Hidayatullah.com– Setelah Bertahun-tahun mengungsi kelompok pertama terdiri dari ratusan orang Kurdi Suriah hari Senin (10/8/2026) menuju kota Ras al-Ain di sekitar perbatasan Suriah, beberapa bulan menyusul kesepakatan integrasi antara Kurdi dan pemerintah Damaskus.
Kesepakatan bulan Januari menyetujui peleburan pasukan institusi sipil Kurdi menjadi bagian dari negara Suriah termasuk kepulangan orang-orang Kurdi ikut mengungsi selama perang saudara yang pecah pada tahun 2011. Orang Kurdi penduduk Ras al-Ain masih menunggu, sehingga memicu permintaan supaya pihak berwenang Suriah membantu kepulangan mereka.
Puluhan ribu warga Kurdi mengungsi ketika Turki dan sekutunya pejuang Suriah merebut sebidang wilayah berpenduduk mayoritas Arab di sepanjang perbatasan Turki, termasuk Ras al-Ain, dari kendali Kurdi pada tahun 2019.
Jawan Isso, dari sebuah komite yang mewakili para pengungsi dari Ras al-Ain, mengatakan kepada AFP bahwa “gelombang pertama” yang terdiri dari sekitar 2.500 orang dalam perjalanan pulang menuju kampung mereka pada hari Senin.
“Langkah ini adalah hasil dari usaha semua pihak dan koordinasi yang berkelanjutan” antara pemerintah Damaskus dan otoritas Kurdi, katanya, seraya menambahkan bahwa gelombang kedua akan berangkat dalam beberapa hari mendatang.
Seorang koresponden AFP melihat puluhan truk berisi furnitur dan barang-barang lain menunggu aba-aba untuk berangkat dari kota dekat Ras al-Ain, Hasakeh, sementara kaum pria, wanita dan anak-anak tampak bersemangat berangkat untuk kembali pulang ke kampung mereka.
“Saya sudah menunggu waktu ini… ini seperti mimpi bagi seseorang bisa pulang kembali ke rumah,” kata Nora Khodor, 37 tahun, salah satu orang Kurdi yang kembali.
“Saya senang karena penderitaan ini berakhir,” katanya kepada AFP.
Organisasi-organisasi hak asasi manusia mengatakan rumah dan barang-barang milik warga disita atau dijarah setelah serangan tersebut.
Sebagian dari para petempur kemudian menetap di daerah itu bersama keluarga mereka, dan beberapa di antaranya dikabarkan masih tinggal di Ras al-Ain, wilayah di timur laut Suriah yang dulunya merupakan daerah pemukiman campuran etnis yang dikenal sebagai Sari Kani dalam bahasa Kurdi.
Turki melancarkan serangan-serangan atas pasukan pimpinan Kurdi di bagian utara Suriah di masa perang sipil sebelum penggulingan rezim Bashar Assad, karena menganggap militan Kurdi di Suriah itu merupakan kepanjangan tangan dari organisasi Partai Pekerja Kurdistan yang dinyatakan terlarang di Turki.
Menyusul kejatuhan rezim Assad pada Desember 2024, pemerintah baru Suriah berhasil memulihkan kendali wilayah ke pemerintah pusat termasuk daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai pasukan Kurdi.
“Kami sangat senang bisa pulang,” kata Rawda Mohammed, 39.
“Saya bertanya tentang rumah saya. Mereka bilang sudah hancur seluruhnya, tapi kami tidak putus asa karena kami senang bisa kembali, dan kalau sudah sampai di sana kita lihat apa yang nanti bisa dilakukan,” imbuhnya.
Saat ini sekitar 5,5 juta orang Suriah masih menjadi pengungsi di dalam negaranya sendiri akibat perang sipil 13 tahun, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Komite yang mewakili orang-orang yang kehilangan tempat tinggal asal Ras al-Ain hari Senin (10/8) mengatakan bahwa pemulangan kelompok pertama tersebut merupakan langkah awal menuju pemulangan secara keseluruhan, dan menegaskan perlunya untuk melindungi hak milik, perumahan, dan tanah serta menyediakan layanan dasar dan infrastruktur bagi para pengungsi yang kembali.*




