Seluruh kehidupan dunia ini adalah bulan puasa bagi orang-orang bertakwa, mereka menahan diri dari syahwat yang haram. Maka ketika datang kematian, berakhirlah bulan puasa mereka dan dimulailah hari raya Idul Fitri mereka.
Hidayatullah.com | KETIKA hari raya tiba, di berbagai belahan dunia, umat Islam yang sudah menjalankan puasa dan ibadah lainnya sepanjang Ramadhan diliputi kebahagiaan yang membuncah. Berbagai ekspresi: silaturahim, maaf-maafan, baju baru, aneka makanan atau hidangan khas lebaran dan lain sebagainya turut menghiasi momentum tahunan ini.
Secara umum, orang sudah tahu bahwa hari raya ini diperuntukkan bagi orang Islam. Akan tetapi, bila ditilik lebih dalam hakikatnya, muncul pertanyaan yang melecut kesadaran: hari raya sejatinya untuk siapa? Apakah setiap orang −dalam pengertian lebih spiritual− pantas merayakan Idul Fitri?
Untuk menjawabnya, penulis ajak untuk menelaah pernyataan menarik dari kitab Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali:
لَيْسَ العِيدُ لِمَنْ لَبِسَ الجَدِيد، إِنَّمَا العِيدُ لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيد.
لَيْسَ العِيدُ لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالمَرْكُوب، إِنَّمَا العِيدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوب.
“Bukanlah hari raya bagi orang yang sekadar memakai pakaian baru, melainkan hari raya bagi orang yang ketaatannya bertambah. Bukanlah hari raya bagi orang yang berhias dengan pakaian dan kendaraan, melainkan hari raya bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.” (Lathā’ifu al-Ma’ārif, 611).
Pelan-pelan, mari kita endapkan makna yang terkandung dari kalimat-kalimat yang sangat indah ini. Pertama, memakai baju baru, terbaik dan indah secara fiqih memang sudah menjadi hal lumrah. Rasulullah pun menganjurkan umatnya memakai baju terbaik yang dimiliki untuk menyambut shalat di hari raya.
Hanya saja, pemaknaan hari raya tidak berhenti sampai di situ. Lebih dari sekadar baju, nilai penting dari hari raya adalah ketika ketaatan atau ketakwaannya kian bertambah. Dalam Al-Qur’an dengan sangat indah diungkapkan :
وَلِبَاسُ ٱلتَّقۡوَىٰ ذَٰلِكَ خَيۡرٞۚ
“(Akan tetapi,) pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A’raf [7]: 26).
Ayat ini dijelaskan oleh para salaf dengan beragam makna yang semuanya bermuara pada inti: pakaian terbaik bukanlah sekadar kain yang menutup tubuh, melainkan amal dan sifat yang menutup hati dari keburukan. Rasulullah SAW bersabda: bahwa setiap hamba akan dikenakan “pakaian amalnya” sehingga dikenal dari kebaikan atau keburukan yang ia lakukan, dan hal itu ditegaskan dengan ayat ini.
Sebagian ulama menafsirkannya sebagai iman, Islam, amal saleh, atau sifat-sifat mulia seperti rasa malu, penampilan yang baik, dan takut kepada Allah. Ada pula yang menekankan bahwa “libās al-taqwā” adalah pakaian batin yang akan dikenakan orang-orang bertakwa di akhirat, jauh lebih baik daripada perhiasan dunia. Bahkan ada yang mengaitkannya dengan perlengkapan perang seperti baju besi, karena itu pun sarana menjaga diri.
Jadi, baju takwa adalah simbol perlindungan hati dan jiwa: iman, amal saleh, rasa malu, ketakwaan, dan akhlak mulia. Semua itu lebih utama daripada pakaian lahiriah, karena pakaian dunia hanya menutup tubuh, sementara pakaian takwa menutup aib, menjaga hati, dan menjadi bekal keselamatan di akhirat.
Kedua, hari raya juga bukan soal perhiasan dan kendaraan mewah yang dipakai dan dikendarai. Yang lebih penting dari itu semua adalah apakah madrasah Ramadhan membuat kita layak untuk mendapatkan ampunan Allah SWT.
Keluar Ramadhan tanpa ampunan Allah, meski segala keindahan fisik dimiliki, makan akan menjadi sesuatu yang kurang. Bahkan, melalui riwayat Tirmidzi, Rasulullah pernah mengaminkan doa malaikat Jibril yaitu kecelakaan bagi orang yang bisa bersua bulan puasa tapi keluar darinya tanpa mendapat ampunan.
Mungkin ada yang bertanya: apa saja tanda orang telah diampuni? Dalam kitab “Lathā’ifu al-Ma’ārif” kisi-kisinya sudah diterangkan cukup gamblang. Di antaranya: istiqamah amal saleh, ketaatan bertambah, tidak kembali pada kemaksiatan sebelum Ramadhan dan ringan dalam menjalankan kebaikan. Jika, semua indikator ini bisa dimiliki dan dirasakan, itu menjadi tanda nyata seorang mendapat ampunan dari Allah SWT.
Ketaatan dan ketakwaan yang bertambah serta ampunan dari Allah menjadi hal yang sangat vital untuk orang yang merayakan hari raya sejati. Hari raya bagi orang yang memiliki kualifikasi seperti ini tidak berhenti hanya pada tataran kebahagiaan materi, tapi spiritual.
Lebih dari itu, puncak dari hari raya sejati mereka adalah ketika sudah menginjakkan kaki di surga. Ketika Imam Ahmad ditanya oleh muridnya: kapan kita bisa merasakan istirahat yang sejati, maka dengan mantap beliau menjawab:
عِندَ أَوَّلِ قَدَمٍ وَضَعَهَا فِي الْجَنَّةِ
“Begitu seseorang meletakkan langkah pertamanya di surga.” (Abu Husain bin Abd Ya’la, Ṭabaqāt al-Ḥanābilah, I/293).
Ada juga ungkapan lain yang tak kalah indah dan sarat makna:
صُمِ الدُّنْيَا وَاجْعَلْ فِطْرَكَ الْمَوْتَ. الدُّنْيَا كُلُّهَا شَهْرُ صِيَامِ الْمُتَّقِينَ، يَصُومُونَ فِيهِ عَنِ الشَّهَوَاتِ الْمُحَرَّمَاتِ، فَإِذَا جَاءَهُمُ الْمَوْتُ فَقَدِ انْقَضَى شَهْرُ صِيَامِهِمْ وَاسْتَهَلُّوا عِيدَ فِطْرِهِمْ
“Berpuasalah dari dunia dan jadikanlah kematian sebagai waktu berbuka. Seluruh kehidupan dunia ini adalah bulan puasa bagi orang-orang bertakwa, mereka menahan diri dari syahwat yang haram. Maka ketika datang kematian, berakhirlah bulan puasa mereka dan dimulailah hari raya Idul Fitri mereka.” (Ibnu Rajab, Lathāʾif al-Maʿārif fīmā limawāsim al-ʿĀm min al-Wazhāʾif, 278).
Selagi masih di dunia −bagi orang bertakwa− hari raya tidak bisa dilepas dari pengendalian diri. Buka puasa sejati mereka adalah saat ajal tiba menuju rida dan surga Allah. Itulah hari raya sejati. Yaitu, ketika ketaatan, takwa dan ampunan Allah menjadi fokus hamba, bukan sekadar atribut dunia yang fana. Wallābu a’lam. (MBS)




