Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Penanganan Keras Atas Terduga Teroris Timbulkan Dendam

Ahmad
Terakhir diupdate:
Ahmad
Dipublikasikan 17 Juli 2011 21:14
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Model Detasemen Khusus (Densus) 88 dalam menangani para terduga teroris tidak bedanya model Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) yang dibentuk Soedomo pada masa Orde Baru. Pola penanganan kejahatan yang mengedepankan kekerasan, akan berdampak menimbulkan dendam.

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas, Minggu (17/7), menyatakan, indikasi timbulnya dendam mulai bisa dilihat sekarang. Sejumlah kasus polisi dibunuh oleh simpatisan kelompok garis keras di berbagai daerah. Misalnya kasus di Bekasi, seorang polisi tiba-tiba dibunuh padahal polisi bersangkutan bukan anggota Densus 88.

Kasus serupa terjadi pada masa pascapasukan bersenjata ABRI memberangus sekelompok jamaah Islam di Tanjungpriok, dengan alasan sebagai kelompok garis keras. Beberapa waktu situasi mereda, warga justru menebas tentara yang kebetulan lewat di gang di kawasan Tanjungpriok, dengan alasan sebagai bagian dari tentara yang menyerang mereka. Padahal tentara yang bersangkutan juga tidak pernah terlibat dalam operasi penyerangan.

“Penanganan teroris sekarang sama (dengan operasi Kopkamtib-red.). Penyelesaian dengan kekerasan, seperti ada teroris ditembak kepalanya. Deradikalisasi semestinya bukan dengan cara kekerasan seperti menembak (terduga) teroris di kepala,” kata dia saat peluncuran bukunya berjudul “Hegemoni Rezim Intelijen”.

Menurut dia, sangat mengejutkan Densus 88 dibentuk oleh Polri untuk menangani kejahatan teror dengan pendekatan utama kekerasan. Cara demikian tidak “menyehatkan” keadaan, sebaliknya melahirkan generasi teroris baru.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Mantan Ketua Komisi Yudisial (KY) tersebut berpendapat, Polri terutama Densus 88 semestinya belajar dari masa lalu di mana kasus teroris indikasinya tidak semata kejahatan. Jika melihat pola dan modus teroris dan organisasinya, kasus ini mirip dengan Komando Jihad yang terjadi pada masa Orde Baru, ada aspek rekayasa atau campurtangan pemerintah tertentu.

Kasus Komando Jihad (KJ) skenario awalnya isu ancaman komunisme di Vietnam terhadap stabilitas Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Sebagai antisipasi, para operator intelijen mendesain KJ, direkrut para mantan anggota Darul Islam (DI) dan ditunjuk pimpinannya H. Ismail Pranoto (Hispram). Belakangan diketahui, KJ dan misinya diskenario oleh Ali Murtopo.

Kemudian KJ direkayasa sebagai organisasi yang mengancam keamanan nasional dengan isu KJ bermaksud akan mengganti Pancasila dengan mendirikan negara Islam, pemerintah yang sah sebagai thogut, sebagai jalan mendapatkan dana dilakukan fa’i atau perampokan dari harta orang-orag kaya,” “Teroris sekarang ada kesamaan isunya,” ujar dia.

Iman Samudera dan kawan-kawan memandang pemerintah sekarang thogut, mereka bermaksud mendirikan negara Islam, dengan mengganti dasar negara Pancasila dengan syariat Islam, atau alasan solidaritas atas pembunuhan muslim di Palestina dan kawasan Timur Tengah lainnya. Adapun organisasi yang dijadikan kendaraan Jamaah Islamiyah (JI).

Para keluarga teroris pun kehidupannya seperti diskenario sama dengan korban KJ maupun gerakan PKI. Anak-anak para terduga teroris mengalami stigmatisasi seperti tidak bisa mendapatkan KTP, tidak bisa sekolah negeri, dengan alasan anak-anak dari para teroris. Kemudian keluarga mereka dibatasi untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.

“Kami memiliki lembaga Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) Universitas Islam Indonesia melakukan advokasi dan pembinaan para keluarga teroris. Ibu dan anak-anak para terduga teroris hidup terasing di berbagai daerah seperti di Cilacap, Boyolali dan banyak daerah lain. Mereka bertanya-tanya mengapa ayah dibilang teroris? Keadaan demikian merupakan stigmatisasi, jika anak mereka terus ditelantarkan, maka kita membiarkan lahir generasi teroris baru seperti anak-anak Palestina. Dalam benak mereka tidak ada kata lain kecuali perlawanan terhadap kekerasan yang mereka dan orangtuanya merasakan,” ujar Busyro.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Khofifah Kembali Pimpin Muslimat NU
Tulisan selanjutnya Masjid dan Operasi Katarak dari WAMY untuk Muslim

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Berita
30 Mei 2026 10:28
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?