Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
KajianTazkiyatun Nafs

Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Mahmud
Terakhir diupdate: 21 Maret 2026 08:11 8:11 am
Mahmud
Dipublikasikan 21 Maret 2026 08:11
Bagikan
Bagikan

Seluruh kehidupan dunia ini adalah bulan puasa bagi orang-orang bertakwa, mereka menahan diri dari syahwat yang haram. Maka ketika datang kematian, berakhirlah bulan puasa mereka dan dimulailah hari raya Idul Fitri mereka.

Hidayatullah.com | KETIKA hari raya tiba, di berbagai belahan dunia, umat Islam yang sudah menjalankan puasa dan ibadah lainnya sepanjang Ramadhan diliputi kebahagiaan yang membuncah. Berbagai ekspresi: silaturahim, maaf-maafan, baju baru, aneka makanan atau hidangan khas lebaran dan lain sebagainya turut menghiasi momentum tahunan ini.

Secara umum, orang sudah tahu bahwa hari raya ini diperuntukkan bagi orang Islam. Akan tetapi, bila ditilik lebih dalam hakikatnya, muncul pertanyaan yang melecut kesadaran: hari raya sejatinya untuk siapa? Apakah setiap orang −dalam pengertian lebih spiritual− pantas merayakan Idul Fitri?

Untuk menjawabnya, penulis ajak untuk menelaah pernyataan menarik dari kitab Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali:

لَيْسَ العِيدُ لِمَنْ لَبِسَ الجَدِيد، إِنَّمَا العِيدُ لِمَنْ ‌طَاعَتُهُ ‌تَزِيد.

Baca Juga

Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat
Atas Jasa Ulama Madzhab, Ijtihad Tidak Lagi Harus Dari Nol
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
Prajurit di Balik Layar, Pelita di Pinggir Jalan: Jejak Langkah Chumam Dasuki Merawat Literasi

لَيْسَ العِيدُ لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالمَرْكُوب، إِنَّمَا العِيدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوب.

“Bukanlah hari raya bagi orang yang sekadar memakai pakaian baru, melainkan hari raya bagi orang yang ketaatannya bertambah. Bukanlah hari raya bagi orang yang berhias dengan pakaian dan kendaraan, melainkan hari raya bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.” (Lathā’ifu al-Ma’ārif, 611).

Pelan-pelan, mari kita endapkan makna yang terkandung dari kalimat-kalimat yang sangat indah ini. Pertama, memakai baju baru, terbaik dan indah secara fiqih memang sudah menjadi hal lumrah. Rasulullah pun menganjurkan umatnya memakai baju terbaik yang dimiliki untuk menyambut shalat di hari raya.

Hanya saja, pemaknaan hari raya tidak berhenti sampai di situ. Lebih dari sekadar baju, nilai penting dari hari raya adalah ketika ketaatan atau ketakwaannya kian bertambah. Dalam Al-Qur’an dengan sangat indah diungkapkan :

وَلِبَاسُ ٱلتَّقۡوَىٰ ذَٰلِكَ خَيۡرٞۚ

“(Akan tetapi,) pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A’raf [7]: 26).

Ayat ini dijelaskan oleh para salaf dengan beragam makna yang semuanya bermuara pada inti: pakaian terbaik bukanlah sekadar kain yang menutup tubuh, melainkan amal dan sifat yang menutup hati dari keburukan. Rasulullah SAW bersabda: bahwa setiap hamba akan dikenakan “pakaian amalnya” sehingga dikenal dari kebaikan atau keburukan yang ia lakukan, dan hal itu ditegaskan dengan ayat ini. 

Sebagian ulama menafsirkannya sebagai iman, Islam, amal saleh, atau sifat-sifat mulia seperti rasa malu, penampilan yang baik, dan takut kepada Allah. Ada pula yang menekankan bahwa “libās al-taqwā” adalah pakaian batin yang akan dikenakan orang-orang bertakwa di akhirat, jauh lebih baik daripada perhiasan dunia. Bahkan ada yang mengaitkannya dengan perlengkapan perang seperti baju besi, karena itu pun sarana menjaga diri. 

Jadi, baju takwa adalah simbol perlindungan hati dan jiwa: iman, amal saleh, rasa malu, ketakwaan, dan akhlak mulia. Semua itu lebih utama daripada pakaian lahiriah, karena pakaian dunia hanya menutup tubuh, sementara pakaian takwa menutup aib, menjaga hati, dan menjadi bekal keselamatan di akhirat.

