Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Kelas SPI: Teguh dengan Konsep Din, Lawan Penyimpangan Literasi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Oktober 2026 20:19 8:19 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Oktober 2026 20:19
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com – Pertemuan ketujuh Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta menyajikan tema ‘Diskusi Literasi’ dengan metode penyampaian materi yang segar dan merangsang kemampuan bernalar kritis serta public speaking peserta. Para peserta dibagikan kertas berisi artikel empat-halaman sebelum Akmal Sjafril, Kepala Sekolah SPI Pusat, membuka kelas di Aula INSISTS, Kalibata, Rabu malam (21/10).

Kini memegang salinan artikel yang sama, seluruh peserta tampak terpaut membaca tajuk artikel: ‘Julia Indiati Suryakusuma: Saya Tidak Percaya Agama, tapi Percaya Tuhan.’

Biasanya, kelas SPI disampaikan melalui rangkaian presentasi yang ditampilkan melalui layar proyektor. Datang dengan metode yang berbeda, Sjafril menerangkan alur pembelajaran perkuliahan kali ini, “Kalau saya selesai baca, yang ingin mengomentari silakan ngacung. Boleh cari kesalahan atau bertanya.”

Artikel dengan judul di atas berisikan wawancara yang dilaksanakan oleh Ulil Abshar-Abdalla, seorang tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL), kepada Julia Indiati Suryakusuma, seorang sosiolog dan tokoh feminisme Indonesia. Dituliskan dengan format tanya-jawab, Abshar-Abdalla melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada Suryakusuma yang berkutat pada latar belakang  dan perjalanan hidup Suryakusuma sehingga mengantarkannya pada konsep keyakinan yang dianutnya sekarang.

Setiap pembacaan paragraf, pendiri SPI itu berhenti dan memberikan kesempatan bagi para peserta untuk mencari kontradiksi yang jelas nampak dari jawaban sosiolog tesebut. Para peserta sahut-sahutan memberi tanggapan dan kritikan terhadap jawaban “Mbak Julia,” begitu disebutnya.

Baca Juga

Cegah Data Jatuh ke Tangan ‘Israel’, Malaysia Larang ASN Pakai Waze
Terus Langgar Gencatan Senjata, Serangan ‘Israel’ Bunuh 4 Warga Palestina
Sepakati ‘Badr’, Indonesia Perkuat Kerjasama Pertahanan dengan Turki, Qatar dan Pakistan
Jelang Pemilu ‘Israel’, Trump Dukung Netanyahu Terpilih Kembali
Iran Sebut Puluhan Pesawat Maskapai Nasional Hancur dalam Serangan AS-Israel

Lulusan Doktoral Ilmu Sejarah Universitas Indonesia itu menyampaikan, “Ketika mau berdebat, cara paling mudah adalah untuk mencari kontradiksi lawan bicara.” Ia melanjutkan, “Pemikiran yang sesat itu pasti kontradiksinya banyak karena bukan berasal dari ilmu pasti. Adapun kita mempelajari tauhid yang semua aspeknya berasal dari Allah, maka tidak mungkin ada kontradiksi di dalamnya.”

Fildza, salah seorang peserta dari Jakarta Utara, menyampaikan frustrasinya ketika mengulik artikel kelas malam itu, “Gemes, tapi sudah cukup familiar dan tidak kaget dengan orang yang punya pemikiran seperti itu.” Ia mengaku sering melihat kontradiksi-kontradiksi serupa di laman X.  Menurut pengamatannya, dua orang yang mengaku menganut ideologi yang sama pun bisa jadi memiliki argumen yang bertentangan dalam berdebat sebab rujukannya tidak jelas. “Karena ideologi mereka datangnya dari manusia, jadi nggak punya pakem yang jelas dan akhirnya kontradiktif. Sedangkan muslim, mungkin level pemahaman dan menjalankan syariatnya beda-beda, tapi aturannya bersumber dari kitab yang sama,” simpulnya menggabungkan realita kasus yang didapatinya dengan ilmu diskusi literasi yang dipaparkan malam ini.

Kepala Sekolah SPI Pusat itu menyampaikan harapannya lepas kelas malam ini agar para peserta dapat ‘naik level’ dari menjadi pengamat yang frustasi menjadi pengkritik yang literat. Ia mengutip gagasan Prof. Syed Naquib Alattas, tokoh mujaddid Islamisasi Ilmu, tentang manusia sebagai hayawan natiq ‘makhluk yang berbicara’ dan hubungannya dengan mantiq ‘logika’. “Ada keterikatan yang jelas antara bahasa dan logika. Sebagai pemuda, kita harus bisa mengelaborasi. Seseorang yang pikirannya saja kacau, pasti tidak akan memiliki arahan atau logika yang jelas ketika berbicara,” begitu peringatan Sjafril kepada para peserta agar memegang teguh konsep din sebagai poros ilmu dan menyadari kewajiban berpikir sebagai seorang muslim.*/Kalila Nooraya Sugarda

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Akmal SjafrilHeadlineinsistislamic worldviewSekolah Pemikiran Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jihad Santri di Era Modern
Tulisan selanjutnya Cegah Data Jatuh ke Tangan ‘Israel’, Malaysia Larang ASN Pakai Waze

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

19 Orang Tewas Akibat Berdesakan saat Festival Hindu Durga Puja India

Berita
19 Oktober 2026 21:48
Terus Langgar Gencatan Senjata, Serangan ‘Israel’ Bunuh 4 Warga Palestina
Kelas SPI: Teguh dengan Konsep Din, Lawan Penyimpangan Literasi
Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
Sepakati ‘Badr’, Indonesia Perkuat Kerjasama Pertahanan dengan Turki, Qatar dan Pakistan

Terbaru

  • Cegah Data Jatuh ke Tangan ‘Israel’, Malaysia Larang ASN Pakai Waze
  • Kelas SPI: Teguh dengan Konsep Din, Lawan Penyimpangan Literasi
  • Jihad Santri di Era Modern
  • Terus Langgar Gencatan Senjata, Serangan ‘Israel’ Bunuh 4 Warga Palestina
  • Sepakati ‘Badr’, Indonesia Perkuat Kerjasama Pertahanan dengan Turki, Qatar dan Pakistan
  • Jelang Pemilu ‘Israel’, Trump Dukung Netanyahu Terpilih Kembali
  • Iran Sebut Puluhan Pesawat Maskapai Nasional Hancur dalam Serangan AS-Israel
  • Jutaan Dolar Dana Nasabah Syariah HSBC Diduga Mengalir ke Perusahaan Senjata terkait ‘Israel’
  • 60 Ribu Anak Palestina Jadi Yatim Akibat Perang Genosida Zionis ‘Israel’
  • Makin Banyak Pemukim ‘Israel’ yang Hindari Wajib Militer, Jumlahnya Tembus 110.000

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Jutaan Dolar Dana Nasabah Syariah HSBC Diduga Mengalir ke Perusahaan Senjata terkait ‘Israel’

20 Oktober 2026 13:59
Berita

60 Ribu Anak Palestina Jadi Yatim Akibat Perang Genosida Zionis ‘Israel’

20 Oktober 2026 13:24
Yahudi Haredi Wajib Militer
Berita

Makin Banyak Pemukim ‘Israel’ yang Hindari Wajib Militer, Jumlahnya Tembus 110.000

20 Oktober 2026 13:10
Berita

Halal Ditunda, Kepastian Dipertaruhkan?

19 Oktober 2026 16:57
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?