Hidayatullah.com – Kelompok bersenjata Libanon, Hizbullah, mengumumkan mereka telah bergabung dalam konfrontasi militer usai serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Dalam pernyataan resminya, kelompok yang didukung Iran itu pada Ahad (01/03/2026) mengatakan telah menargetkan situs militer di Israel utara dengan serangkaian roket dan drone sebagai pembalasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Pernyataan itu juga menegaskan bahwa agresi berkelanjutan Israel selama lima belas bulan terakhir menjadi pembenaran serangan mereka.
Hizbullah memperingatkan bahwa tindakannya bertujuan untuk menghentikan pelanggaran Israel dan memaksa penarikan pasukan dari wilayah Lebanon.
Kelompok perlawanan itu menekankan bahwa operasinya adalah pembelaan diri yang sah dan mendesak otoritas regional untuk mengambil langkah-langkah untuk menghentikan agresi Israel dan AS lebih lanjut.
Sebelumnya, Hizbullah menyampaikan belasungkawa atas pembunuhan Khamenei, dan berjanji untuk bersolidaritas dengan Iran hingga kemenangan penuh tercapai.
Kelompok tersebut menyoroti kepemimpinan Khamenei selama beberapa dekade, menggambarkannya sebagai pembela kaum tertindas dan tokoh sentral dalam mendukung perjuangan Palestina.
Hizbullah menyatakan bahwa kematiannya adalah kesyahidan dan merayakan warisannya dalam memajukan kekuatan Iran, ilmu pengetahuan, militer, dan upaya perlawanan di seluruh wilayah.
Serangan Israel ke Libanon tewaskan puluhan orang
Pada Senin dini hari, Israel melancarkan serangan udara di Lebanon yang menewaskan sedikitnya 52 orang dan melukai 154 lainnya, kata pemerintah Lebanon dalam laporan terbaru.
Laporan korban sebelumnya yang dibagikan oleh Kementerian Kesehatan menyebutkan 31 orang tewas dan 149 luka-luka.
Pemboman di Lebanon selatan dan timur serta pinggiran selatan Beirut juga telah menyebabkan lebih dari 28.500 orang mengungsi, menurut unit penanggulangan bencana dan manajemen pemerintah.*




