Dengan logika sederhana namun tajam, Muhammad Ali menunjukkan bagaimana bias rasial dalam simbol-simbol budaya dan agama Barat membawanya pada kesadaran spiritual dan akhirnya memilih Islam sebagai jalan hidupnya
Hidayatullah.com | LEGENDA tinju dunia Muhammad Ali tak hanya dikenal karena keberanian di ring, tetapi juga karena logika tajamnya dalam menyoal agama dan ras. Dalam sebuah wawancara dengan BBC yang diabadikan, Ali mengungkapkan kegelisahannya sejak kecil tentang dominasi simbol-simbol putih dalam budaya dan keagamaan di Amerika hingga membawanya masuk Islam.
“Saya selalu bertanya kepada ibu saya, mengapa Yesus berkulit putih, berambut pirang, dan bermata biru? Mengapa semua malaikat digambarkan putih? Bahkan Perjamuan Kudus, Paus, Bunda Maria—semuanya putih,” kata Ali dalam wawancara dengan Michael Parkinson dari BBC tahun 1971.
Ali kecil melihat kontradiksi itu sejak ia masih rajin ke gereja. “Saya bilang pada ibu, kalau kita mati dan masuk surga, apa yang terjadi dengan malaikat-malaikat hitam? Mungkin mereka ada di dapur menyiapkan susu dan madu,” ujarnya sambil menyinggung bias kulit dalam keyakinan masyarakat Barat.
Bagi Ali, keganjilan itu makin nyata ketika ia melihat dunia hiburan. “Tarzan adalah raja hutan di Afrika, tapi dia orang kulit putih dengan cawat, berteriak-teriak, lalu mengalahkan singa dan berbicara dengan hewan. Padahal orang Afrika sudah ada di sana selama berabad-abad, tapi tidak bisa,” ucap legenda ini, juara tinju dunia, penyair, aktivis, dan simbol abad ke-20 ini.
Ia juga menyinggung bagaimana hampir semua simbol positif diwarnai putih, sementara yang negatif dikaitkan dengan hitam. “Kue malaikat berwarna putih, tapi kue setan berwarna cokelat. Presiden tinggal di Gedung Putih. Santa Claus putih. Segala sesuatu yang buruk disebut hitam: kucing hitam pembawa sial, ancaman disebut blackmail. Mengapa tidak white mail?” sindirnya.
Ali menegaskan, pengalaman diskriminasi makin menguatkan kesadarannya. Meski sudah memenangkan medali emas Olimpiade Roma 1960, ia tetap ditolak makan di restoran di kampung halamannya. “Saya baru saja mengorbankan diri untuk negara ini, tapi mereka bilang: ‘Kami tidak melayani Negro.’ Saat itu saya sadar, ada yang salah,” kata Ali.
Kritiknya kemudian membawanya memeluk Islam. Ia menilai ajaran Elijah Muhammad membuka mata bahwa kaum kulit hitam di Amerika telah “dicuci otak” untuk mencintai putih dan membenci hitam. “Kami dirampas nama, budaya, dan sejarah. Itu menjadikan kami seperti orang mati berjalan. Tapi kebangkitan pertama akan dimulai dari orang kulit hitam Amerika,” ujarnya menegaskan.
Melalui logika sederhana namun tajam, Muhammad Ali berhasil menghubungkan pengalaman rasialnya dengan pencarian spiritual. Kritiknya terhadap dominasi “warna putih” dalam simbol agama dan budaya Barat kini dianggap sebagai salah satu warisan intelektualnya yang abadi, sama kuatnya dengan pukulannya di ring tinju.*




