Hidayatullah.com– Sedikitnya 880 warga sipil terbunuh dalam serangan drone di Sudan antara bulan Januari dan April tahun ini, menurut kantor HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang memperingatkan bahwa peningkatan penggunaan drone berisiko memperparah kekerasan dalam konflik yang sedang terjadi di negara Afrika itu.
Serangan drone di Sudan menyebabkan sedikitnya 880 kematian warga sipil – lebih dari 80 persen dari seluruh kematian warga sipil berkaitan dengan konflik kurun empat bulan pertama tahun ini, menurut Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights (OHCHR) seperti dilansir RFI Selasa (12/5/2026).
“Drone bersenjata kini menjadi penyebab utama kematian warga sipil,” kata Volker Turk, pimpinan OHCHR, dalam sebuah pernyataan, seraya menambahkan bahwa penggunaan drone memungkinkan pertempuran terus berlanjut “tanpa henti” di musim hujan, yang di masa lalu dianggap menjadi penghalang untuk dilakukannya serangan.
Puluhan ribu warga sipil tewas selama tiga tahun perang antara pasukan militer reguler pemerintah Sudan dengan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF), yang juga membuat lebih dari 11 juta orang kehilangan tempat tinggal dan menyebabkan kelaparan di sejumlah daerah.
“Kecuali tindakan segera diambil, konflik ini berada di ambang fase baru yang bahkan lebih mematikan,” kata Volker.
Sebagian besar serangan drone yang membunuh warga sipil tercatat di daerah Kordofan dan Darfur, meskipun drone juga kerap dipergunakan di daerah lain seperti di Nil Biri, Nil Putih dan di ibu kota Khartoum.
Drone berulang kali dipakai untuk menyerang infrastruktur sipil, melenyapkan akses ke pangan, air bersih dan perawatan kesehatan, kata OHCHR.
Pasar dan fasilitas-fasilitas kesehatan juga sering menjadi target.
Volker menyerukan tindakan tegas untuk mencegah pengiriman senjata, termasuk drone bersenjata canggih, kepada pihak-pihak yang bertikai.*




