“Beruntunglah bagi siapa yang disibukkan oleh aibnya sendiri sehingga tidak sempat mengurusi aib orang lain, dan celakalah bagi siapa yang melupakan aibnya sendiri namun luang waktunya untuk mengurusi aib orang lain.” (Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)
Hidayatullah.com | PERNAHKAH kita merasa begitu jeli menghitung butir-butir kesalahan orang lain di media sosial atau dalam obrolan harian, namun mendadak buta saat harus menatap tumpukan dosa di cermin sendiri? Mengapa lisan kita begitu ringan menguliti aib sesama, sementara hati kita begitu berat untuk mengakui kekurangan pribadi?
Ada manusia yang begitu fasih mengomentari kegagalan moral orang lain, namun gagap saat harus mengakui kekhilafan diri. Padahal, keselamatan seorang hamba dalam perspektif Islam justru terletak pada kemampuannya untuk berbalik ke dalam, menatap cermin batinnya, dan menyibukkan diri dengan perbaikan aibnya sendiri.
Fenomena ini sejatinya telah digambarkan dengan sangat lugas oleh sahabat Nabi, Abu Hurairah Ra., beliau berkata:
يُبْصِرُ أحَدُكُمُ الْقَذَاةَ فِي عَيْنِ أَخِيهِ، وَيَنْسَى الْجَذْعَ أَوِ الْجِذْلَ فِي عَيْنِهِ
“Salah seorang di antara kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi lupa pada batang pohon yang ada di matanya sendiri.” (Imam Ahmad, Az-Zuhd, 146).
Al-Qur’an telah memperingatkan bahaya mencela sesama dalam Surah Al-Hujurat [49] ayat 11:
وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ
“…. Dan janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman….”
Dalam tafsir Thabari dijelaskan: “Orang yang mencela saudaranya, hakikatnya mencela dirinya sendiri; karena kaum mukminin itu bagaikan satu tubuh, di mana sebagian mereka berkewajiban terhadap sebagian yang lain untuk memperbaiki urusannya, menginginkan kebaikannya, dan mencintai kebaikan untuknya.” (Tafsīr al-Thabarī, XXI/366).
Lebih dari itu, secara lebih dalam, ayat ini juga mengajak kita untuk tidak merasa lebih suci. Rasulullah SAW juga bersabda:
طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ
“Beruntunglah orang yang kesibukannya dengan aibnya sendiri membuatnya lupa dari aib orang lain.” (HR. Al-Bazzar).
Di era di mana privasi menjadi barang mewah dan menghakimi menjadi hobi, nasihat para salaf saleh tentang pentingnya menyibukkan diri dengan aib sendiri menjadi oase yang sangat kita butuhkan untuk menyelamatkan kewarasan iman.
Menyibukkan diri dengan dosa orang lain bukan sekadar membuang waktu, melainkan sebuah kerugian sistemik bagi iman. Abu Ad-Darda’ Ra. memberikan nasihat yang sangat relevan dengan budaya “jempol netizen” masa kini: “Wahai anak Adam, urusilah dirimu sendiri. Sesungguhnya siapa yang terus memperhatikan apa yang ia lihat pada orang lain, maka kesedihannya akan memanjang dan amarahnya tidak akan sembuh.” (Abu Nu’aim, Al-Hilyah, I/168).
Ketika kita fokus pada keburukan orang lain, kita sedang membuka pintu bagi rasa dengki, prasangka buruk (suudzon), dan kesombongan. Bakr bin Abdullah rahimahullah pernah berpesan agar kita menjauhi prasangka buruk. Mengapa? Karena jika prasangka buruk kita benar, kita tidak mendapat pahala; namun jika prasangka itu salah, kita jelas berdosa. Ini adalah sebuah “transaksi” yang pasti merugi (Abu Nu’aim, Al-Hilyah, I/371).
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam “Miftāh Dāris Sa’ādah” (II/295) merumuskan sebuah indikator kebahagiaan yang sangat presisi: “Tanda kebahagiaan adalah saat seorang hamba menjadikan kebaikan-kebaikannya berada di belakang punggungnya (dilupakan), dan dosa-dosanya berada di depan matanya. Sedangkan tanda kecelakaan adalah saat ia menjadikan kebaikan-kebaikannya di depan mata, dan dosa-dosanya di belakang punggungnya.”
