Hidayatullah.com – Kesepakatan pertahanan baru yang dibentuk Arab Saudi, Turki dan Pakistan tidak hanya mendapat sambutan, namun juga kritikan dan sikap sinis. Termasuk dari negara Teluk sendiri, yakni Uni Emirat Arab.
Tokoh-tokoh terkenal Emirat dan Saudi bahkan secara terbuka berdebat di media sosial.
“Pakta Pertahanan Meekah”, yang ditandatangani pada 7 Agustus, mewajibkan ketiga negara untuk memperlakukan serangan bersenjata terhadap satu negara sebagai serangan terhadap semua negara.
Perjanjian tersebut memicu kritik keras dari beberapa tokoh terkenal Emirat. Mereka mempertanyakan apakah Riyadh melangkahi kerangka keamanan regional yang telah dibentuk oleh GCC.
GCC adalah blok regional yang terdiri dari monarki-monarki kaya energi Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Abdulkhaleq Abdulla, seorang analis politik dan mantan ajudan Presiden UEA Mohammed bin Zayed, menjadi salah satu tokoh UEA yang berulang kali mengkritik dan bersikap sini terhadap perjanjian baru tersebut.
“Selamat atas pembentukan aliansi ini, tetapi memperkuat kerja sama militer dan politik Teluk serta mempersatukan negara-negara Teluk jauh lebih penting daripada berinvestasi dalam kerja sama militer dan politik regional yang mencakup negara-negara yang kredibilitas dan kemampuannya untuk menghadapi ancaman Iran-Israel tidak dianggap serius,” tulis Abdulla dalam salah satu ciutannya di X.
“Salah satu syarat keberhasilan aliansi apa pun adalah mengidentifikasi musuh bersama. Jadi, siapa musuh bagi negara-negara dalam aliansi ini?” imbuhnya.
Unggahan tersebut langsung mendapat bantahan dari Pangeran Saudi Abdulrahman bin Musaid, yang mengatakan bahwa perjanjian tersebut adalah masalah kedaulatan nasional dan mempertanyakan mengapa kalangan akademisi UEA tampaknya secara unik terganggu oleh pilihan strategis Riyadh.
“Apa masalahnya, Dokter, jika itu adalah aliansi, perjanjian, kesepakatan, atau dengan bentuk apa pun?” komentar Abdulrahman.
“Bagaimana ini bisa bertentangan dengan penyatuan negara-negara Teluk? Bukankah hak setiap negara untuk membuat perjanjian dengan negara mana pun sesuai dengan apa yang dianggapnya sebagai pencapaian kepentingannya?” tambah Abdulrahman.
Fahad al-Arabi al-Harthi, ketua Pusat Studi dan Penelitian Asbar, juga menolak tuduhan tersebut, menyatakan bahwa perjanjian Mekkah bukanlah “aliansi” yang ditujukan kepada siapa pun, karena perjanjian itu tidak dibangun berdasarkan identifikasi musuh bersama, tetapi berdasarkan “membangun kapasitas kolektif untuk pencegahan dan pertahanan, serta melindungi keamanan dan stabilitas dalam menghadapi ancaman dari pihak mana pun”.
Pengguna media sosial Saudi lainnya kurang diplomatis, dengan salah satu komentator bertanya apakah UEA telah memberi tahu negara-negara Teluk sebelum menjalin hubungan dengan Israel, merujuk pada Perjanjian Abraham 2020. “Saya bertanya-tanya, apakah UEA memberi tahu dan memberitahu negara-negara Teluk sebelum bersekutu dengan entitas Zionis?”
Saat perdebatan semakin intensif, Abdulla melangkah lebih jauh dengan memposting pesan yang ditafsirkan banyak orang sebagai penolakan langsung terhadap aliansi pan-Islam atau trilateral demi kepentingan nasional murni.
“Barangsiapa yang sektenya lebih penting daripada tanah airnya, tidak ada keselamatan baginya… Barangsiapa yang bangsanya, Arab atau Islam, lebih penting daripada tanah airnya, tidak ada keselamatan baginya,” tulis Abdulla.
“Rasa memiliki, kesetiaan, dan ketulusan hanya untuk tanah air, tanpa sekutu.”
Abdulaziz al-Tuwaijri, mantan kepala Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Dunia Islam (ISESC), membalas cuitan tokoh Emirat tersebut dengan menyinggung hubungan UEA dengan ‘Israel’, dengan menyatakan: “Siapa pun yang mengkhianati dan berkolaborasi dengan Zionis tidak akan pernah menemukan keamanan.”*




