Hidayatullah.com – Pertemuan ketujuh Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta menyajikan tema ‘Diskusi Literasi’ dengan metode penyampaian materi yang segar dan merangsang kemampuan bernalar kritis serta public speaking peserta. Para peserta dibagikan kertas berisi artikel empat-halaman sebelum Akmal Sjafril, Kepala Sekolah SPI Pusat, membuka kelas di Aula INSISTS, Kalibata, Rabu malam (21/10).
Kini memegang salinan artikel yang sama, seluruh peserta tampak terpaut membaca tajuk artikel: ‘Julia Indiati Suryakusuma: Saya Tidak Percaya Agama, tapi Percaya Tuhan.’
Biasanya, kelas SPI disampaikan melalui rangkaian presentasi yang ditampilkan melalui layar proyektor. Datang dengan metode yang berbeda, Sjafril menerangkan alur pembelajaran perkuliahan kali ini, “Kalau saya selesai baca, yang ingin mengomentari silakan ngacung. Boleh cari kesalahan atau bertanya.”
Artikel dengan judul di atas berisikan wawancara yang dilaksanakan oleh Ulil Abshar-Abdalla, seorang tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL), kepada Julia Indiati Suryakusuma, seorang sosiolog dan tokoh feminisme Indonesia. Dituliskan dengan format tanya-jawab, Abshar-Abdalla melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada Suryakusuma yang berkutat pada latar belakang dan perjalanan hidup Suryakusuma sehingga mengantarkannya pada konsep keyakinan yang dianutnya sekarang.
Setiap pembacaan paragraf, pendiri SPI itu berhenti dan memberikan kesempatan bagi para peserta untuk mencari kontradiksi yang jelas nampak dari jawaban sosiolog tesebut. Para peserta sahut-sahutan memberi tanggapan dan kritikan terhadap jawaban “Mbak Julia,” begitu disebutnya.
Lulusan Doktoral Ilmu Sejarah Universitas Indonesia itu menyampaikan, “Ketika mau berdebat, cara paling mudah adalah untuk mencari kontradiksi lawan bicara.” Ia melanjutkan, “Pemikiran yang sesat itu pasti kontradiksinya banyak karena bukan berasal dari ilmu pasti. Adapun kita mempelajari tauhid yang semua aspeknya berasal dari Allah, maka tidak mungkin ada kontradiksi di dalamnya.”
Fildza, salah seorang peserta dari Jakarta Utara, menyampaikan frustrasinya ketika mengulik artikel kelas malam itu, “Gemes, tapi sudah cukup familiar dan tidak kaget dengan orang yang punya pemikiran seperti itu.” Ia mengaku sering melihat kontradiksi-kontradiksi serupa di laman X. Menurut pengamatannya, dua orang yang mengaku menganut ideologi yang sama pun bisa jadi memiliki argumen yang bertentangan dalam berdebat sebab rujukannya tidak jelas. “Karena ideologi mereka datangnya dari manusia, jadi nggak punya pakem yang jelas dan akhirnya kontradiktif. Sedangkan muslim, mungkin level pemahaman dan menjalankan syariatnya beda-beda, tapi aturannya bersumber dari kitab yang sama,” simpulnya menggabungkan realita kasus yang didapatinya dengan ilmu diskusi literasi yang dipaparkan malam ini.
Kepala Sekolah SPI Pusat itu menyampaikan harapannya lepas kelas malam ini agar para peserta dapat ‘naik level’ dari menjadi pengamat yang frustasi menjadi pengkritik yang literat. Ia mengutip gagasan Prof. Syed Naquib Alattas, tokoh mujaddid Islamisasi Ilmu, tentang manusia sebagai hayawan natiq ‘makhluk yang berbicara’ dan hubungannya dengan mantiq ‘logika’. “Ada keterikatan yang jelas antara bahasa dan logika. Sebagai pemuda, kita harus bisa mengelaborasi. Seseorang yang pikirannya saja kacau, pasti tidak akan memiliki arahan atau logika yang jelas ketika berbicara,” begitu peringatan Sjafril kepada para peserta agar memegang teguh konsep din sebagai poros ilmu dan menyadari kewajiban berpikir sebagai seorang muslim.*/Kalila Nooraya Sugarda




