Sambungan artikel KEDUA
Oleh: Umar Syarifudin
PADA konflik Ukraina hingga sampai tahun 2015, Rusia menentang AS secara terbuka di setiap kesempatan. Rusia kembali menemukan identitasnya sebagai kekuatan regional yang merebut kembali Kazakhstan dan Uzbekistan dari cengkraman AS. Setelah 20 tahun tak tertandingi, AS mengalami shock ketika menemukan banyak negara-negara kapitalis lainnya berani bermanuver.
Setelah 200 tahun mendominasi benua Amerika, AS kini kehilangan pengaruhnya di Amerika Latin yang mulai kembali ke akar budayanya sejak masa Deklarasi Monroe 1823.
Walau demikian, AS masih berhasil menangkis segala intervensi Uni Eropa ke benua Amerika. Kemenangan pemerintahan-pemerintahan berhaluan kiri di Venezuela, Brazil, Argentina, Uruguay, Bolivia, Chili, dan Nikaragua, mampu menjadi negara-negara independen yang menjalankan agenda mereka tanpa intervensi Washington.
Cengkraman ekonomi Amerika Serikat yang dimulai sejak PD II kini bersaing kekuatan-kekuatan ekonomi baru seperti China, India, Jepang, Jerman, dan Rusia. Dan tantangan terbesar ekonomi AS datang dari China, dimana keduanya telah memilki hubungan kompleks. Perusahaan-perusahaan AS ingin menggarap 1,5 miliar penduduk China, sementara pada saat yang sama 70% produk China memasuki pasar AS.
China lebih diuntungkan. Kesempatan besar AS adalah mensuplai kebutuhan minyak China. Namun, AS tidak memiliki kendali sepenuhnya dan tak dapat dengan mudah mendikte China.
Dulu raja Faishal dari Saudi Arabia pernah melakukan embargo kepada Barat November 1973. Ketika balik digertak, bahwa Saudi akan diembargo secara ekonomi, dia mengatakan bahwa bangsa kami tidak butuh produk anda. Kami semenjak masa nenek moyang telah terbiasa makan kurma dan air. Itu sudah cukup buat kami.
Karena faktor islamlah, Amerika Serikat enggan untuk berkonfrontasi langsung dengan rakyat Suriah, sehingga harus memanfaatkan negeri-negeri tetangganya seperti Iran, Arab Saudi, dan Yordania untuk melumpuhkan perlawanan rakyat.
AS menyadari karakter Islam pada kelompok pejuang Islam di Suriah telah menjadi dilema besar bagi negara itu. kedekatan pejuang Islam dengan masyarakat membuat mereka mendapat simpati dan dukungan dari rakyat. Sementara Amerika Sendiri, khawatir dengan para pejuang Islam yang menginginkan pemerintahan Islam yang menerapkan syariah Islam.
Ya, sekarang runtuhlah dogma bahwa Amerika Serikat tak tertandingi. Amerika Serikat sedang menyaksikan hari ini. Kejayaannya berakhir.
Posisi Kita
Negeri-negeri Islam memang diberkahi, pertumbuhan jumlah penduduknya yang bagus, luas wilayahnya membentang dari Maroko sampai Merauke, jika kekuatannya digabung akan menjadi angkatan bersenjata terbesar di dunia dan memiliki potensi senjata nuklir terkuat. Paradoks, hari ini telah dipaksa membungkuk di depan Amerika melalui sekelumit agen-agennya di dalam tubuh kepemimpinan politik dan militer.
Agen-agen pengkhianat ini menggunakan angkatan bersenjata, intelijen, wilayah darat dan udara untuk memungkinkan Amerika mengontrol negeri kita, sesuatu yang tidak bisa direalisasi sendiri oleh Amerika. Kelompok kecil pengkhianat itu adalah kepanjangan tangan-tangan imperialis barat. Imperialis barat itu telah dicampakkan di seluruh penjuru dunia karena kezaliman dan arogansi mereka.
Sementara Allah Subhanahu Wata’ala telah memerintahkan kita untuk tidak memberikan loyalitas kepada musuh, seperti yang tercantum pada firman-Nya berikut:
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri -Nya. Dan hanya kepada Allah kembali.” (QS Ali Imran: 28)
Padahal kita memiliki sumber-sumber daya yang tidak dimiliki oleh kekuatan besar di dunia. Agen-agen pengkhianat telah mengangkat kaum kafir di atas kepala kita padahal mereka adalah orang-orang yang membenci Islam dan pemeluknya. Padahal kita meyakini Islam agama hakiki satu-satunya di dunia yang membangkitkan umat yang memimpin dunia selama beberapa abad, dan dahulu Peradaban Khilafah menjadi stasiun ketakjuban dan belum bisa disaingi sama sekali.
Bagaimana kita menyerah kepada Amerika Serikat padahal Allah Subhanahu Wata’ala telah mewajibkan kepada kita untuk meninggikan kalimat kebenaran sehingga Allah memenangkan Islam dan negaranya yang agung di atas muka bumi ini?
Penulis Lajnah Siyasiyah HTI Kota Kediri