Hidayatullah.com – Para tentara penjajah Israel menjarah sejumlah besar harta benda dari rumah dan toko penduduk di Lebanon selatan, menurut laporan harian Haaretz. Aksi indisipliner itu dilakukan dengan sepengetahuan komandan mereka, imbuh laporan tersebut.
Israel telah mengumumkan kendali penuh atas 55 desa di Lebanon selatan sebagai bagian dari apa yang disebutnya “Garis Kuning,” melarang penduduk untuk kembali dan menyerang mereka yang mendekat.
Penjarahan bukanlah fenomena baru di kalangan tentara Israel. Selama dua tahun terakhir, sejumlah laporan mencatat insiden serupa selama perang genosida Gaza.
Haaretz mengutip tentara dan komandan lapangan di Lebanon selatan yang mengatakan bahwa pasukan reguler dan cadangan menjarah harta benda sipil dari rumah-rumah dan toko-toko.
“Pencurian sepeda motor, televisi, lukisan, sofa, dan karpet telah menjadi fenomena yang meluas dan berulang,” kata Haaretz pada Kamis (23/04/2026). Para komandan senior maupun lapangan mengetahui penjarahan tersebut namun tidak mengambil tindakan apapun untuk menghentikannya.
Menurut kesaksian tersebut, tentara memuat barang-barang curian ke dalam kendaraan mereka saat meninggalkan Lebanon tanpa berusaha menyembunyikannya.
‘Fenomena Gila’
Seorang prajurit Israel menggambarkan penjarahan di kalangan militer sebagai “fenomena gila.”
“Siapa pun yang mengambil sesuatu seperti TV, rokok, peralatan, atau apa pun segera memasukkannya ke dalam mobil mereka atau menyembunyikannya. Itu bukan rahasia. Semua orang melihat dan mengerti,” katanya.
Prajurit lain mengatakan beberapa komandan mengabaikan praktik tersebut, sementara yang lain mengutuknya tetapi menahan diri untuk tidak menghukum mereka yang terlibat.
“Komandan batalion dan brigade tahu segalanya dan mereka tidak mengeluh atau marah,” kata seorang prajurit.
Prajurit lain mengatakan seorang komandan pernah menangkap pasukan yang pergi dengan barang curian, meneriaki mereka dan memerintahkan mereka untuk membuang barang-barang tersebut, tetapi tidak ada penyelidikan yang dilakukan.
Prajurit ketiga mengatakan para komandan mengakui keseriusan masalah ini tetapi tidak mengambil tindakan.
Para prajurit mengatakan penjarahan telah memburuk karena kurangnya pengawasan.
“Ketika tidak ada hukuman, pesannya jelas. Jika mereka mengusir atau memenjarakan seseorang atau mengerahkan polisi militer di perbatasan, itu akan segera berhenti,” kata salah seorang prajurit.*




