Hidayatullah.com– Dua pesawat tempur dan sebuah pesawat angkut Prancis dalam waktu dekat akan singgah di Chad dan melakukan “kegiatan pelatihan”, kata militer Prancis, di saat kedua negara berusaha membina kembali hubungan pertahanan guna mengatasi berbagai masalah keamanan termasuk memerangi milisi Muslim di kawasan Sahel.
Persinggahan itu akan menjadi bagian dari latihan militer bersama yang melibatkan angkatan bersenjata negara Pantai Gading (Côte d’Ivoire), Gabon dan Prancis pada bulan November ini, lansir RFI Jumat (30/10/2026).
Xavier Rival, seorang juru bicara untuk Kepala Staf Keamanan Prancis, hari Kamis (29/10) menggunakan bahwa dua jet tempur Prancis Mirage 2000 dan sebuah pesawat angkut Prancis CASA akan melakukan persinggahan teknis di Chad.
“Kunjungan itu akan berlangsung singkat dan membuka peluang untuk menggelar kegiatan pelatihan,” katanya.
Hubungan antara Prancis dan Chad mulai memburuk pada pertengahan 2024.
Hubungan tersebut putus ketika pemimpin Chad Mahamat Idriss Déby Itno secara resmi menghentikan kesepakatan kerja sama militer dengan Prancis pada November 2024.
Langkah itu menyebabkan penarikan sepenuhnya pasukan Prancis dari negara Afrika tersebut pada awal 2025.
Rival mengatakan kerja sama Prancis dengan Chad sudah dipulihkan, “dengan menghormati sepenuhnya kedaulatan Chad”.
Dia menjelaskan militer Prancis akan membantu membangun kapabilitas Angkatan Udara Chad.
“Tujuan Prancis adalah berkontribusi dalam upaya-upaya mengatasi instabilitas regional,” imbuhnya.
Chad merupakan salah satu basis militer terakhir Prancis di Sahel, kawasan tempat Paris pernah mengerahkan lebih dari 5.000 tentara sebagai bagian dari kampanye anti-jihadis Operasi Barkhane , yang berakhir pada bulan November 2025.
Kudeta-kudeta yang terjadi antara tahun 2020 dan 2023 memaksa Prancis untuk menarik diri dari Mali, Burkina Faso, dan Niger, karena junta di negara-negara tersebut semakin merapat ke Rusia.
Sejak itu, Prancis dan Chad berupaya untuk membina kembali hubungan mereka, sekaligus memperluasnya hingga mencakup kerja sama ekonomi dan budaya serta bantuan militer.
Presiden Emmanuel Macron menjamu Déby guna menggelar perundingan-perundingan pada pertengahan Oktober, sebagai bagian dari upaya membangun kembali hubungan kedua negara. Kunjungan tersebut merupakan lanjutan dari kunjungan lain pada bulan Januari.
Dalam lawatan Déby terakhir, Prancis dan Chad menandatangani declaration of intent (DoI) untuk menjalin kembali kerja sama pertahanan kedua negara.
Macron berupaya memperbarui keterlibatan Prancis dengan Afrika setelah bertahun-tahun hubungan yang tegang dengan bekas koloni-koloni berbahasa Prancis di Afrika.
Di bidang ekonomi, serikat pengusaha terkemuka Prancis, Medef, menyelenggarakan forum bisnis Prancis-Chad pada bulan September, yang mempertemukan 250 perusahaan untuk mendorong investasi.
Istana Kepresidenan Élysée mengatakan Medef berencana untuk mengirim delegasi ke Chad dalam beberapa bulan ke depan.
Chad bertekad untuk mengumpulkan €26,5 miliar dalam bentuk investasi publik dan swasta serta meningkatkan PDB-nya sebesar 60 persen pada tahun 2030.*




