UMAT Islam sekarang sedang dilanda westernisasi danliberalisasi dalam pemikiran. Tentu saja gerakan berbahaya ini mesti dilawan. Salah satu tokoh yang gigih melawan itu adalah Hamid Fahmi Zarkasyi, Direktur INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), sebuah lembaga penelitian dan kajian yang sangat konsen pada pemikiran dan peradaban.
“Pemikiran harus dihadapi dengan pemikiran, tidak bisa dengan demo,” kata Hamid yang juga putra pendiri Pondok Pesantren Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur ini.
Untuk melawain westernisasi dan liberalisasi itu, antara lain mendirikan Program Kaderisasi Ulama (PKU) di ISID. Program ini diikuti ulama-ulama muda dari berbagai pesantren dan berlangsung selama 6 bulan. “Tujuannya membekali para ulama muda agar paham soal peradaban Barat dan mampu menangkal virus-virus pemikiran dari Barat yang merusak Islam,” jelas yang menyelesaikan doktornya di di ISTAC (The International Institute of Islamic Thought and Civilization) Malaysia.
Di Gontor pula Hamid mendirikan Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS). Lembaga kajian ini aktif menggelar kajian-kajian dan peneletian, terutama terkait dengan peradaban Islam dan Barat.
Dari sebuah dusun yang bernama Gontor, ayah tiga anak yang kini juga diberi amanah menjadi Ketua MIUMI tampaknya sedang menggoyang Barat, yang sekarang menghegemoni dunia. Karena aktivitas ini tak jarang ia dituduh anti Barat? Bagaimana sesungguhnya? Ikuti wawancara berikut ini, dikutip dari majalah Suara Hidayatullah
Anda sangat kritis terhadap Barat. Apa tidak takut dituduh anti Barat?
Memang saya sering dengar tuduhan itu. Orang yang menuduh begitu, kebanyakan tidak memahami Barat. Itu satu. Kedua, mereka kebanyakan pemahaman Islamnya tidak scientific (ilmiah). Ketika saya menjelaskan perbedaan Barat dengan Islam, orang tersebut berkesimpulan begini: mengapa kita harus membeda-bedakan Islam dan Barat, yang pada akhirnya kita akan melakukan pemilahan: kafir atau bukan. Kalau kafir maka layak dibunuh. Inilah, katanya, yang menyebabkan terorisme.
Jawaban Anda?
Jawaban saya gampang saja. Kita membicarakan Islam dan Barat bukan dalam konteks ideologi, tapi dalam konteks epistimologi atau ilmu. Tugasnya ilmuwan adalah membedakan, kalau tidak mampu membedakan bukan ilmuwan namanya.
Membedakan konsep-konsep Islam dan Barat itu wajib bagi kita. Al-Qur`an sendiri julukannya al-furqan, pembeda atau penjelas. Jika kita tak bisa membedakan mana yang Islam dan mana yang tidak, kapan kita beridentitas Muslim. Jika Barat dan Islam sama, kita tak perlu identitas.
Bagaimana sikap Barat sendiri kepada Anda?
Saya tidak tahu. Tapi di sebuah simposium di Tokyo saya sempat berselisih dengan seorang tokoh dari Rand Corporation, lembaga yang memberi resep kepada pemerintah Amerika soal bagaimana menyebarkan Islam moderat. Asal tahu, Islam moderat itu kalau dibuka isinya yaliberalisasi. Dengan seenaknya dia bilang, Islam moderat adalah orang yang mendukung feminisme, kesetaraan gender, demokratisasi, pluralisme, dan anti terorisme. Itu sama dengan mengatakan orang yang tidak mendukung pluralisme sama dengan radikal.
Pendapat itu saya bantah. NU dan Muhammadiyah jelas menentang pluralisme. Tapi tidak berarti dua organisasi itu radikal. Maka saya katakan pada dia, “The majority of Indonesian Moslem are moderate and not radical.” Mayoritas Muslim di Indonesia moderat dan tidak radikal. Dia tampaknya tidak suka dengan pendapat saya ini. “Kita memang beda,” katanya kemudian. Saya tidak tahu, apa pendapatnya tentang saya.
Mereka tidak melakukan tindakan apa-apa terhadap Anda?
Sejauh ini belum ada. Cuma, semua yang kami (INSISTS) lakukan, termasuk tulisan saya, sudah ada di perpustakaan Kongres Amerika. Rupanya di Indonesia ada agennya, yang kerjaannya memantau semua yang kami lakukan.
Apa sisi negatif Barat sehingga Anda begitu kritis?
Barat itu peradaban yang punya karakter sendiri yang sangat berbeda dengan Islam. Karena itu, kita mesti berhati-hati bila ingin mengambil atau diberi sesuatu dari Barat, sebab bisa jadi sangat bertentangan dengan Islam. Dalam hal ini, kita tidak bisa pakai ukuran baik atau buruk. Sesuatu yang buruk menurut kita, bisa jadi baik bagi Barat. Contohnya, hidup bersama tanpa nikah. Bagi masyarakat Barat itu baik-baik saja, sejauh tidak mengganggu orang lain dan mereka suka sama suka.

Barat dalam konteks ini bukan persoalan letak geografis, tetapi lebih mencerminkan pandangan hidup atau suatu peradaban. Pandangan hidup Barat, seperti dijelaskan Hamid di dalam buku Misykat, cirinya adalah scientific worldview (pandangan hidup keilmuan). Artinya, cara pandang terhadap alam ini melulu keilmuan dan tidak lagi religious.
Menurut pandangan Barat, hal-hal yang tidak dapat dibuktikan secara empiris tidak dapat diterima, termasuk metafisika dan teologi.* (Bersambung)