Hidayatullah.com—Eskalasi konflik antara Amerika Serikat-’Israel’ mengeroyok Iran dinilai semakin meluas ke sejumlah negara di Timur Tengah. Pengamat internasional Pizaro Ghozali Idrus menyebut situasi kawasan berada dalam fase sangat rentan, terutama setelah runtuhnya gencatan senjata antara ‘Israel’ dan Hizbullah yang sebelumnya berlaku sejak November 2024.
“Kesepakatan itu sudah runtuh. ‘Israel’ kini membuka opsi invasi darat. Di sisi lain, pemerintah Lebanon justru membatasi aktivitas militer Hizbullah karena khawatir konflik dengan ‘Israel’ berubah menjadi perang internal di Lebanon,” ujar Pizaro dalam wawancara yang dipandu Surya Ginting ada Rabu (4/3/2026) di kalan Timteng Podcast.
Menurutnya, langkah Beirut menunjukkan kekhawatiran bahwa Lebanon tidak memiliki kapasitas militer dan stabilitas politik yang cukup untuk menghadapi perang terbuka.
Sementara itu, Suriah memperkuat perbatasannya dengan Irak dan Lebanon dengan mengerahkan ribuan tentara serta unit peluncur roket. Langkah tersebut dilaporkan oleh Al Jazeera dan juga disiarkan televisi pemerintah Suriah, Al-Ikhbariyah.
Pizaro menilai pengerahan itu sebagai bentuk mitigasi risiko di tengah situasi kawasan yang tidak stabil.
“Suriah sedang berada dalam fase konsolidasi internal. Mereka tak ingin wilayah perbatasan dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis atau menjadi pintu masuk infiltrasi di tengah konflik regional,” katanya.
Media ‘Israel’, Walla News, melaporkan adanya pergerakan pasukan dan persenjataan berat Suriah menuju area perbukitan di sekitar Dataran Tinggi Golan. Aktivitas tersebut dipantau intensif oleh militer ‘Israel’.
Dataran Tinggi Golan sendiri merupakan wilayah yang direbut ‘Israel’ dari Suriah pada 1967 dan hingga kini berstatus sengketa menurut hukum internasional.
Dalam wawancara tersebut, Pizaro juga menyoroti mobilisasi besar yang dilakukan penjajah ‘Israel’. Berdasarkan laporan Al Jazeera, ‘Israel’ memanggil sekitar 100 ribu tentara cadangan untuk memperkuat front Lebanon dan Golan.
“Mobilisasi sebesar itu menunjukkan ‘Israel’ sedang bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi multi-front. Ini bukan langkah kecil,” ujarnya.
Di kawasan Teluk, Iran disebut melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah target yang berkaitan dengan Amerika Serikat. Laporan media internasional menyebut ledakan terjadi di Dubai dan Abu Dhabi di Uni Emirat Arab, serta wilayah lain seperti Doha di Qatar.
Pizaro memperingatkan bahwa jika konflik Iran–’Israel’ mereda tanpa penyelesaian menyeluruh, Suriah berpotensi menjadi titik eskalasi berikutnya.
“Dalam kalkulasi geopolitik, Suriah relatif lebih rentan dibanding Turki. Jika ‘Israel’ ingin memperluas tekanan regional, Suriah bisa menjadi sasaran antara sebelum ketegangan meningkat ke aktor yang lebih besar,” katanya.
Ia menambahkan bahwa dinamika aliansi regional, termasuk hubungan Suriah dengan negara-negara Teluk, juga berpotensi memengaruhi arah konflik.
Hingga kini, saling serang antara Iran dan Amerika Serikat masih berlangsung. Washington dilaporkan tengah menyiapkan respons lanjutan, sementara negara-negara Arab berupaya mencegah konflik berkembang menjadi perang kawasan yang lebih luas.
Menurut Pizaro, beberapa hari ke depan akan menjadi penentu. “Jika tidak ada de-eskalasi diplomatik, maka potensi meluasnya konflik sangat terbuka,” ujarnya.*




