Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Surat Pembaca

Hey Jakarta, Ingatlah Kemarau !

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 April 2011 08:02 8:02 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 April 2011 08:02
Bagikan
Bagikan

Hey Jakarta, Ingatlah Kemarau !

SUDAH hampir dua minggu pompa air di rumah menyala lebih lama dari sebelumnya. Segera kami panggilakan tukang servis pompa air di sekitaran Condet ke rumah memeriksanya. Ternyata tidak ada kerusakan, dan si juru ahli hanya menyarankan agar menghemat penggunaan air dari sekarang karena musim kemarau telah tiba. Penasaran mendengar berita buruk tersebut, kami mencoba menginterogasi tetangga-tetangga kami di kawasan Sawo Manila Pejaten, Jakarta Selatan. Beruntunglah keluhan pompa air di rumah juga dirasakan warga sekitar.

Fenomena di atas mengingatkan kami pada tahun millennium, di mana negeri ini dilanda panas kemarau yang membuat petani putus asa dan sebagian masyarakat harus membeli air setiap harinya.

Meski saat itu kran di rumah kami masih mengucurkan rintihan air kecil, namun bila dikalkulasi secara pengeluaran biaya warga sekitar yang membeli air sanksinya sama, alias sama-sama dipaksa menambah struk kebutuhan rumah tangga. Hal itu disebabkan karena listrik yang menghidupkan pompa air berjam-jam setiap harinya, sehingga kami dituntut melunasi tagihan listrik yang membengkak. Kenyataan ini sebenarnya dirasa tidak adil jika pemerintah mewajibkan pungutan Pajak Bumi Bangunan(PBB) setiap tahun, sementara air yang terkandung di dalam bumi dipersulit oleh monopoli Perusahaan Listrik Negara(PLN).

Sejak Oktober 2010, pusat BMG terlihat kikuk memprediksi cuaca ekstrim yang bakal menimpa Jakarta. Adakalanya hujan deras, namun resapan air tidak sempurna diakibatkan lapisan aspal dan jutaan beton yang menancap ibukota. Tak khayal jika curah hujan melarikan diri ke sungai-laut tanpa sempat menghampiri kantong air di bawah rumah-rumah penduduk. Mungkin esok hujan, tapi hanya sekedar penghilang debu. Minggu ini mungkin hujan beruntun, tapi hanya kolam kobokan di ruas-ruas pemukiman kota.

Baca Juga

22 Tahun Wahdah Eksis jadi Ormas
Harga Telur Melambung Tinggi, Bagaimana Islam Mengatasi?
Lemahnya Agama, Penyebab Munculnya Pergaulan Bebas
Uang Kripto sebagai ‘People Money’
Hari HAM Sedunia, Muslim Thailand Selatan Masih dalam Tekanan dan Diskriminasi

Sekarang warga di kawasan Pejaten mulai khawatir jika bencana kemarau di tahun 1999 akan terulang. Gejalanya sudah dirasakan, mulai dari jet pompa yang memakan listrik berlebih dan menyusutnya dorongan air yang mengucuri drum induk di rumah.

Yang kami cemaskan adalah kami tidak lagi memiliki lapangan bola, yang dahulu biasa kami gunakan untuk sholat berjamaah meminta diturunkannya hujan. Itupun permohonan kami tidak terkabul, mengingat faktor kemaksiatan yang masih menggurita di lingkungan kami.

Tetapi ini benar-benar berbeda ketika pada saat yang bersamaan (1999) saya diminta ayah menemani pergi melawat ke Solo, atas meninggalnya pakde Slamet Siswoyo di kediamannya Tipes, Surakarta. Dua hari setelah meninggalnya almarhum, saya diajak bibi Sumaryati mengikuti sholat berjamaah meminta diturunkannya hujan yang di imami oleh Kiai Abubakar Baasyir, di lapangan Pringgolayan.

