Hidayatullah.com – Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengecam serangan ‘Israel’ terhadap ibukota Suriah, Damaskus yang menewaskan tiga orang dan melukai puluhan lainnya.
“Saya mengutuk serangan udara Israel baru-baru ini di Damaskus, yang sekali lagi melanggar kedaulatan Suriah dan mengakibatkan hilangnya nyawa tak berdosa,” kata Anwar Ibrahim melalui X pada Kamis (17/07/2025).
Penjajah ‘Israel’ melancarkan serangkaian serangan udara di Suriah, termasuk membom gedung Kementerian Pertahanan dan sekitar kantor kepresidenan.
Anwar menyebut serangan ini merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan Perjanjian Pelepasan 1974 antara Israel dan Suriah.
“Suriah telah mengalami kesulitan yang luar biasa selama dekade terakhir. Rakyatnya berhak atas perdamaian — bukan kekerasan atau campur tangan eksternal lebih lanjut,” imbuh Anwar.
Ia juga menyatakan solidaritas Malaysia terhadap rakyat Suriah dan mendesak agar penjajah ‘Israel’ mengakhiri pelanggaran HAM yang mereka lakukan.
Upaya Israel memecah belah Suriah
Pasca serangan tersebut, presiden sementara Suriah, Ahmad Al-Sharaa menyebut ‘Israel’ berupaya memecah belah rakyat Suriah dan menimbulkan kekacauan di negaranya dengan dalih mendukung komunitas minoritas Druze.
Sementara, pemimpin agama Druze, Sheikh Yousef Jarbou, mengecam serangan udara ‘Israel’ di Damaskus, yang menurut klaim zionis untuk melindungi komunitas Druze.
“Setiap serangan terhadap negara Suriah adalah serangan terhadap komunitas Druze,” ujar Jarbou kepada Al Jazeera berbahasa Arab.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengumumkan pada Rabu malam bahwa semua pihak, termasuk ‘Israel’, telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata.
Jarbou mengatakan bahwa kesepakatan tersebut mendapat dukungan luas di kota Suwaida, Suriah selatan, yang mayoritas penduduknya Druze. Ia juga menyatakan harapannya bahwa negara Suriah akan mengatasi hambatan yang ditimbulkan oleh upaya-upaya untuk menggagalkannya.*




