Hidayatullah.com– Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan risiko penyebaran virus mematikan Nipah rendah setelah tiga kasus infeksi yang terkonfirmasi di India dan Bangladesh belum lama ini.
Nipah, yang menyebar dari hewan ke manusia, sampai saat ini belum ada obatanya dan belum ada vaksin penangkalnya, dan memiliki tingkat kematian berkisar antara 40 sampai 75 persen, menurut WHO.
“Kurun beberapa pekan terakhir, tiga kasus Nipah – dua di India dan satu di Bangladesh – menjadi kepala berita dan menimbulkan kekhawatiran akan wabah yang meluas,” kata pimpinan WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers di Jenewa hari Rabu (11/2/2026) seperti dilansir AFP.
WHO mengakaji risiko penyebaran virus Nipah di tingkat regional dan global dan menemukan hasilnya rendah, imbuhnya.
Bulan lalu dua kasus Nipah dikonfirmasi negara bagian Bengal Barat sementara satu pasien meninggal dunia di Bangladesh pekan lalu setelah terjangkit virus itu.
“Kedua wabah tidak terkait, meskipun keduanya terjadi di sepanjang perbatasan India-Bangladesh, dan memiliki beberapa kondisi ekologis dan budaya yang sama, serta populasi spesies kelelawar buah yang dikenal sebagai penampung alami virus Nipah,” kata Tedros.
Nipah pertama kali teridentifikasi pada tahun 1998 setelah menyebar di kalangan peternak babi di Malaysia.
Di India, kasus wabah Nipah pertama terjadi di Bengal Barat pada 2001.
Pada tahun 2018, sedikitnya 17 orang kehilangan nyawa akibat Nipah di Kerala, dan pada tahun 2023, dua orang meninggal dunia akibat virus itu di wilayah negara bagian yang sama.
Gejala yang ditunjukkan antara lain demam, muntah, infeksi pernapasan, dan dalam kasus berat penderitanya bisa mengalami kejang dan peradangan otak yang dapat mengakibatkan koma.*