Siang itu jamaah begitu khusyu’ menjalani sholat hingga ada beberapa orang yang menangis ketakutan. Abubakar Baasyir juga melinangkan air matanya saat berdoa, seraya menghimbau jamaah yang hadir agar benar-benar bertaubat dan mengingkari segala bentuk kemungkaran (baik maksiat kecil dan maksiat besar). Sayapun merinding mendengar ketulusan doa sang imam yang begitu takut akan ancaman Allah. Subhanallah.. tepat malam harinya hujan lebat mengguyur kota Solo yang membuat kami ternyenyak dalam tidur.

Mungkin orang-orang di luar sana menganggap keajaiban di atas hanya kebetulan saja, tapi di tahun-tahun sebelumnya warga di bilangan Cemani-Grogol Surakarta gemar melakukan ibadah itu di kala kemarau hadir ditengah-tengah mereka. Dan tentunya dibarengi aktivitas memerangi kemaksiatan, yang pada hakikatnya kemaksiatan menghalangi terkabulnya suatu doa.

Mudah-mudahan Ustad Abu tetap istiqomah di dalam lapas dan tetap setia mendoakan keselamatan umat Islam di Indonesia.

Kami mewakili umat Islam awam di Indonesia sebenarnya sudah tahu akan keculasan picik yang dituduhkan Ustad Abu yang senantiasa di garis lurus. Kami merindukan beliau seperti halnya kami menyayangi eyang kami sendiri. Semoga para pemimpin negeri yang sedang berpura-pura Islam segera sadar menghentikan sifat rakusnya membudak-dirikan kepentingan asing, yang tidak lain hanya menguntungkan Negara lain dibalik kerugian fatal rakyatnya sendiri. Sebelum akhirnya kemarau membuat Allah gerah mengkipaskan jabatannya dengan petaka yang tidak disangka-sangka. Maha benar Allah yang mengkehendaki kesengsaraan rakyat Indonesia di tangan orang-orang zalim.

Johan Pranata, mahasiswa Trisakti (Ekonomi Perbankan)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Film “?”: Apa Maunya?
Tulisan selanjutnya Tiga Jemaah Ahmadiyah Tasikmalaya Tobat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta

Berita
16 Oktober 2026 14:29
Mesir Tegaskan Siap Bela Arab Saudi di Tengah Meningkatnya Serangan Houthi
Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
60 Ribu Anak Palestina Jadi Yatim Akibat Perang Genosida Zionis ‘Israel’
Arab Saudi Tembak Jatuh 4 Drone di Riyadh dan Dua Wilayah Lain

Terbaru

  • Jelang Pemilu ‘Israel’, Trump Dukung Netanyahu Terpilih Kembali
  • Iran Sebut Puluhan Pesawat Maskapai Nasional Hancur dalam Serangan AS-Israel
  • Jutaan Dolar Dana Nasabah Syariah HSBC Diduga Mengalir ke Perusahaan Senjata terkait ‘Israel’
  • 60 Ribu Anak Palestina Jadi Yatim Akibat Perang Genosida Zionis ‘Israel’
  • Makin Banyak Pemukim ‘Israel’ yang Hindari Wajib Militer, Jumlahnya Tembus 110.000
  • 19 Orang Tewas Akibat Berdesakan saat Festival Hindu Durga Puja India
  • Halal Ditunda, Kepastian Dipertaruhkan?
  • Mesir Tegaskan Siap Bela Arab Saudi di Tengah Meningkatnya Serangan Houthi
  • Arab Saudi Tembak Jatuh 4 Drone di Riyadh dan Dua Wilayah Lain
  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla

Mungkin Anda Juga Suka

Surat Pembaca

Racun LGBT Makin Meluas, Jaga Ketahanan Keluarga Indonesia

28 Mei 2022 12:30
cerita
Surat Pembaca

Pentingnya Memilih Cerita Sebagai Hiburan

26 November 2021 13:37
Surat Pembaca

Tanggapan atas Pernyataan Bahwa Semua Agama itu Benar

22 September 2021 15:00
Surat Pembaca

Nasyid untuk Wahdah Islamiyah

8 September 2021 07:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?