Beliau kemudian menegaskan, “Beruntunglah bagi siapa yang disibukkan oleh aibnya sendiri sehingga tidak sempat mengurusi aib orang lain, dan celakalah bagi siapa yang melupakan aibnya sendiri namun luang waktunya untuk mengurusi aib orang lain.”
Senada dengan itu, Muhammad bin Ka’b al-Qurazi menyatakan bahwa tanda jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba adalah ketika ia dikaruniai tiga hal: pemahaman agama yang mendalam, kezuhudan terhadap dunia, dan kemampuan melihat aibnya sendiri (Ibnu Jauzi, Shifatu ash-Shafwah, IV/473). Tanpa kemampuan melihat kekurangan diri, seseorang akan terjebak dalam istidrāj (jebakan kenikmatan yang membinasakan). As-Sari as-Saqathi menyebutkan bahwa salah satu tanda istidrāj adalah buta terhadap aib diri sendiri sendiri (Ibnu Jauzi, Shifatu ash-Shafwah, II/627).
Salah satu akar dari kegemaran menguliti aib orang lain adalah merasa diri telah suci. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menceritakan nasihat ayahnya: “Janganlah engkau merasa lebih baik dari siapapun yang mengucapkan Laa ilaha illallah, sampai engkau benar-benar masuk surga dan dia masuk neraka. Jika itu terjadi, barulah nyata bahwa kau lebih baik darinya.” (Abu Nu’aim, Al-Hilyah, I/517).
Bahkan, para ulama salaf sangat berhati-hati dalam menilai ibadah orang lain. Makhul rahimahullah menceritakan pengalamannya melihat seseorang yang menangis dalam sujudnya. Beliau sempat menuduh dalam hati bahwa orang itu sedang riya (pamer). Akibat prasangka tersebut, Makhul dihukum oleh Allah dengan tidak bisa menangis (dalam ibadah) selama satu tahun (Abu Nu’aim, Al-Hilyah, II/182). Ini adalah teguran keras bahwa menghakimi isi hati orang lain adalah tindakan yang membahayakan spiritualitas kita sendiri.
Lalu bagaimana kita mulai menyibukkan diri dengan diri sendiri? Ada beberapa tips yang bisa dilakukan sesuai dengan teladan salaf saleh.
Pertama, Mencari Cermin yang Jujur. Umar bin Khattab Ra. Pernah berkata, “Orang yang paling aku cintai adalah yang mau menunjukkan aib-aibku kepadaku.” (Ibnu Qutaibah, ‘Uyūn al-Akhbār, II/410). Kita butuh sahabat yang berani menegur, bukan sekadar memuji.
Kedua, Mendahulukan Perbaikan Diri. Hasan Al-Bashri mengingatkan bahwa kita tidak akan mencapai hakikat iman sampai kita berhenti mencela orang lain atas aib yang sebenarnya juga ada pada diri kita sendiri (Ibnu Abid Dunya, Mausū’ah Ibni Abid Dunya, VII/138).
Ketiga, Membangun Prasangka Baik. Yahya bin Mu’adz memberikan rumus emas terkait hal ini: “Lemparkanlah prasangka baik kepada makhluk, dan prasangka buruk kepada dirimu sendiri.” (Abu Nu’aim, Al-Hilyah, III/265). Dengan begini, kita akan selalu waspada terhadap potensi dosa sendiri dan selalu melapangkan dada terhadap kekhilafan orang lain.
Penting untuk diperhatikan, menyibukkan diri dengan aib sendiri bukanlah bentuk rendah diri yang destruktif, melainkan sebuah bentuk kecerdasan emosional dan spiritual. Sebagaimana kata Muhammad bin Sirin, “Orang yang paling banyak dosanya adalah yang paling luang waktunya untuk menyebutkan dosa orang lain.” (Ibnu Abid Dunya, Mausū’ah Ibni Abid Dunya, VII/101).
Dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih damai jika setiap individu lebih sibuk memperbaiki “rumah” batinnya masing-masing daripada melempar batu ke jendela rumah tetangga. Wallāhu a’lam. (MBS)




