Hidayatullah.com – Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Prof Dr Makmun Murad menilai pers memiliki posisi penting sebagai salah satu pilar demokrasi. Menurutnya, kekuatan pers perlu terus diarahkan untuk memperkuat perkembangan demokrasi di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Makmun dalam acara pemberian penghargaan kepada Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir, M.Si. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Dewan Pers Prof Komarudin Hidayat menyerahkan Kartu Wartawan Utama Khusus kepada Haedar Nashir sebagai bentuk penghargaan atas dedikasinya dalam dunia jurnalistik.
Haedar diketahui telah aktif sebagai wartawan sejak 1984, ketika masih berstatus sebagai mahasiswa. Kiprahnya di dunia pers menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam mengembangkan tradisi intelektual dan literasi di lingkungan Muhammadiyah.
Makmun berharap kekuatan pers tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga mampu mengambil peran strategis dalam membangun budaya demokrasi yang sehat.
Peringatan Hari Literasi Muhammadiyah yang diperingati setiap 13 Agustus juga menjadi momentum untuk memperkuat tradisi membaca, menulis, dan pengembangan ilmu pengetahuan di lingkungan persyarikatan.
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah Dr Muchlas, M.T. menjelaskan, penetapan 13 Agustus sebagai Hari Literasi Muhammadiyah terinspirasi dari sejarah berdirinya media pergerakan Suara Muhammadiyah
Menurutnya, tradisi membaca dan menulis telah menjadi bagian yang mengakar dalam kehidupan warga serta tokoh Muhammadiyah sejak lama.
Penambahan kata “literasi” dalam peringatan tersebut, kata Muchlas, menegaskan bahwa budaya literasi tidak hanya berkaitan dengan aktivitas jurnalistik, tetapi juga memiliki kaitan erat dengan pengembangan ilmu pengetahuan.
“Literasi tidak hanya berkaitan dengan kerja jurnalistik, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal MUI sekaligus Ketua MPW PP Muhammadiyah Amirsyah Tambunan yang hadir dalam kegiatan tersebut berharap Hari Literasi Muhammadiyah dapat menjadi momentum memperkuat ekosistem ilmu pengetahuan dan teknologi melalui media.
Menurut Amirsyah, keberadaan media di tengah perkembangan teknologi informasi telah menjadi kebutuhan penting masyarakat. Karena itu, penguatan literasi perlu dilakukan secara kolektif dan melibatkan berbagai elemen, termasuk dunia akademik.
Ia mendorong perguruan tinggi Muhammadiyah untuk mengambil peran lebih besar dalam memperkuat budaya literasi di lingkungan persyarikatan.
Amirsyah menilai literasi tidak semestinya dipahami secara sempit sebatas kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga mencakup kemampuan memahami, menganalisis, mengolah, dan memanfaatkan informasi secara tepat sehingga dapat menghasilkan pengetahuan serta solusi bagi persoalan kehidupan sehari-hari.
“Semua pihak harus memiliki kesadaran kolektif agar literasi tidak sekadar memiliki kemampuan untuk membaca, menulis, memahami, dan menganalisis, tetapi juga mampu menggunakan informasi untuk memberikan informasi yang solutif,” kata Amirsyah.
Ia menilai pemaknaan literasi yang terlalu sempit dapat menghambat perkembangan media dan ekosistem pengetahuan. Karena itu, dunia kampus perlu terus memperluas cakupan literasi dengan menyesuaikannya terhadap kebutuhan dan tantangan kehidupan modern.
Menurut Amirsyah, penguatan literasi juga dapat menjadi sarana untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai Islam wasathiyah atau moderasi Islam. Nilai tersebut dinilai penting dalam membangun masyarakat yang mampu menghadapi perkembangan informasi secara kritis, bijak, dan konstruktif.
Melalui sinergi antara pers, dunia akademik, dan organisasi kemasyarakatan, peringatan Hari Literasi Muhammadiyah diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat budaya membaca, menulis, berpikir kritis, serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di tengah masyarakat.




