Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

‘Abdan Syakura; Pintu Bahagia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 April 2016 12:31 12:31 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 April 2016 12:31
Bagikan
ilustrasi: qiyamul lail
Bagikan

 

Oleh: Ramadhan

 

SUATU malam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam pernah ditanya oleh ‘Aisyah radiaAllahuanha, istri beliau, begini sekira pertanyaannya, “Ya Rasulullah kenapa engkau melakukan ini, bukankah Allah Ta’ala telah mengampuni dosamu yang sekarang dan yang akan datang?” Tidak bolehkah aku termasuk hambaNya yang banyak bersyukur, jawab beliau.

Pertanyaan tersebut diatas terlontar dari istri Rasulullah yang bergelar humairah itu, karena melihat baginda Rasul selalu mendawamkan qiyamul lail. Yang menyebabkan kedua kaki beliau mengalami bengkak-bengkak. Subhanallah! Begitulah baginda rasul mencontohkan kepada ummatnya dalam bersyukur. Sebagai seorang hamba ingin sekali menjadikan ibadah qiyamullail  adalah yang utama. Sebagaimana manusia agungMu Rasulullah Muhammad Nabi akhir zaman. Amin yaa Rabb. Begitu kira-kira ungkapan hati, membuncah ketika iman sedang bertambah untuk beberapa masa.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Dikala iman bertambah rasanya seluruh amalan-amalan utama akan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Namun dikala menurun jangankan yang sunnah yang wajib saja malas-malasan dilakukan. Sungguh manusia itu bodoh dan zalim. Pernah suatu ketika, ada teman yang menyampaikan, akhi kalau ada masalah biasanya ana melakukan ibadah dengan khusyu’, tumakninah dan merendahkan diri dihapan Allah Ta’ala. Namun dikala jaya, rasanya ibadah itu terasa berat dan tidak ada kenikmatan.

Sebagian besar kaum muslim sangat mudah melafalkan kalimat syukur yaitu: Alhamdulillah (segala puji bagi Allah).Atas nikmat yang diberikan berupa, mata, telinga, hidung, tangan, kaki, hati dan sebagainya. Bahkan non muslim pun dengan fasih melafalkan kalimat tayyibah itu. Diantara kita sering terbatas mengartikan nikmat Allah Ta’ala. Kita seringkali berfikir sempit akan nikmat Allah yang diberikan. Anggapannya, nikmat Alla Ta’ala hanya berbentuk materi. Sebagaimana kaum materialistik menilai bahwa barometer nikmat itu materi. Berupa uang dan benda berharga lainnya.

Nikmat Allah berupa panca indera, yang dengannya kita mampu bernafas, kita mampu berbicara, melihat dan mampu mendengar  sering kita tidak hitung!Bukankah kalau kita hargakan nikmat mulut misalnya yang dengannya kita mampu berbicara. Dengan berapa pun bandrol yang akan dibayarkan. Maka pasti tidak akan mau merelakan, untuk dijual atau dihargakan nikmat itu. Artinya, satu nikmat saja, tidak mau merelakannya menjauh dari tubuh ini. Apalagi beberapa nikmat yang melekat pada  anggota tubuh ini hilang.Begitu bijaksana Allah Ta’ala mengingatkan, dengan firmanNya dalam surat Al-Mulk ayat 23:

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ

”Katakanlah dialah yang mencipatakan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.”

Cara bersyukur insyaAllah sangatlah mudah, misalnya saja mensyukuri pendengaran, ya dengan mendengarkan nasehat-naehat dari orang ‘alim. Kemudian nasehat itu dijalankan dalam kehidupan harian. Jangan sampai mendengarkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Misalnya saja dengan mendengarkan lagu-lagu jahiliah modern yang justru menjauhkan dari mengingat Allah Ta’ala.

Kalau kita mau mensyukuri penglihatan, lihat saja ciptaan Allah yang terbentang luas di jagad raya. DenganciptaanNya berupa matahari, kita jadi mengetahui antara siang dan malam. Bagaimana jadinya kalau mata ini buta, tentu Bumi akan terasa gelap selamanya. Tiada benda yang dapat dilihat. Tiada saudara yang dapat dikenal. Tiada ciptaan Allah yang mampu dikenali. Semua terasa gelap! Naudzubillah! Sungguh kita sedikti sekali beryukur? Kita lebih memilih melihat tayangan-tayangan yang notabene jauh dari budaya Islam. Yang sekarang tambah marak di televisi dan tidak kenal waktu jam tayangnya. Bukankan kelak diakhirat  sebagai orang yang beriman meyakini, apa yang didengar, dilihat akan dimintai pertanggungjawaban dihadapanNya. Dan seluruh anggota tubuh diyaumil hisab akan menjadi saksi atas apa yang dilakukan selama di dunia fana ini.

