Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 Juli 2021 17:03 5:03 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Juli 2021 17:03
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | PAHAM feminisme sudah mulai masuk ke sendi-sendi kehidupan masyarakat. Keluarga, sebagai unit terkecil dalam masyarakat sudah mulai tersusupi paham tersebut. Feminisme adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut kesamaan dan keadilan hak dengan laki-laki. Tentu saja paham feminisme ini tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Adalah Dr Norsaleha Mohd Salleh, Ketua Wanita Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA). Wanita kelahiran Kuala Trengganu, Malaysia 18 Juni 1966 itu merupakan pakar anti feminisme dan liberalisme yang sering diundang di beberapa negara Timur Tengah dan Eropa.

Wartawan Suara Hidayatullah, Niesky Hafur Permana berkesempatan mewawancarai associate professor dari Kolej Universiti Islam Antarabangsa Selangor (KUIS)  yang lama tinggal di Mesir ini. Wawancara dilakukan di ruang tunggu sebuah hotel di kawasan Jalan Matraman, Jakarta Pusat. Berikut petikan wawancaranya.

Sejak kapan Anda berbicara mengenai kampanye anti feminisme?

Sudah cukup lama, sejak saya kuliah. Saya sudah berbicara masalah ini di Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Australia.

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Menurut Anda bagaimana paham feminisme bisa masuk ke dalam pemikiran Muslimah?

Pemikiran ini datang secara kelompok, bukan satu persatu. Mereka juga bersama dengan paham-paham sekuler dan liberalisme. Kalau kita pelajari, gerakan ini untuk menjauhkan umat Islam dari akidah Islam yang hakiki. Khusus di Asia Tenggara gerakan feminisme masuk melalui penjajah.

Selain itu, pemikiran feminisme juga banyak yang dipengaruhi dari media seperti tayangan televisi, artikel di surat kabar dan majalah. Kalau kita selidiki ini memang sudah dirancang sedemikaian rupa oleh musuh Islam. Sedangkan di Eropa, liberalisme dan feminisme muncul dari balas dendam masyarakat terhadap kezaliman gereja dan penguasa Eropa pada zaman dahulu. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan masyarakat Islam, karena Islam tidak pernah menindas dan menzalimi wanita, apalagi menolak pandangan wanita dan merendahkan wanita.

Sudah separah apa feminisme dipraktikan oleh Muslimah di dunia?

 Saya mengatakan ini sudah parah, terlebih telah mengancam generasi Islam. Saya pernah membuat kajian dan penelitian di beberapa sekolah di Malaysia. Dari 500 orang yang saya tanya ada 43 orang yang mengatakan setuju dengan praktik feminisme.

Walaupun presentasinya rendah, tapi ada angka di sana dan ada orang yang berpikiran feminisme itu sebuah gaya hidup yang sah-sah saja. Mereka tahu feminisme itu salah dan tidak diperkenankan agama, tapi itu tidak masalah bagi mereka.

Apa gejala sederhana yang bisa terlihat ketika wanita sudah mulai setuju dengan feminisme?

Contoh kecilnya adalah ketika anak remaja perempuan kita tidak izin keluar rumah. Bagi sebagian orangtua itu dianggap sepele, namun dalam Islam itu sangat diperhatikan. Saat itulah orangtua harus menjelaskan, bahwa wajib meminta izin kepada orangtua. Atau harus ditemani ayahnya atau suaminya, atau saudaranya atau orang lain yang masih mahram seperti paman atau bibi.

Bagaimana cara pencegahan sejak dini supaya feminisme tidak masuk dan mempengaruhi generasi kita?

Sudah tentu sedari kecil orangtua berperan penuh dalam hal ini. Masukan dan kembangkan nilai-nilai Islam dalam keluarga sesuai Sunnah dan al-Qur`an. Jalankan peran ayah dan ibu sesuai fungsinya, jangan sampai fungsinya tertukar, Karena itu, bisa jadi akan dicontoh anak. Peran itu adalah ibu mengasuh anak dan mengajarkan agama, sedangkan ayah mendidik nilai akidah dan mencari nafkah. Karena madrasah pertama adalah orangtua dan rumah, bukan sekolah. Sekolah hanya membantu proses belajar dan pendidikan.

