Injil kemakmuran (prosperity gospel) dinilai telah menjelma menjadi industri yang mengeksploitasi penderitaan dan iman umat, menjual janji surga dengan harga duniawi. Benarkah?
Hidayatullah.com | “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas,” demikian kutipan Matius 7:15. Ayat ini barangkali tepat dengan maraknya industri yang menjanjikan surga dengan harga tinggi.
Injil kemakmuran (prosperity gospel), ajaran yang dinilai menjual harapan akan kekayaan, kesembuhan, dan mukjizat—asal mau memberi adalah ajaran mayoritas denominasi Kristen arus utama—seperti Katolik, Ortodoks, dan Protestan historis (seperti Lutheran, Presbiterian, Metodis) hal yang menyimpang karena dinilai menjual ‘suara Tuhan’ menjadi sebuah bisnis besar bermodalkan ayat-ayat suci. Benarkah?
***
Belum lama ini, Tyler Oliveira, seorang YouTuber dan kontent kreator yang dikenal dengan konten investigasi, eksperimen sosial, dan wawancara jalanan (street interviews) kelompok Injil Kemakmuran. Inilah hasil liputan dia berjudul “Saya Membongkar Gereja Paling di Amerika”.
Raja-Raja Mimbar dan Kerajaan Miliaran Dolar
Benny Hinn, dikenal lewat acara Miracle Crusade, hidup dalam kemewahan: jet pribadi, mansion senilai $10 juta, dan jadwal khotbah keliling dunia. Dalam salah satu khotbahnya, ia berkata: “Kalau kau kesulitan keuangan, satu-satunya jalan keluar adalah memberi kepada Tuhan—bahkan dari sisa terakhir uangmu.”
Namun, mantan pengikutnya, David Miller (42), mengungkap: “Uang itu tak pernah dipakai untuk karya sosial. Semua masuk ke rekening Benny. Aku buta karena percaya dia bisa menyembuhkan mataku. Sekarang, aku bangkrut dan sakit.”
Kenneth Copeland, pemimpin Eagle Mountain International Church (EMIC) dan pemilik kekayaan $300 juta, memiliki tiga jet pribadi dan menjual topi “anointed” seharga $38. Dalam khotbahnya ia menyatakan: “Tuhan inginmu kaya! Abraham kaya, dan kamu juga harus kaya!”
Joel Osteen, gembala Lakewood Church di Houston—gereja terbesar di AS—mengelola anggaran hampir $100 juta per tahun. Saat badai Harvey melanda, ia dikritik karena lambat membuka pintu gerejanya untuk korban. Saat dikonfrontasi oleh media soal dugaan eksploitasi agama, Osteen menghindar tanpa jawaban.
“Aku menjual rumah untuk memberi persembahan iman. Hasilnya? Hutang dan depresi,” ujarLisa Tan (35), mantan jemaatnya bercerita.
Mukjizat Palsu dan Bahaya Iman Buta
Pastor Shannon Noble dari River Church Tampa mengklaim bisa menyembuhkan AIDS, kanker, bahkan “menumbuhkan anus baru”. Tapi Daniel Chapman, mantan jemaat, memperingatkan: “Ini berbahaya! Banyak orang berhenti minum obat karena percaya ‘iman’ saja cukup. Nyawa taruhannya.”
Mel & Josh, eks-jemaat lainnya, melihat keluarga mereka hancur. “Kami diminta menyebut penyakit lalu memberi persembahan. Seperti sulap. Tapi tak ada yang terjadi.”
Banyak yang melepaskan pengobatan medis karena percaya pada “doa penyembuhan”. “Orang-orang yang kami cintai meninggal karena percaya mereka akan disembuhkan hanya dengan doa dan uang. Mereka disuruh berhenti minum obat dan menyerahkan semuanya kepada iman,” tambah Mel.
Kisah-kisah di altar sering kali fantastis: ada anak kecil tanpa anus yang tiba-tiba bisa buang air, seorang tunawisma dengan diabetes yang “tumbuh tulang baru” dan seorang pria sembuh dari penyakit kelamin setelah membatalkan tes medis.
Sayangnya tak ada catatan medis. Tak ada bukti. Hanya klaim dari mimbar.
Konfrontasi, Kekerasan, dan Penghapusan Bukti
Saat tim investigasi menghadiri acara Spirit Life Conference yang menghadirkan Benny Hinn di Chicago, kekerasan terjadi. Kameramen Pasha dipukul, direkamannya dihapus paksa.
“Aku dicekik seperti George Floyd. Kepalaku dibenturkan, dan mereka mencoba menghapus semua bukti kekerasan,” ujarnya.
Pelakunya diduga tim keamanan gereja, termasuk Chad Willis, anak dari Bishop Dan Willis, yang juga petugas polisi cadangan.
Seorang jurnalis independen yang menyamar untuk masuk, diseret keluar secara kasar. “Mereka tidak ingin kebenaran terungkap,” ujar seorang saksi.
Eksploitasi Ayat dan Teologi Bertopeng Bisnis
Teologi kemakmuran telah menjadikan banyak gereja seperti korporasi raksasa. Ayat-ayat suci dijadikan alat marketing. Tuhan berubah menjadi “ATM surgawi.”
“Kalau kamu belum diberkati, mungkin kamu belum cukup beriman… atau belum cukup memberi,” ucap seorang pengkhotbah dari gereja Copeland, sambil mempromosikan donasi via kartu kredit dan SMS.
Bahkan saat Hari Ibu, gereja menyelipkan promosi dagang: “Diskon hingga 50% di toko buku gereja!”
Daniel Chapman, mantan anggota Word of Faith Movement selama 23 tahun, menyimpulkan: “Aku percaya. Aku berdoa. Tapi mukjizat tak datang. Aku menyalahkan diriku sendiri karena katanya aku kurang beriman. Injil kemakmuran adalah pembunuh iman.”
Di era krisis dan ketidakpastian, janji kekayaan surgawi laku keras. Tapi apakah ini sungguh iman… atau eksploitasi penderitaan?
“Mereka menjadikan diri mereka perantara antara manusia dan Tuhan, dan memanipulasi orang yang sedang menderita.” — Daniel Chapman.
John Piper seorang teolog, pendeta, dan penulis terkenal di kalangan Protestan Injili mengkritik fenomena ini. Pendiri Desiring God ini menyampaikan kritiknya terhadap Injil Kemakmuran melalui berbagai platform, termasuk khotbah, buku, artikel, dan podcast yang diterbitkan di situs webnya.
Salah satu artikelnya yang paling terkenal dan secara langsung membahas isu ini adalah “Prosperity Preaching is a Soul-Destroying Heresy” yang ia publikasikan pada 2012. Dalam artikel itu, ia secara eksplisit menguraikan mengapa Injil Kemakmuran bertentangan dengan Alkitab dan merusak jiwa.*




