Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Ketika Hewan Menjadi “Primadona Religi”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 November 2011 11:36 11:36 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 November 2011 11:36
Bagikan
Bagikan

Oleh: Drh. Arif Rahman Hakim

Setiap masuk bulan Dzulhijjah, terutama di sepuluh hari pertamanya, hewan kurban tampak menjadi ‘primadona religi’. Umat Islam yang mampu dan mengerti akan ‘berburu’ untuk mendapatkan sang ‘primadona religi’ yang berkualifikasi terbaik. Mengapa?

Dicari, yang Terbaik

Primadona dalam konteks ini tak ada hubungannya dengan dunia artis. Itu hanyalah istilah yang dipinjam bahwa di hari-hari sekitar Idul Adha, hewan kurban dicari-cari banyak orang untuk dijadikan kurban sebagai perwujudan ketaatan kepada Allah.

Di sekitar Hari Raya Kurban, hewan yang memenuhi kualifikasi ‘layak kurban’ dicari dengan penuh antusias oleh kaum Muslimin. Subhanallah! Memang, Hari Raya Kurban memiliki arti penting bagi seluruh umat Islam. Karena, di saat-saat itu Allah membuka kesempatan emas bagi kita untuk lebih bisa mendemonstrasikan ketunduk-patuhannya kepada-Nya. Allah memberi peluang lebih besar agar kita bisa memertontonkan usaha kita yang sungguh-sungguh dalam mendekatkan diri kepada-Nya.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Semangat berkurban telah dicontohkan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s.. sebagaimana yang terekam dalam Kitab Suci. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (QS Ash-Shaaffaat [37]: 102).

Di kisah ini, tampak Nabi Ibrahim a.s. ‘begitu tega’ akan ‘menyembelih’ Nabi Ismail a.s.. Tapi, itu dilakukannya sebagai tanda cinta kepada Allah. Sekarang, kita berefleksi. Andai kejadian itu dialami kita, kira-kira apa yang akan kita perbuat? Mungkinkah iman dan ketaqwaan kita sekuat Ibrahim a.s. dan Ismail a.s.? Mungkinkah kita punya keberanian yang sama, mengorbankan sesuatu yang teramat kita cintai?

Semangat berkurban seperti yang dicontohkan Ibrahim a.s. dan Ismail a.s. dapat kita aplikasikan pada Hari Raya Kurban. Kita tidak harus ‘menyembelih’ putra kita. Sebagai gantinya kita cukup menyembelih sapi, kambing atau domba menurut kemampuan kita masing-masing.

Setelah memiliki semangat berkurban, ada hal lain yang perlu mendapat perhatian tentang berkurban. Salah satu hal penting yang wajib diperhatikan adalah syarat hewan kurban. Mengapa harus ada syarat?

Ingatlah kembali kisah ini! “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): ‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata Habil: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa’.“ (QS Al-Maaidah [5]: 27).

Mengapa kurban Habil diterima, sedang kurban Qabil tidak? Ternyata, Habil mengurbankan domba yang kualitasnya baik dan dengan niat ikhlas. Sementara, Qabil mengurbankan buah-buahan yang kualitasnya tidak baik dan dibarengi sikap tak ikhlas.

Inti pesan dari kisah di atas, bahwa kualitas kurban yang kita persembahkan mencerminkan kadar keimanan dan keikhlasan kita. Bukankah hakikat berkurban adalah memberikan yang terbaik dari yang kita miliki?

Jadi, saat akan memilih hewan kurban kita patut untuk berkaca kepada kasus ‘Habil-Qabil’ saat keduanya berkurban. Hewan kurban yang akan kita ‘persembahkan’ hendaknya memenuhi persyaratan ‘administrasi’.

Untuk itu, sebenarnya cukup mudah untuk mendapatkan hewan kurban yang sesuai syariat Islam, yaitu: 1). Hewan itu sehat dan tidak cacat fisik, misalnya: tidak pincang, tidak buta sebelah, ekor tidak terpotong dan tidak terlalu kurus. 2). Umur hewan kurban : a). Domba atau kambing telah berumur 1 tahun (yang telah berganti gigi) atau lebih, b). Sapi yang telah berumur 2 tahun (yang telah berganti gigi) atau lebih.

Setelah lolos persyaratan ‘administrasi’, hewan kurban hendaknya diperiksa lagi untuk melindungi ‘konsumen’ dari bahaya penyakit menular kepada manusia (Zoonosis) oleh petugas yang berwenang. Panitia penyelenggara penyembelihan hewan kurban hendaknya lebih proaktif menginformasikan tentang kegiatan penyembelihan hewan kurban. Adapun pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan ante mortem (sebelum penyembelihan) dan pemeriksaan post mortem (setelah penyembelihan) agar daging kurban yang dihasilkan memenuhi syarat dalam hal kesehatan.

Mungkin kita berpikir, kok tampak terlalu ribet untuk hanya sekadar berkurban, karena harus melalui berbagai macam ‘aturan‘? Tetapi, jika kita perhatikan kisah Habil dan Qabil tadi, taat kepada ‘aturan‘ tersebut sebagai bukti kadar keimanan dan keikhlasan kita.

Hal terakhir yang wajib mendapat perhatian adalah cara menyembelih hewan kurban. Menurut syariat Islam, hewan dijatuhkan di lantai, di atas lubang tanah yang telah disediakan, tanduk hewan diputar kearah lantai sehingga hidung mengarah ke atas, kepala hewan harus mengarah ke selatan dan ekornya mengarah ke utara, serta muka dan kaki hewan mengarah ke Kiblat. Sementara, penyembelih harus berdiri di sebelah timur leher. Tenggorokan dan kerongkongan diputus dengan sekali tebas.

Cara menyembelih tersebut hendaknya diperhatikan karena selain sesuai dengan syariat Islam juga sangat memerhatikan aspek kesrawan (kesejahteraan hewan). Bukankah hewan juga mempunyai hak diperlakukan selayaknya hewan?

Adapun pelaksanaan kurban dilakukan setelah shalat Idul Adha sampai tiga hari sesudahnya (hari-hari tasyrik). Jadi, ada empat hari kesempatan bagi kita untuk menyembelih hewan kurban.

Semoga Idul Adha tahun ini mampu menjadikan kita sebagai manusia yang lebih baik. Misal, semangat berkurban (dalam pengertian luas) lebih meningkat. Atau, semangat untuk berbagi dengan sesama lebih meninggi. Sungguh, itu semua bermuara kepada situasi ‘lebih dekat dengan Allah’.*

Penulis alumnus FKH Unair dan peminat masalah sosial-keagamaan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Universitas di Georgia Tak Terima Karyawan Kelainan Seks
Tulisan selanjutnya Banyaklah Berbuat, Jangan Banyak Bicara!

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pria Sri Lanka Penghina Nabi Muhammad

Berita
14 Oktober 2026 16:55
IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
19 Orang Tewas Akibat Berdesakan saat Festival Hindu Durga Puja India
Halal Ditunda, Kepastian Dipertaruhkan?
Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat

Terbaru

  • 19 Orang Tewas Akibat Berdesakan saat Festival Hindu Durga Puja India
  • Halal Ditunda, Kepastian Dipertaruhkan?
  • Mesir Tegaskan Siap Bela Arab Saudi di Tengah Meningkatnya Serangan Houthi
  • Arab Saudi Tembak Jatuh 4 Drone di Riyadh dan Dua Wilayah Lain
  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?