Apakah Anda membuat semacam kampanye atau gerakan penolakan?

Iya, bersama beberapa aktivis Muslimah di Malaysia dan negara Asia Tenggara saya membuat gerakan bernama “Selamatkan Ummah”. Gerakan tersebut bertujuan membuat penjelasan kepada umat bahaya dari liberal, feminisme. Program kita juga ada beberapa, di antaranya mengadakan seminar-seminar di beberapa negara. Selain itu, gerakan ini juga gencar dalam sosial media, seperti melalui Twitter dan Facebook. Saya yang mengkoordinasikan.

Apa pengaruhnya Muslimah menganut feminisme menjadi gaya hidup?

Betapa penting wanita salehah dalam menjamin kesejahteraan generasi dan keturunan. Ada istilah terkenal, seorang anak yang rusak bisa menjadi baik jika mendapat pengasuhan dari seorang ibu yang baik. Sebaliknya, seorang ibu yang rusak akhlaknya hanya bisa melahirkan generasi yang rusak akhlaknya. Karena itulah, merusak wanita Muslimah menjadi salah satu agenda utama musuh Islam.

Apakah gerakan feminisme ini juga masuk dalam dunia pendidikan, sejak kapan?

Iya, feminisme dan liberalisme itu satu paket. Dari sejak sekolah dasar atau sekolah menengah paham itu sudah masuk dalam dunia pendidikan. Mereka masuk dalam teori-teori. Contohnya teori perkembangan psikoanalisis, menurut Sigmund Freud dan terori Albert Bandura yang terkenal dengan teori pembelajaran sosial (social learning teory). Teori ini adalah aliran behaviorisme yang menekankan pada komponen kognitif dari pikiran, pemahaman, dan evaluasi.

Apakah selama berkampanye gerakan ini Anda pernah diancam?

Seringkali saya mendapat ancaman dan gangguan dari pergerakan wanita atau organisasi yang menggaungkan soal feminisme. Berkali-kali media sosial saya, baik Twitter, Facebook, atau blog pribadi diretas orang. Mereka mengaku tidak suka dengan seminar dan pernyataan saya soal anti feminisme dan liberalisme. Tetapi saya dan teman-teman tidak gentar menghadapi, saya selalu memohon kepada Allah Ta’ala agar dikuatkan dalam dakwah ini.

Apa pesan Anda untuk Muslimah agar tidak dipengaruhi oleh pemikiran feminisme?

Pelajari ilmu pengetahuan dan banyak memperdalam ilmu agama dan al-Qur`an. Pelajari dengan benar hak wanita itu yang sebenarnya dalam al-Qur`an. Ringkasnya, ketika ada ilmu dan ada iman, insya Allah bisa menyelamatkan Muslimah, keluarganya, dan masyarakat.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:feminismeliberalismeNosaleha Mohd SallehpakarWanita Ikatan Muslimin Malaysia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya internet seluruh indonesia MUI Wapres Ma'ruf Amin Berharap pada Wapres KH Ma’ruf Amin
Tulisan selanjutnya Gubernur Babel Puji Respon Cepat Polisi Ringkus Predator Anak di Masjid

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Feature
13 Juli 2026 06:38
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
Laporan Pesawat Kepresidenan AS Hadiah Qatar Bermasalah Berujung Pemanggilan Jurnalis New York Times
Mengenang Pembantaian Srebenica, Ribuan Peserta Susuri Rute Pelarian Korban Genosida

Terbaru

  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
  • Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
  • Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
  • MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
  • INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Wawancara

Septi Ciptakan Metode Keren Belajar Online

12 April 2021 09:48
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?