Hidayatullah.com – Suriah mengambil alih pangkalan udara Khmeimim dan Tartus serta mengalihfungsikan pangkalan-pangkalan militer Rusia menjadi pusat pelatihan bersama. Kesepakatan tertuang dalam memorandum of understanding (MoU) yang disahkan kemarin, kata Kementerian Luar Negeri Suriah.
Melansir TRT World pada Ahad (09/08/2026), berdasarkan MoU, Suriah akan mengambil alih pengelolaan fasilitas sipil, termasuk Bandara Khmeimim dan pelabuhan Tartus.
Sementara pangkalan dan fasilitas militer, yang sebelumnya dikuasai Rusia, akan dialihfungsi menjadi pusat pelatihan dan pengembangan kapasitas bersama.
Kedua pihak, dalam MoU, menetapkan jangka waktu maksimal tiga bulan untuk menyelesaikan transisi menuju pengaturan baru.
Kemenlu Suriah menggambarkan kesepakatan antara kedua negara ini sebagai “perkembangan paling signfikan” sejak negosiasi dilakukan sekitar 18 bulan lalu. Kesepakatan ini juga membuka jalan bagi fase baru hubungan Suriah-Rusia.
Dipakai Rusia secara Cuma-Cuma
Hmeimim, di provinsi Latakia, awalnya merupakan bandara sipil kecil sebelum Rusia mengubahnya menjadi pangkalan udara militer pada pertengahan tahun 2015 dan menjadikannya pusat utama operasi udara Rusia di Suriah.
Pada Oktober 2016, Presiden Rusia Vladimir Putin menyetujui perjanjian dengan rezim Suriah. Bashar al-Assad memberikan Moskow hak penggunaan pangkalan tersebut tanpa batas waktu dan secara gratis.
Kehadiran militer Rusia di sana dimulai sejak tahun 1971, ketika Moskow mendirikan fasilitas dukungan teknis dan logistik kecil.
Situs tersebut kemudian diperluas menjadi pangkalan angkatan laut setelah perjanjian tahun 2017 yang memberikan Moskow sewa gratis selama 49 tahun, yang secara otomatis dapat diperpanjang selama 25 tahun lagi.
Perjanjian tahun 2017 memberikan Rusia yurisdiksi atas fasilitas tersebut di area yang disewa dan memungkinkannya untuk menampung hingga 11 kapal perang secara bersamaan, termasuk kapal bertenaga nuklir dan kapal selam.
Rusia memberikan dukungan militer dan politik kepada rezim Assad bahkan ketika mereka secara brutal menindas oposisi rakyat dari tahun 2011 hingga 2024. Assad akhirnya melarikan diri ke Rusia pada 8 Desember 2024.*




