Orang awam sering mengatakan bahwa sejarah selalu berulang, namun para sejarawan justru mengatakan sebaliknya. Hal itu ditegaskan oleh Akmal Sjafril dalam kajian INSISTS Saturday Forum yang digelar pada Sabtu (18/04) di kantor INSISTS di bilangan Kalibata, Jakarta.
Dalam kajian bertajuk “’Sejarah Selalu Berulang’ dan Beberapa Kesalahan Fatal Lainnya dalam Memahami Sejarah” itu, Akmal menjelaskan bahwa sejarah itu tidak sesederhana yang dipahami oleh kebanyakan orang.
“Pada awalnya, sejarah dianggap sama dengan masa lampau. Mengetahui sejarah artinya mengetahui masa lampau dari sebuah peristiwa. Akan tetapi, merekonstruksi masa lampau secara sempurna adalah suatu pekerjaan yang tidak mungkin dilakukan, karena manusia hanya mengetahui sebagian kecil saja dari masa lampau itu,” ujarnya.
Untuk mengetahui masa lampau, manusia bergantung pada pengamatan manusia dan catatan. “Dari keseluruhan masa lampau, hanya sebagian saja yang teramati oleh manusia. Dari keseluruhan yang teramati, hanya sebagian saja yang tercatat. Dari keseluruhan catatan yang dibuat manusia, sebagiannya sudah hilang. Dari keseluruhan catatan yang sampai kepada kita itu, hanya sebagian saja yang sudah dianalisis oleh para sejarawan dan disampaikan kepada dunia. Nah, yang disampaikan oleh para sejarawan itulah sebenarnya yang saat ini kita sebut-sebut sebagai ‘sejarah’, yang sebenarnya hanya sebagian kecil saja dari masa lampau. Dari kepingan-kepingan masa lampau itu, para sejarawan mencurahkan daya dan upayanya untuk membayangkan masa lampau sebaik mungkin,” ungkap doktor sejarah jebolan Universitas Indonesia (UI) ini.
Karena membayangkan masa lampau itu begitu sulitnya, maka para sejarawan senantiasa tertarik dengan detil dari setiap peristiwa yang ditelitinya. “Salah seorang sejarawan terkemuka Indonesia, Prof. Kuntowijoyo, menyebutkan bahwa sejarah adalah ilmu tentang peristiwa tertentu, satu-satunya dan terperinci,” ujar Akmal lagi.
Ketika meneliti detil dari sebuah peristiwa itulah, menurut Akmal, akan terlihat bahwa setiap peristiwa itu sangat berbeda satu sama lainnya. Perang Dunia pertama dan kedua, meski namanya sama-sama Perang Dunia, namun terjadi karena faktor-faktor yang berbeda, terjadi di antara aktor-aktor yang berbeda, berjalan dengan proses yang berbeda, berakhir karena alasan yang berbeda, dan memberikan dampak yang berbeda pula.
“Perang Dunia pertama dan kedua, meskipun sama-sama menempatkan Jerman sebagai salah satu aktor utamanya, namun keduanya sangat berbeda di mata para sejarawan. Oleh karena itu, ketika sekarang orang ramai membicarakan kemungkinan terjadinya Perang Dunia ketiga, tidak ada yang langsung mengatakan bahwa Jerman akan kembali menjadi penyebabnya. Jerman di masa Kaiser Wilhelm II dan Hitler sangat berbeda dengan Jerman di masa kini,” papar Akmal.
Keyakinan bahwa sejarah selalu berulang itu bukan hanya salah, tetapi juga berbahaya. Menurut Akmal, keyakinan ini membuat umat Muslim cenderung simplistis dalam berpikir dan pasif dalam bertindak. “Kalau semuanya hanya pengulangan, artinya kita tidak perlu pusing-pusing memikirkan kemungkinan-kemungkinan baru. Kita cuma harus menunggu, misalnya dalam kasus pembebasan Palestina,” ungkap pendiri Sekolah Pemikiran Islam (SPI) ini.
Ketika diktator Suriah Basyar Assad digulingkan, banyak orang berharap agar Suriah dapat segera membebaskan Palestina. Harapan itu muncul karena Nuruddin Zanki dan Shalahuddin al-Ayyubi yang memimpin operasi pembebasan Palestina di zaman Perang Salib dahulu berasal dari wilayah yang sekarang disebut Suriah.
“Nuruddin Zanki adalah penguasa Halab atau Aleppo, yang sekarang merupakan wilayah Suriah. Akan tetapi, di zaman Nuruddin, Halab adalah wilayah yang sangat maju. Kota itu penuh dengan ulama dan cendekiawan, sehingga penduduknya unggul dan memiliki segala yang dibutuhkan untuk membebaskan Palestina. Adapun hari ini, Suriah masih berusaha membenahi diri, memulihkan luka-luka akibat dua kepemimpinan diktator dalam separuh abad. Tidak adil jika kita membebankan tanggung jawab pembebasan Palestina kepada mereka,” tandas Akmal.
Sebagaimana sejarawan yang memperlakukan setiap peristiwa sebagai sebuah kasus tersendiri, umat Muslim perlu benar-benar serius mengerahkan segala daya dan upayanya untuk memecahkan problematika zaman sekarang.
“Masa lampau dapat menjadi pelajaran, namun tidak bisa di-copy-paste begitu saja. Kita tetap harus mempertimbangkan segala faktor, karena kondisi zaman kita berbeda dengan zaman-zaman sebelumnya,” pungkas Akmal.*/SPI Media Center