Kedua, hari raya juga bukan soal perhiasan dan kendaraan mewah yang dipakai dan dikendarai. Yang lebih penting dari itu semua adalah apakah madrasah Ramadhan membuat kita layak untuk mendapatkan ampunan Allah SWT.

Keluar Ramadhan tanpa ampunan Allah, meski segala keindahan fisik dimiliki, makan akan menjadi sesuatu yang kurang. Bahkan, melalui riwayat Tirmidzi, Rasulullah pernah mengaminkan doa malaikat Jibril yaitu kecelakaan bagi orang yang bisa bersua bulan puasa tapi keluar darinya tanpa mendapat ampunan.

Mungkin ada yang bertanya: apa saja tanda orang telah diampuni? Dalam kitab “Lathā’ifu al-Ma’ārif” kisi-kisinya sudah diterangkan cukup gamblang. Di antaranya: istiqamah amal saleh, ketaatan bertambah, tidak kembali pada kemaksiatan sebelum Ramadhan dan ringan dalam menjalankan kebaikan. Jika, semua indikator ini bisa dimiliki dan dirasakan, itu menjadi tanda nyata seorang mendapat ampunan dari Allah SWT.

Ketaatan dan ketakwaan yang bertambah serta ampunan dari Allah menjadi hal yang sangat vital untuk orang yang merayakan hari raya sejati. Hari raya bagi orang yang memiliki kualifikasi seperti ini tidak berhenti hanya pada tataran kebahagiaan materi, tapi spiritual.

Lebih dari itu, puncak dari hari raya sejati mereka adalah ketika sudah menginjakkan kaki di surga. Ketika Imam Ahmad ditanya oleh muridnya: kapan kita bisa merasakan istirahat yang sejati, maka dengan mantap beliau menjawab:

عِندَ أَوَّلِ قَدَمٍ وَضَعَهَا فِي الْجَنَّةِ

“Begitu seseorang meletakkan langkah pertamanya di surga.”  (Abu Husain bin Abd Ya’la, Ṭabaqāt al-Ḥanābilah, I/293). 

Ada juga ungkapan lain yang tak kalah indah dan sarat makna:

صُمِ ‌الدُّنْيَا وَاجْعَلْ فِطْرَكَ الْمَوْتَ. الدُّنْيَا كُلُّهَا شَهْرُ صِيَامِ الْمُتَّقِينَ، يَصُومُونَ فِيهِ عَنِ الشَّهَوَاتِ الْمُحَرَّمَاتِ، فَإِذَا جَاءَهُمُ الْمَوْتُ فَقَدِ انْقَضَى شَهْرُ صِيَامِهِمْ وَاسْتَهَلُّوا عِيدَ فِطْرِهِمْ

“Berpuasalah dari dunia dan jadikanlah kematian sebagai waktu berbuka. Seluruh kehidupan dunia ini adalah bulan puasa bagi orang-orang bertakwa, mereka menahan diri dari syahwat yang haram. Maka ketika datang kematian, berakhirlah bulan puasa mereka dan dimulailah hari raya Idul Fitri mereka.”  (Ibnu Rajab, Lathāʾif al-Maʿārif fīmā limawāsim al-ʿĀm min al-Wazhāʾif, 278).

Selagi masih di dunia −bagi orang bertakwa− hari raya tidak bisa dilepas dari pengendalian diri. Buka puasa sejati mereka adalah saat ajal tiba menuju rida dan surga Allah. Itulah hari raya sejati. Yaitu, ketika ketaatan, takwa dan ampunan Allah menjadi fokus hamba, bukan sekadar atribut dunia yang fana. Wallābu a’lam. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:hari rayaHeadline
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kubah Emas dan Masjid Al-Aqsha Yerusalem dalam Bahaya Penjajah Israel Larang Shalat Idul Fitri di Masjidil Aqsha
Tulisan selanjutnya Armada Kapal Bantuan Terbesar Siap Terobos Blokade Israel atas Gaza

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman

Berita
30 Agustus 2026 10:13
Suriah Angkat Pemimpin YPG Jadi Penasihat Kepresidenan
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
Korban Meninggal Gempa NTT Capai 103 Orang, Sebagian Besar Perempuan dan Lansia
Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Kajian

Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution

30 Juni 2026 22:36
Lentera Hidup

Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

30 Juni 2026 10:26
Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?