Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Dari Harian Djawi Hiswara, PKI Hingga Tabloid Monitor [3]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 September 2015 19:02 7:02 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 September 2015 13:30
Bagikan
Harian KAMI tanggal 25 Oktober 1968 yang memuat berita kasus pelecehan agama
Bagikan

Sambungan artikel KEDUA

oleh: Muhammad Cheng Ho

Hinaan Kasar untuk Nabi Muhammad di Makassar

Tumbangnya orde lama dan tegaknya Orde Baru, rupanya tak juga menghapus penistaan agama.Bila sebelumnya Nabi Muhammad dihina oleh media massa, kali ini dihina olehoknum guru beragama Kristen di Sekolah Tinggi Ekonomi, Makassar, H.K. Mangunbahan. [Baca: Mujiburrahman,ISIM Dissertations Feeling Threatened Muslim-Christian Relations In Indonesia’s New Order, Amsterdam University Press: Leiden, 2006, hlm. 38]

Di hadapan murid-muridnya yang mayoritas Muslim itu, ia muntahkan kata-kata penuh kebencian.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

“Nabi Muhammad adalah seorang pezina. Nabi Muhammad adalah seorang yang bodoh dan tolol, sebab dia tidak pandai menulis dan membaca.”Mendengar itu, meletuslah perasaan hati dan menaiklah darah murid-murid muslim tadi. Akibatnya, pada malam 1 Oktober 1967, beberapa gereja di Makassar dirusak dan dipecah kaca-kacanya oleh mereka.”

Kala itu Pelajar Islam Indonesia (PII) berkumpul di depan Pusat Kesehatan Muhammadiyah Makassar. Di sana, PII membuat deklarasi yang menyatakan bahwa mereka siap mati sebagai syuhada demi membela Islam.

Pada saat yang bersamaan, melalui stasiun radio HMI, pemimpin HMI, Jusuf Kalla ( yang sekarang menjadi Wakil Presiden RI), menginstruksikan semua anggota HMI dan organisasi Muslim lainnya untuk datang ke daerah dekat masjid pada pukul 8 malam. Setelah shalat Isya, terjadi penyerangan oleh beberapa orang. Mereka mulai merusak beberapa bangunan kaum Kristen. Teriakkan “Allahu Akbar, belaa agamamu, jadilah syahid!” keluar dari pengeras suara masjid.

Setelah itu, barulah Dewan Gereja Indonesia Makassar mengkonfirmasi bahwa pernyataan H.K. Mangunbahan adalah pernyataan pribadi dan menyalahkan perbuatan oknum guru tersebut.
Berita pengrusakkan beberapa gereja di Makassar, tersiar sampai Jakarta. Di Jakarta, Tokoh Masyumi, M. Natsir, menilai aksi tersebut tidak baik dan tentu melukai kaum Kristen. Namun, Perdana Menteri pertama Indonesia itu menegaskan hendaknya persoalan ini tidak dilihat secara symptomatis approach, yaitu dengan hanya melayani gejala yang kelihatan.

“Ibarat orang yang sakit malaria, kepalanya panas lantas diberi kompres dengan es, tidaklah akan menghilangkan penyakit malaria itu. Harus dicari sebab hakiki dari penyakit itu sendiri. Karena panas kepala hanya suatu gejala dari orang yang sakit malaria. Islam punya kode yang positif tentang toleransi sesama beragama yang tidak perlu dikhawatirkan oleh orang beragama lain. Tetapi kalau pihak Kristen yang unggul dalam arti materiil dan intelektuil mengkristenkan orang-orang Islam, ini melahirkan satu ekses yang serius.”

Sahabat M.Natsir, Buya Hamka, juga turut menanggapi. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama itu menegaskansesungguhnya tidak ada orang Islam yang menyukai pengrusakkan gereja. “Kalau merusak gereja memangajaran Islam, lanjutnya, maka sudah lamalah beratus-ratus gereja di kota-kota yang mayoritas penduduknya muslim dan sadar akan agamanya, telahdirusak dan diruntuhkan orang. Namun kenyataannya berpuluh tahun sebelum anak-anak merusak gereja di Makassar itu , telah banyak gereja-gereja berdiri di tengah kota Makassar.” [M.Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia, Peladjar dan Bulan Sabit:Bandung, 1969, hlm. 188-189]

Apabila oknum guru tadi tidak memancing-mancing dengan menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam di depan murid-muridnya, maka tentu umat Islam tidak akan merusak gereja-gereja itu.

Prahara Sastra

Pada tahun 1968, dunia sastra dihebohkan dengan terbitnya Cerpen berjudul “Langit Makin Mendung” karangan Kipandjikusmin. Cerpen yang dimuat di majalah Sastra edisi Agustus 1968 No. 8 Th. VI itu dinilai telah menodai kesucian agama Islam.

Dalam cerpennya, Kipandjikusmin menceritakan kondisi masyarakat Indonesia pada saat zaman Gestapu yang masih dikuasai oleh paham Nasionalisme Agama Komunisme (Nasakom). Idenya menulis Cerpen itu berawal dari rasa geli melihat golongan yang dahulu mendukung PKI, malah berbalik menyerang PKI setelah PKI terganyang. “Saja mau bilang bahwa umat Islam ikut bersalah djuga dengan meletusnja Gestapu!” . Namun masalah mencuat manakala ia mengimajinasikan Tuhan, Nabi, dan Malaikat seperti makhluk biasa dalam cerpennya.

Tuhan digambarkanmenggeleng-gelengkan kepala, memakai kacamata emas,dan mengangguk-angguk.

“Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng2kan kepala, tak habis pikir pada ketidak_puasan dibenak manusia.”

“Kemarau kelewat pandjang disana. Terik matahari terlalu lama membakar otak2 mereka jang bodoh. (Katjamata model kuno dari emas diletakkandiatas medja dari emas pula).”

“Tuhan hanja mengangguk2, senjum penuh pengertian_ penuh kebapaan.”

Nabi Muhammaddan Malaikat Jibril dilukiskan menyamarmenjadi seekor elang.

“Sampai djuga ketelinga Muhammad dan Djibrail jang mengubah_diri sepasang burung_ elang. Mereka bertengger dipuntjak menara emas bikinan pabrik Djepang. Sepasang elang terbang di udara sendja Jakarta jang berdebu, menjesak dada dan hidung mereka asap knalpot dari beribu mobil.“

Kontroversi pun akhirnya pecah. Para ulama dan masyarakat memprotes Kipandjikusmin. Protes pertama terjadi Medan.*

Penulis pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) …(bersambung) .. musibah Cerpen HJ Yassin

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Haji MisbachkipandjikusminkomunisNabi Muhammadpenghinaan IslamPKI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sistem Ekonomi Kapitalis Dunia Sudah Terbukti Gagal
Tulisan selanjutnya Ulama Palestina: “Sekalipun Kalian Penjarakan Seluruh Murabithin, Anak-anak Akan Lanjutkan Perlawanan”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Wakaf Al-Qur’an: Menghadirkan Cahaya Qur’an bagi Santri di Tolitoli

Berita
13 Oktober 2026 16:03
Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?