Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Hamid: Jalan Memenangkan Kompetesi dengan Barat (2)

Bambang S
Terakhir diupdate: 11 Maret 2016 07:20 7:20 am
Bambang S
Dipublikasikan 11 Maret 2016 07:20
Bagikan
Dr. Hamid Fahmy Zarkasy
Bagikan

Sambungan wawancara PERTAMA

 

 Pada akhir naskah pertama, Fahmi Hamid Zarkasyi menjelaskan perbedaan antara peradaban Barat dan Peradan Islam. Lantas, manakah yang lebih baik?

 Mana yang lebih baik antara peradaban Barat dan peradaban Islam?

Pandangan kita sebagai Muslim adalah Islam punya konsep tersendiri, sedangkan Barat juga punya konsep sendiri. Keduanya tidak bisa dicampuradukan.  Jadi, kita tidak bisa mengukur Barat dengan Islam, pun sebaliknya. Orang Barat tidak bisa mengukur Islam dengan Barat. Menggunakan terminologi Barat untuk memahami Islam juga tidak bisa. Ini yang harus kita jaga.

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

 Yang bisa kita lakukan adalah berkompetisi, begitu?

Iya. Dalam bahasa Al-Attas (Prof Dr Syed Mohammad Naquib al-Attas, gurunya Hamid di ISTAC, terjadi konfrontasi abadi. Keduanya tidak akan pernah cocok karena worldview-nya memang beda. Pokoknya hampir semuanya beda.

Maka yang diperlukan adalah dialog peradaban, bukan dialog agama. Sayangnya, Barat menganggap Islam itu sekadar agama. Barat tidak mau melihat Islam sebagai peradaban, sebab mereka memang ingin menguasai. Seakan Barat berkata begini, “Islam agama sajalah, peradaban kita yang ngatur. Kamu di masjid saja; politik, ekonomi kita yang ngatur.” Karena itu, mereka tidak pernah bicara Islam sebagai peradaban.

 Bagaimana agar kita bisa memenangkan konfrontasi itu?

Menurut saya, kita harus kembali kepada tradisi ilmu. Kita kalah pada bidang ini. Karena itu, kita harus memperkuat ilmu. Dan ilmu adanya di lembaga pendidikan. Lembaga pendidikanlah yang mencetak individu-individu, sedangkan masyarakat  terbentuk dari individu-individu yang banyak. Permasalahannya, bagaimana kita mau membentuk masyarakat yang baik kalau lembaga pendidikannya tidak efektif.

Jika masyarakatnya berkualitas, ia tidak akan bisa dikuasai. Sebab, ia punya ilmu dan sistem yang menjadi filter untuk menyeleksi. Sekarang ini, hampir semua sistem pendidikan di negara-negara Islam dikuasai oleh Barat. Al-Attas menyadari itu, makanya ia menyeru umat Islam agar punya universitas sendiri guna mengembangkan ilmu-ilmu Islam. Dengan  ilmu itu selanjutnya melakukan islamisasi ilmu-ilmu dari Barat. Dengan itu Barat tak lagi bisa menghegemoni, karena kita mampu menyeleksi.

Dimulai dari tingkat pendidikan mana?

Untuk tingkat menengah lebih kepada penanaman ilmu-ilmu dasar keislaman. Misalnya fikih, hadits, dan tafsir yang mengarah kepada amaliah. Secara bersamaan pada tingkat ini dengan intensif ditanamkan nilai-nilai akhlak, baik di kelas maupun di luar kelas.

Pada tingkat menengah tidak masalah anak-anak sedikit dipaksa, demi kebaikan. Wong dipaksa saja masih banyak yang melanggar, apalagi tidak dipaksa.  Seperti di Gontor, kami punya keyakinan bahwa anak-anak harus dipaksa, tidak peduli kata orang. Shalat misalnya, pengalaman kami, anak-anak kalau tidak dipaksa ya tidak shalat. Jadi, tidak cukup hanya dengan tausyiah. Kalau anak-anak disuruh milih antara boleh ke masjid dan boleh juga tidak, pasti semuanya tidak akan ke masjid.

Beda lagi pada tingkat perguruan tinggi. Pada tingkat ini tekanannya pada rasionalitas sehingga anak-anak punya kesadaran, tidak lagi dengan paksaan.

Penting juga, pada tingkat menengah, jangan mengajarkan sejarah yang berisi konflik, misalnya sejarah pembunuhan para khalifah. Nanti kesannya di mata anak-anak, Islam itu penuh dengan ‘darah’. Sebab, anak-anak belum bisa menyeleksi dan berpikir komparasi. Ajarkan saja yang baik-baik.* (Bersambung)

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:baratislamliberalisasipandangan hiduppemikiranwesternisasiworldview
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Lansia Bisa Ajukan Percepatan Keberangkatan Haji
Tulisan selanjutnya Inilah Suasana Hening di Kota Terlama Saat Gerhana Matahari

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak

Berita
13 Oktober 2026 05:30
Zionis Sebut Belanda Sarang Anti-Semit usai Suporter ‘Israel’ Dilarang Tandang
Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
Tiga Pria Mengaku Merencakan Serangan Terhadap Masjid Maryam di Galway
Kecam Serangan Bandara King Khalid Saudi, Dewan Dakwah: Tidak Dapat Dibenarkan

Terbaru

  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
  • Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?