Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Penodaan Agama Kasus Syiah dan Ilusi Ukhuwah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Desember 2012 09:12
Bagikan
Seminar persatuan di UMI Makasar
Bagikan

Oleh: Kholili Hasib

KETIKA sukses menggulingkan Syah Reza Pahlevi pada tahun 1979, Ayatullah Khomeini membangun citra diri dan Iran di mata dunia Internasional dan Islam secara khusus. Vali Nasr — cendekiawan muda keturunan Iran — mengatakan, ambisi Khomeini bukan sekedar menjadikan dirinya pemimpin tertinggi Iran, atau pempimpin kaum Syiah di dunia, tapi juga memimpikan semua elemen dunia mengakuinya sebagai pemimpin tertinggi.

Wajar ia merancang strategi-strategi politis untuk diterapkan kepada umat Sunni seluruh dunia. Ketika berdiri di dalam orang Sunni, Khomeini memberikan kesan netral.  Ia menciptakan citra diri sebagai seorang pahlawan yang melawan hegemoni Barat. Wacana taqrib (pendekatan) dengan Ahlus Sunnah digaungkan. Namun persoalannya, ia menggunakan dengan cara yang salah. Tangannya berupaya menggandeng Sunni, tapi mulut tidak berhenti menista pembesar-pembesar sahabat. Sebuah upaya yang ilusif.

Ayatullah Khomeini, dan kaum Syiah Imamiyah, menciptakan wacana  politik belah bambu antara sahabat dan Ahlul Bait. Di satu sisi Ahlul Bait dijunjung tinggi sampai pada taraf tidak wajar, sementara para sahabat direndahkan, serendah-rendahnya. Pada sisi lain juga menciptakan wacana bahwa terjadi sengketa politik antara sahabat dan Ahlul Bait.

Khomeini menjatuhkan kredibilitas Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan dengan beragam tuduhan palsu. Dalam Kasyfu al-Asrar, Khomeini menuduh mereka melanggar perintah Allah swt, “Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar (Syaikhoni) melanggar al-Qur’an, bermain-main hukum Tuhan, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang haram, keduanya dzalim terhadap Fatimah binti Rasulillah saw” (hal. 126).

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Khalifah kedua, Umar bin Khattab, r.a, dituduh meragukan kenabian Nabi Muhammad saw, dan dan menentang firman al-Qur’an. Usman bin Affan, Khalifah ketiga, bersama sejumlah besar sahabat dianggap pernah melarikan diri dari perang Uhud. Ketakutan diserang kaum kafir Qurasy. Para sahabat dalam beberapa persoalan dituduh tidak taat bahkan menentang perintah Rasulullah saw (Kasyfu al-Asrar, hal. 135).

Kedua Khalifah, Abu Bakar dan Umar,  dipandang sebagai orang munafik. Ia mengatakan, “Keislaman syaihoni (Abu Bakar dan Umar), hanyalah bersifat lahiriah saja, bukan timbul dari hatinya. Mereka hanya mengharapkan kekuasaan dan pemerintahan belaka”.

Khomeini menyimpulkan bahwa para sahabat, termasuk pembesar-pembesarnya adalah orang bodoh, dungu dan penentang syariat. Ia mengatakan, “Dan sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang bodoh, dungu, berdosa, tidak pantas menduduki posisi pemimpin” (Kasyfu al-Asrar, hal. 127).

Ustman dituduh tidak segan merevisi al-Qur’an apabila terdapat ayat-ayat yang bertentangan dengan tujuan politis yang hendak dicapai. Ustman adalah penjahat, seperti jahatnya Muawiyah dan Yazid yang membunuh Husein bin Ali.

