Hidayatullah.com – Ribuan Muslimah Palestina di Gaza dilaporkan mengalami keguguran akibat perang genosida penjajah ‘Israel’ di wilayah terkepung itu.
Menurut laporan PBB dan Euro-Med Monitor, ribuan kasus keguguran itu akibat rusaknya pelayanan kesehatan, pengungsian paksa, terbatasnya kebutuhan penting ibu hamil dan kondisi kehidupan yang susah akibat perang dan blokade ‘Israel’.
“Terjadi hampir 4.000 keguguran di wilayah Gaza antara Januari dan Juni 2026, angka ini meningkat tiga kali lipat dibandingkan paruh kedua tahun 2026,” bunyi pernyataan Dana Kependudukan PBB (UNFPA) dikutip Quds News Network (09/08/2026). Jumlah ini belum termasuk kasus keguguran yang terjadi di luar rumah sakit.
UNPFA menyebut para ibu hamil di Jalur Gaza “mengalami kerawanan pangan, kekurangan gizi, berulang kali mengungsi, trauma psikologis dan kondisi hidup yang tidak sehat.”
Hal itu diperparah dengan tidak adanya perawatan prenatal, akses kesehatan termasuk obat-obatan hingga penanganan darurat jika terjadi masalah kehamilan.
Kasus Keguguran Melonjak
Sebuah laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Juli menyatakan bahwa indikator kesehatan seksual dan reproduksi di seluruh Gaza “terus memburuk” selama enam bulan pertama tahun 2026.
Mengutip petugas medis di Gaza, OCHA mencatat pada Juli hingga Desember 2025 terjadi 1.197 kasus keguguran. Pada Januari hingga Juni 2026, terjadi kenaikan kasus keguguran dengan 3.950 kasus.
PBB memperkirakan angka keguguran di wilayah tersebut mencapai 208,5 per 1.000 kelahiran hidup, setara dengan seperenam dari semua kehamilan.
Angka tersebut mencapai puncaknya pada bulan April, ketika lebih dari seperempat dari semua kehamilan di Gaza berakhir dengan keguguran.
Angka kelahiran di Jalur Gaza turun 3,2 persen sejak awal tahun dibandingkan dengan akhir tahun 2025, dan hampir setengah dari semua kelahiran dilakukan melalui operasi caesar, hampir semuanya karena pendarahan, hipertensi, dan infeksi pada ibu.
Menurut laporan PBB, sekitar 74 persen keguguran terjadi selama trimester pertama, dan 57 persen wanita hamil menderita anemia.
Tidak Hanya Keguguran
Para pejabat kesehatan di Gaza mengatakan mereka berupaya menangani lonjakan keguguran, yang mereka kaitkan langsung dengan perang genosida dan blokade ‘Israel’.
Tren ini memburuk karena runtuhnya sistem kesehatan Gaza akibat pemboman dan operasi darat penjajah ‘Israel’. Menurut mereka, kekurangan gizi dan tekanan psikologis menjadi akibat utama.
Para dokter mengatakan keguguran hanyalah satu bagian dari krisis. Mereka juga melihat lebih banyak bayi meninggal dalam kandungan, lebih banyak kelahiran prematur, dan lebih banyak komplikasi kehamilan yang berbahaya.
Dr. Ahmed Al-Farra, kepala bagian pediatri di rumah sakit tersebut, mengatakan kasus keguguran sangat mengkhawatirkan.
“Persentasenya meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan persentase sebelum perang,” katanya.
Ia mengatakan bahwa peningkatan penyakit ini disebabkan oleh kekurangan air, malnutrisi, dan stres.
“Kita telah mencapai titik di mana setiap orang hanya memiliki tiga liter air per hari, jauh di bawah kebutuhan minimum. Sembilan puluh persen air tidak layak minum. Kekurangan air menyebabkan infeksi, melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan memperburuk malnutrisi,” katanya.
“Kita juga melihat peningkatan anemia di kalangan wanita, pendarahan, dan hipertensi.”
Dr. al-Farra juga menghubungkan tren ini dengan jenis makanan yang masuk ke Gaza sejak gencatan senjata dimulai. Meskipun jumlah makanan telah meningkat secara signifikan, sebagian besar makanan tersebut diproses dan tinggi gula, minyak sawit, dan kedelai.
“Tubuh yang sudah terbiasa dengan kelaparan tidak akan mampu mengatasi ini,” katanya.
Dokter anak itu juga percaya bahwa beban psikologis setelah tiga tahun perang, bersama dengan polusi lingkungan, berkontribusi pada peningkatan penyakit.
“Stres ibu dapat menyebabkan perubahan dalam perkembangan neurologis, kecemasan, dan penyakit kardiovaskular. Racun lingkungan dapat menyebabkan gangguan reproduksi dan gangguan metabolisme.”
Menurut pernyataan Euro-Med Monitor pada hari Sabtu, antara Januari dan Juni 2026, lebih dari 3.950 kasus keguguran tercatat di seluruh Gaza.
Monitor tersebut menambahkan bahwa bahkan setelah gencatan senjata yang didukung AS yang mulai berlaku pada bulan Oktober, “ratusan ribu wanita di Gaza terus tinggal di tenda setelah militer Israel menghancurkan 90 persen rumah dan infrastruktur.”
Kelompok hak asasi manusia tersebut mencatat bahwa wanita hamil di Gaza telah terpapar “pemboman tanpa henti, ledakan, asap, dan guncangan psikologis akibat perang.”
Laporan tersebut menyebutkan bahwa perempuan di Gaza juga menghadapi peningkatan risiko bayi prematur, komplikasi selama persalinan, kurangnya perawatan bayi baru lahir, dan keadaan darurat kesehatan ibu yang sebenarnya dapat dicegah.*




