Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Akhir Pencarian Oei Ping Djien (2)

Bambang S
Terakhir diupdate: 17 Maret 2016 11:19 11:19 am
Bambang S
Dipublikasikan 17 Maret 2016 11:19
Bagikan
Suwardi alias Oei Ping Djien
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

 

Hidayatullah.com–Ada ‘keajaiban’ begitu Suwardi mengamalkan dua hadits. Jika semula ia dikejar-kejar hutang, kali ini ia dikejar-kejar orang yang ingin memanfaatkan keahliannya berdagang.  “Banyak investor yang datang mengajak kerja saya,” katanya. Tentu saja ia menyambut gembira ajakan itu. Lalu, apakah Suwardi memutuskan bersyahadat?

Belum juga. Tapi   ada yang aneh. Setiap ada azan, Suwardi selalu datang ke masjid. Ia hanya duduk-duduk di belakang. Ketika shalatnya bubar, Suwardi juga ikut bubar. Begitu terus hingga beberapa bulan. “Saya tidak ikut shalat karena belum tahu tata cara dan bacaannya,” katanya.

Makin lama Suwardi makin yakin dengan Islam. Hingga pada 2000, tanpa keraguan lagi ia mengikrarkan diri sebagai seorang Muslim. Ketika ditanya mengapa mesti bersyahadat, toh tanpa masuk Islam pun ia sudah memetik hasilnya. Jawabnya, “Saya ingin masuk Islam secara kaffah.” Ia juga meyakini, siapa saja bersungguh-sungguh mencari Tuhan, pasti ketemunya Islam.

Baca Juga

Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”

Setelah masuk Islam, Suwardi kian bersamangat belajar Islam.  Ada satu amanah dari gurunya. Sederhana saja. Ia diminta menegakkan azan sehari lima kali. Ingin menjadi santri yang baik, ia berusaha keras menjalankan amanah  itu.

Tak jauh dari rumahnya ada sebuah mushalla. Sesibuk apapun Suwardi, sepuluh menit sebelum masuk waktu shalat, ia sudah ada di mushalla itu. Pas waktu shalat tiba, ia pun mengumandangan azan. Sesuatu yang biasa sebenarnya.

Tapi tidak di lingkungan Suwardi. Mushalla itu tak biasa digunakan shalat lima waktu. Entah mengapa. “Biasanya shalatnya hanya Magrib, Insya dan Subuh,” kata Suwardi kepada wartawan majalah Suara Hidayatullah  pada suatu kesempatan.

Karena kebiasaannya seperti itu, ia mendapat teguran dari salah seorang tokoh. Suwardi menjawab enteng teguran itu. “Saya hanya menjalankan perintah guru,” ujarnya. Hari-hari berikutnya Suwardi tetap azan seperti biasa. Sering kali ia yang azan, ia yang qamat, ia pula yang menjadi imam merangkap makmum alias shalat sendirian.

Suwardi tak putus asa. Ia terus adzan. Kegigihan Suwardi akhirnya berbuah. Setelah berbulan-bulan, mushalla itu menjadi  ‘hidup’. Sehari dipakai shalat berjamah lima kali, bahkan hingga kini.

Selain menghidupkan mushalla, ia juga membuat majelis taklim. Di antaranya majelis taklim di rumahnya sepekan sekali. Setidaknya ada 500 orang hadir pada majelis itu.

Makin dalam mempelajari Islam, Suwardi melihat kesenjangan di tubuh umat Islam. Kesenjangan antara ajaran dan praktek. Misalnya, katanya, Islam memerintahkan shalat berjamaah di masjid lima kali sehari, namun nyatanya lebih banyak yang mengabaikan perintah itu. Umat Islam banyak yang memilih shalat di rumahnya sendiri-sendiri.

Jika kita menomor satukan Allah dan sungguh-sungguh menjalankan perintah-nya, masih kata Suwardi, kita akan mudah minta pertolongan kepada Allah. “Bahkan belum minta pun Allah sudah kasih,” katanya. Dalam hal ini ia punya pengalaman banyak.

Di antaranya saat tokonya terbakar. Seluruh barang hangus. Sisa uangnya tinggal Rp 60 juta. Dalam keadaanya seperti itu, ia diminta menjadi ketua pembangunan sebuah masjid. Karena uang kas masjid hanya 14 juta, ia mengalami dilema. Antara membangun toko baru atau menggunakan uangnya untuk memperbaiki rumah Allah. “Akhirnya saya memilih mendahulukan rumah Allah,” tegas Suwardi.

Tak lama kemudian keajaiban terjadi. Rezekinya mengalir deras. Dalam sebulan omset penjualannya bisa mencapai 3-4 ribu ton. Tidak hanya itu. Toko Suwardi juga diganti oleh Allah. “Besarnya 20 kali lebih dari toko lama,” kata suami Amin Sumaryani ini. Nah, belum yakin juga dengan janji Allah?*

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:berdagangchinaMencari uangOei Ping DjienPencarianpencarian Tuhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya uu ite direvisi CIDES Minta Revisi UU ITE Dipercepat Sebelum Pemilu
Tulisan selanjutnya Edukasi Orang Tua, Muslimat Hidayatullah Makassar Gelar Seminar Bahaya Homoseksual

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kecam Serangan Bandara King Khalid Saudi, Dewan Dakwah: Tidak Dapat Dibenarkan

Berita
12 Oktober 2026 23:35
Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pria Sri Lanka Penghina Nabi Muhammad
Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
Pilot Berkewarganegaraan Indonesia, Pesawat Ethiopian Airlines Dilarang Mendarat di ‘Israel’

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Ragam

Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

28 Agustus 2025 11:00
buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?