Dengan melihat dan kemudian berfikir apa yang menjadi ciptaan Allah Ta’ala, sebagai hambaNya akan merasakan bahwa diri ini adalah kecil dan tidak memiliki kekuatan dihadapanNya. InsyaAllah dengan tafakkur menjadikan iman akan semakin bertambah dan rasa syukur pun semakin bersemi. Kita juga dianjurkan untuk memikirkan apa yang menjadi ciptaan Allah Ta’ala. “Tafakkaruu fii kholkillah, walaa tafakkaruu fidzatillaah” ya kita berfikir akan ciptaan Allah saja sudah mendatangkan keyakinan akan ke Maha Agungan Allah Ta’ala.

Pesan Allah yang lain pada penghujung surat Al-Hasyr juga perlu dihayati, bahwa Allah Ta’ala firmankan. Apa-apa yang ada dilangit dan dibumi ini bertasbih kepadaNya. Dengan caranya sendiri-sendiri. Kalau apa yang terbentang diantara bumi dan langit beserta isinya bertasbih dan memuji akan keMaha Besaran Allah Ta’ala. Kenapa diri ini sedikit beryukur? Kenapa sedikit berfikir? Kenapa sedikit bertasbih kepada Allah Ta’ala? Kita seharusnya malu, Dia telah menganugerahkan akal, yang membedakan kita dengan makhluk ciptaanNya yang lain. Merasa enggan untuk mengingat dan memuji Allah Ta’ala.Bagaimana kalau nikmat itu dicabut!? Sungguh amat sedikit kita bersyukur!

Bukankah ketika seorang hamba mensyukuri nikmat-nikmatNya, Dia akan mengiringiNya dengan tambahan nikmat berikutnya. Pun sebaliknya ketika tidak mensyukuri nikmat-nikmat Allah Ta’ala, kita akan mendapatkan siksa berupa azab yang pedih.Sebagai hambaNya, kita berbeda-beda cara mencari ketenangan, ada yang tanpa putus dalam  mencari harta dunia karena ia beranggapan dengan banyaknya harta akan mendatangkan ketenangan.Anggap saja sudah dapat beli sepeda, ingin beli motor. Sudah dapat beli motor, ingin beli motor yang keluaran terbaru. Sudah dapat motor terbaru, ingin beli mobil. Begitu seterusnya harta dunia terus di buru. Namun itu semua malah tambah mendatangkan kegelisahan.

Bukankah ada resep sederhana dalam mencari ketenangan, yaitu mengingat Allah Ta’ala. Dan ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang! Karenanya ayo kita mensyukuri nikmat hati ini dengan mengingat Allah Ta’ala. Agar kita sebagai manusia yang pelupa ini, memiliki semangat untuk terus memupuk rasa syukur kepadaNya. Sehingga dengannya kita memperoleh bahagia, yaitu gelar dari Allah Ta’ala sebagai ‘abdan syakuura. Yaitu hamba yang memperoleh bahagia dengan selalu memupuk rasa syukur kepada Allah Ta’ala. Allahu a’lam.*

*Dai Hidayatullah Nusa Tenggara Barat

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:doahatiqiyamullailsyukurtenang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pompeii: Kota “Kaum LGBT” yang Hilang [1]
Tulisan selanjutnya Warga Bantu Proses Autopsi, Muhammadiyah dan Komnas HAM Ucapkan Terimakasih

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Luncurkan Atlas Sejarah Islam Digital, Rekam Berbagai Peradaban Selama 1.300 Tahun

Berita
27 Agustus 2026 15:03
‘Israel’ Cemas, Rudal Hipersonik Baru Turki Dinilai Jadi Ancaman Zionis
Zaitun Rasmin Kembali Pimpin Wahdah Islamiyah, Terpilih untuk Periode 2027–2031
Serangan ‘Israel’ Hancurkan Gudang Bantuan, 7 Orang Syahid di Gaza
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria

Terbaru

  • Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’
  • Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul
  • 10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
  • Genosida Rwanda: Pengadilan Belanda Penjarakan Seorang Tersangka Seumur Hidup
  • Suriah Angkat Pemimpin YPG Jadi Penasihat Kepresidenan
  • ‘Israel’ Persenjatai Geng Kriminal untuk Rampok dan Usir Warga Palestina di Gaza
  • Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset
  • Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata
  • Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama
  • Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?