Sementara itu, sengketa antara Ali bin Abi Thalib beserta keturunannya dengan para sahabat sesungguhnya tidak pernah terjadi. Banyak keturunannya yang bernama Abu Bakar dan Umar. Anak Husein bin Ali juga ada yang bernama Abu Bakar dan Umar. Husein bin Ali pernah mengatakan bahwa mencintai Abu Bakar dan Umar bukan semata-mata sunnah, tetapi wajib hukumnya.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Saya sudah lihat sendiri sahabat-sahabat Rasulullah saw. Tidak seorangpun dari kalian yang dapat menyamai mereka. Mereka siang hari banyak berdiri ruku’ dan sujud (menyembah Allah swt), silih berganti, tampak kegesitan di dahi dan wajah-wajah mereka, seolah-olah mereka berpijak di atas bara bila mereka ingat akan hari pembalasan (akhirat) di antara kedua mata mereka tampak bekas sujud mereka yang lama, bila mereka ingat akan Allah, berlinang air mata mereka sampai membasahi baju mereka, mereka condong bagaikan condongnya pohon dihembus angin lembut karena takut siksa Allah, serta mengharapkan pahala atau ganjaran dari Allah”.

Keturunan Ali, Ja’far al-Shadiq, memulyakan para sahabat. Ia pernah mengatakan: “Abu Bakar adalah kakekku. Jika aku tidak mengangkat Abu Bakar dan Umar sebagai pemimpin dan tidak berlepas dari musuh keduanya, maka kelak di hari kiamat aku tidak mendapatkan syafaat Nabi Muhammad saw”.

Ja’far al-Shadiq memiliki silsilah yang bersambung kepada Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar al-Shiddiq. Dari garis ayahnya, beliau merupakan keturunan Rasulullah saw, sedangkan dari garis ibunya, beliau keturunan Abu Bakar al-Shiddiq. Ibu beliau adalah Farwah binti al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar al-Shiddiq.

Jadi isu sengketa tidak ada sama sekali dalam sejarah sahabat dan Ahlul Bait beserta keturunannya.

Dengan semikian, seruan ukhuwah dari Khomeini adalah ilusi, tidak akan pernah terjadi. Sebab, buku-buku Khomeini yang memuat penodaan para sahabat masih menjadi rujukan Syiah sekarang. Kitab mereka dibaca Syiah Indonesia. Menjadi buku bacaan wajib bagi kader Syiah.

Syiah selalu membuat persoalan umat. Di Suriah, rakyat yang mayoritas Sunni dibantai oleh rezin Bashar al-Asad yang berpaham Syiah Nusairiyah. Di Yaman, beberapa waktu lalu, Syiah yang mayoritas menyerang sebuah pesantren dengan senjata api. Mengakibatkan sejumlah korban meninggal dunia.

Pada Perang Salib, seorang pejabat Dinasti Fatimiyah (berpaham Syiah Ismailiyah) pernah bersekongkol dengan raja Salib untuk menghadang pasukan Nuruddin Zanki. Sehingga mengakibatkan kegagalan Zanki membebaskan Halab (Aleppo) serta mengakibatkan ribuan pasukan muslim meninggal.

Di Indonesia, sudah beberapa kali, ditemukan penodaan sahabat nabi yang berujung bentrok. Seperti di Sampang, Jember, Pasuran dan Bondowoso.

MUI Jawa Timur pernah mengingatkan bahwa jika Syiah bangkit, NKRI terancam. Peringatan ini masuk akal. Sebab, doktrin Syiah mengharuskan ketaatan kepada imamah secara mutlak. Dan penegakan imamah adalah wajib dalam pemerintahan. Kaum Syiah Indonesia lebih taat kepada Iran daripada pemerintahan NKRI. Tahun 1979, Khomeini menyerukan, agar seluruh kader Syiah di dunia Islam mengadakan revolusi, seperti revolusi di Iran.

Karena itu, kampanye ukhuwah Sunnah-Syiah selama ini adalah ilusi. Yang tujuan besarnya tidak lain adalah syiahisasi. Harusnya, penodaan terhadap sahabat ini dimeja hijaukan. Di Indonesia telah memiliki hukum bagi penoda agama yaitu PNPS tahun 1965. Bukti-bukti juga tidak dapat ditutup-tutupi. Jika, menodai presiden saja kena pasal subversif, maka harusnya penoda kesucian agama juga dapat diseret ke pengadilan. Demi menjaga ketentraman NKRI.*

Penulis adalah alumnus Pascasarjana ISID, Peneliti InPAS Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migratesyiahUkhuwah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hizbut Tahrir akan Adakan Konferensi Internasional Tentang Perempuan
Tulisan selanjutnya Aramco Diserang untuk Menghancurkan Ekonomi Saudi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?