Ada hewan lain yang bisa digunakan untuk kurban, termasuk kambing dan domba. Tetapi para pedagang dan mereka yang bergantung pada perdagangan sapi bisa mengalami kerugian ekonomi, ” ujar Maulana Shafique Qasmi.
Bagi umat Muslim, ritual masih bisa berjalan. Tetapi bagi pedagang sapi, pindahnya pilihan hewan berarti hilangnya musim penjualan terbesar dalam setahun.
“Burger Tidak Punya Agama”
Efeknya menjalar keluar pasar. Restoran, pemasok, pedagang daging, rumah potong hingga warung makan ikut terkena dampaknya.
Sebuah restoran di Kolkata, The Burger Shop, bahkan menghentikan menu burger sapi mereka. “Burger kami tidak punya agama. Tapi politik jelas punya, ” unggahan The Burger Shop, dikutip Al Jazeera.
“Pemasok daging sapi kami dipanggil polisi dan diminta menghentikan usaha sementara. Kami tidak bisa cepat mencari pengganti. Padahal menu sapi menyumbang bagian besar dari omzet,”ujar salah satu pemilik restoran menjelaskan Al Jazeera.
***
Perdebatan soal sapi di India sudah lama melampaui urusan peternakan. Pendukung kebijakan melihat aturan sebagai bentuk kepatuhan hukum dan perlindungan nilai budaya.
Sementara para pengkritik menilai pengetatan mendadak menjelang Idul Adha menghasilkan dampak ekonomi yang ditanggung pedagang kecil.
Pengacara dan mantan anggota Dewan Kesejahteraan Hewan India, Jayasimha Nuggehalli, melihat persoalan ini tidak bisa dibaca semata sebagai isu perlindungan hewan.
“Dalam praktik dan desainnya, aturan seperti ini sering berkaitan dengan identitas, politik perdagangan, dan mata pencaharian pedesaan, bukan hanya soal kesejahteraan hewan,” ujar Jayasimha Nuggehalli kepada Al Jazeera.
Menariknya, selama bertahun-tahun, India berada di posisi yang paradoksal dalam perdebatan soal sapi. Eekspor tersebut berasal dari daging kerbau (carabeef), Pada periode 2014–2015, India sempat disebut sebagai eksportir daging bovina terbesar di dunia berdasarkan volume, sedikit melampaui Brasil, dengan rata-rata ekspor mencapai sekitar 2 juta ton per tahun dan menguasai sekitar 20–21 persen perdagangan global.
Dalam perkembangan yang lebih baru, posisi India bergeser dan kini lebih sering ditempatkan sebagai eksportir terbesar kedua atau ketiga dunia, bergantian di belakang Brasil dan Australia.
Pada tahun fiskal 2024, nilai ekspor daging kerbau India tercatat sekitar US$3,74 miliar atau setara lebih dari Rp60 triliun (kurs saat ini), dengan volume ekspor yang dalam beberapa proyeksi terbaru diperkirakan mendekati 1,6–1,7 juta ton per tahun.
Pada akhirnya, sapi dan kerbau masih tetap ada di pasar. Yang pergi adalah pembelinya.
Dan yang paling dulu merasakan akibatnya bukan politisi—melainkan peternak dan pedagang kecil yang menggantungkan hidup pada satu musim penjualan setiap tahun.*




