Hidayatullah.com–Anggota parlemen Israel keturunan Arab Palestina yang kerap mengkritik kebijakan pemerintah sayap kanan Zionis, Haneen Zuabi, hari Kamis (12/2/2015) dilarang mencalonkan diri kembali dalam pemilihan umum bulan Maret besok.
Komite pemilu Israel dalam websitenya tidak memberikan alasan jelas larangan tersebut. Namun pengacara Zuabi, Hassan Jabareen, mengatakan penyebabnya adalah karena kliennya dinilai bersikap keras dan bermusuhan terhadap negara Yahudi itu.
Komite juga melarang tokoh ekstrim kanan Baruch Marzel, pengikut rabi radikal Meir Kahane yang dibunuh tahun 1990.
Zuabi, wanita berusia 45 tahun asal partai Arab-Israel, Balad, tahun 2013 juga dilarang ikut pemilu. Namun, larangan itu kemudian dibatalkan oleh Mahkamah Agung.
Dalam kasus terbaru ini, lembaga peradilan tertinggi itu diyakini juga akan memutuskan perkaranya.
Zuabi dikenal sebagai politisi yang menentang konsep Israel sebagai negara Yahudi yang berdampingan dengan negara Pelestina merdeka. Wanita keturunan Arab itu mendukung ide negara tunggal di mana orang-orang Yahudi dan Arab memiliki hak yang sama.
Saat ini populasi orang Arab di Israel mencapai 1,3 juta jiwa atau 20 persen dari total populasi.
Zuabi dibenci di Israel karena ikut berpartisipasi dalam rombongan Freedom Flotilla yang dipimpin kapal Mavi Marmara menuju Jalur Gaza untuk mendobrak blokade laut Zionis sekaligus mengantarkan bantuan kemanusiaan pada Mei 2010.
Keputusan untuk melarang Zuabi mencalonkan diri dalam pemilu diajukan oleh partai pemerintah Likud dan partai ultra-nasionalis Yisrael Beitenu. Keduanya beralasan politisi wanita itu mendukung kekuatan bersenjata melawan pemerintah Israel.
Bulan lalu, empat partai politik Arab-Israel memutuskan untuk maju dalam pemilu 17 Maret sebagai satu blok. Zuabi berada di urutan ketujuh dalam daftar caleg blok poitik itu. Menurut jajak pendapat opini publik blok politik itu bisa memenangkan 10-13 kursi dari 120 kursi di Knesset, lansir AFP*