Hidayatullah.com – Uni Emirat Arab dilaporkan memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa mereka mungkin harus menjual sebagian minyaknya dalam yuan Tiongkok jika perang dengan Iran menyebabkan kekurangan dolar AS di Teluk, sebuah langkah yang dapat berdampak pada sistem petrodolar.
Negara-negara Teluk biasanya menjual minyak dalam dolar AS. Jika produsen minyak utama seperti UEA mulai menggunakan yuan Tiongkok sebagai gantinya, bahkan untuk beberapa penjualan, itu akan dipandang sebagai perkembangan signifikan di pasar energi global dan keuangan internasional.
Serangan Iran terhadap negara Teluk, sebagai tanggapan atas pemboman AS dan Israel terhadap Republik Islam, telah mengganggu aliran energi dan menimbulkan kekhawatiran tentang akses ke dolar.
Reuters melaporkan pada hari Selasa bahwa Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan sekutu Teluk dan Asia telah meminta jalur pertukaran mata uang, dan bahwa baik AS maupun UEA akan mendapat manfaat dari pengaturan tersebut. Jalur pertukaran adalah mekanisme darurat yang memberi suatu negara akses cepat ke dolar AS ketika pasar berada di bawah tekanan.
Laporan menyebutkan bahwa para pejabat UEA memperingatkan bahwa, jika pasokan dolar AS menipis secara signifikan, mereka mungkin tidak punya pilihan lain selain menggunakan mata uang lain, termasuk yuan, untuk beberapa transaksi minyak.
Tidak ada indikasi bahwa UEA akan meninggalkan dolar AS. Para analis mengatakan peringatan tersebut tampaknya, untuk saat ini, merupakan bagian dari upaya untuk mengamankan dukungan keuangan AS selama krisis. Hal ini terjadi di tengah kekhawatiran yang lebih luas tentang dampak keuangan perang terhadap Iran dan kerentanan ekonomi Teluk terhadap gangguan likuiditas dolar AS.
Setiap langkah menuju penjualan minyak berbasis yuan juga akan dipantau secara ketat oleh China, yang telah bertahun-tahun berupaya memperluas penggunaan mata uangnya secara internasional. Bahkan penggunaan yuan yang terbatas dalam penjualan minyak di Teluk kemungkinan akan mengintensifkan diskusi tentang “de-dolarisasi” dan peran dolar AS di masa depan dalam perdagangan energi global.*




