Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Idul Ghadir dalam Pandangan Sejarah [1]

Ahmad
Terakhir diupdate: 7 Oktober 2015 07:46 7:46 am
Ahmad
Dipublikasikan 7 Oktober 2015 07:46
Bagikan
Ilustrasi: Sebuah peringatan Idul Ghadir kaum Syiah
Bagikan

Oleh: Alwi Alatas

IDUL GHADIR yang dirayakan oleh Syiah itu mengacu pada peristiwa Ghadir Khum yang terjadi saat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam dan para Sahabat pulang haji dari Makkah ke Madinah pada pertengahan Dzulhijjah tahun terakhir kenabian.

Ketika itu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam dan para sahabat berhenti di sebuah tempat bernama Khum (Ghadir Khum). Di situ Nabi berkhutbah dan antara lain mengatakan, “Barangsiapa yang menganggap saya sebagai mawla-nya, maka Ali adalah mawla-nya.”

Kalangan Syiah menganggap peristiwa tersebut sebagai penunjukkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam kepada Ali sebagai penggantinya kelak sebagai pemimpin sepeningalnya (setelah wafat,red). Karena itulah, kalangan Syiah merayakannya setiap tahun dan menganggap para sahabat telah khianat terhadap pengangkatan Ali sebagai khalifah. Sebab, selepas wafatnya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam mereka memilih Abu Bakar sebagai khalifah.

Pandangan Syiah ini memiliki beberapa masalah mendasar dan karenanya tidak bisa diterima oleh kalangan Ahlus Sunnah.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Pertama, kata ‘mawla’ dalam bahasa Arab memang antara lain bermakna ‘pemimpin’. Tapi itu bukan satu-satunya arti kata tersebut. Kata mawla juga bisa berarti ‘sahabat’ atau ‘kekasih’. Jadi, kata tersebut tidak hanya memiliki satu arti seperti ‘pemimpin’

Kedua, jika saat itu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam memang bermaksud menunjuk Ali sebagai pemimpin, tentu beliau akan menggunakan kata yang lebih tegas dan jelas, seperti ‘khalifah’, ‘amir’, atau ‘imam’. Tetapi Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam tidak menggunakan kata-kata tersebut, melainkan menggunakan kata ‘mawla’. Ini yang terdapat di dalam riwayat-riwayat yang sahih.

Mungkin ada versi riwayat lain, tetapi kita mesti ingat tidak semua riwayat yang ada bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, terlebih yang berasal dari kalangan Syiah.

Jika khutbah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam ketika itu adalah berkenaan kepemimpinan dan merupakan hal yang sangat penting sebagaimana yang diinginkan Syiah, sehingga mereka menjadikannya sebagai hari raya, tentu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam akan memilih kata-kata yang lebih tegas dan tidak menimbulkan interpretasi.

Ketiga, jika yang dimaksud oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam dengan kata ‘mawla’ adalah pemimpin, dalam arti pemimpin tertinggi yang harus ditaati. Maka, berarti sejak saat itu ada dua pemimpin yang di tengah umat yang harus ditaati. Padahal, peristiwa tersebut berlaku sekitar tiga bulan sebelum Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam wafat.

Jadi, selama masa-masa itu, siapa yang sejatinya harus ditaati oleh umat? Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam atau Ali bin Abi Thalib.

Dalam Islam tidak dikenal adanya dua pemimpin (kenegaraan,red) di satu wilayah pada waktu bersamaan. Dalam khutbahnya itu, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam tidak mengatakan “Siapa yang mengganggap saya sebagai mawla, maka Ali adalah mawla-nya SETELAH SAYA WAFAT.”

Kalimat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam itu bersifat umum, tidak mengacu pada proses suksesi kepemimpinan atau konteks waktu tertentu. Karena itu, memaknainya sebagai pemimpin (kenegaraan,red) dan yang semakna dengan itu akan menimbulkan problem dan ketidaksesuaian.* (Bersambug…)

Pemerhati sejarah Islam, penulis buku “Shalahuddin Al-Ayyubi dan Perang Salib III”

Baca juga:
Sikap Umat Islam terhadap Ghadir Khum [1]
Sikap Umat Islam terhadap Ghadir Khum [2]

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ali Bin Abi Thalibghadir khumidul ghadirimam mahdiKhalifahMawlasyiah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Gugat Qonun Jinayat, GP Ansor Aceh Sebut ICJR Tak Paham Hukum
Tulisan selanjutnya Rabithah Ulama Muslimin Serukan Lawan Pasukan Rusia di Syam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pilot Berkewarganegaraan Indonesia, Pesawat Ethiopian Airlines Dilarang Mendarat di ‘Israel’

Berita
13 Oktober 2026 13:01
Zionis Sebut Belanda Sarang Anti-Semit usai Suporter ‘Israel’ Dilarang Tandang
IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?