oleh: A Adib
AMERIKA Serikat membagi-bagi pampasan pascaserangan ke Iraq dengan sekutunya, yaitu negara-negara yang ikut andil dalam agresi yang dinilai banyak kalangan melanggar hak asasi manusia dan hukum internasional.
Serangan ke wilayah Irak hanya membunuh rakyat Iraq, mulai dari bayi hingga orang lanjut usia yang tidak berdosa. Layak bagi PBB untuk segera memperhitungkan kebijakannya terhadap Bush dan para pendukungnya.
Yang pasti, tentara AS sudah banyak berkorban, dengan biaya lebih dari 80 miliar dolar AS. Tujuannya, sejak awal siap menghancurkan segala macam potensi ekonomi Irak. Bush sangat mengharapkan agar sumur-sumur minyak Iraq supaya terjaga baik, walau pihak Iraq membumihanguskan terlebih dulu.
Potensi Minyak
Pakar perminyakan Bachrawi Sanusi menilai adanya dendam Bush terhadap Iraq, terutama sejak menjelang terjadi perang Oktober 1973 di Timur Tengah, saat Irak berhasil melakukan nasionalisasi Iraq Petroleum Co (IPC) senilai 350 juta dolar AS. IPC itu terdiri atas perusahaan minyak asing seperti British Petroleum Co Ltd, Cie Francaise des Petroles (CFP), Shell Petroleum Co Ltd, Near East Development Corp ( 50-50 Exxon Copr Mobil Oil Corp.)
Terjadinya perang Oktober 1973 di Timur Tengah juga sebenarnya karena keberhasilan pihak AS yang membujuk Israel untuk menyerang Mesir dan Suria, serta pihak AS mampu memberi angin adu-domba kepada negara-negara Arab pengekspor minyak, khususnya Arab Saudi, agar melakukan embargo. Akibatnya, harga minyak dunia yang hingga bulan September 1973 hanya di bawah 2,50 dolar AS per barel terus melonjak menjadi belasan bahkan di atas 30 dolar AS per barel.
Dengan kenaikan harga ini, berarti ladang-ladang Migas, khususnya yang sudah ditemukan di Laut Utara/Laut Dalam, menjadi sangat ekonomis.
Karena itu, masih menurut catatan pengajar Universitas Trisakti Jakarta itu, salah satu hasil dari perang Oktober 1973 di Timur Tengah, terutama bagi Inggris dan Norwegia, adalah perubahan dari yang semula negara pengimpor minyak berbalik menjadi negara-negara pengekspor minyak hingga sekarang dan bahkan masa mendatang.
Walaupun perang Oktober 1973 juga berhasil membangkitkan berbagai energi alternatif, termasuk energi nuklir dunia, bangkitnya berbagai mesin-mesin yang serba hemat BBM, meningkatkan moneter/ekonomi negara-negara maju, dan lain-lain, namun bagi AS masih ada kerikil tajamnya. Kerikil itu ialah Saddam Hussein yang mampu memengaruhi OPEC dan terutama memengaruhi negara-negara Arab pengekspor minyak. Tidak heran ketika Dr Kissinger yang waktu itu sebagai Menteri Luar Negeri AS berupaya membubarkan OPEC, tetapi tidak berhasil. Kemudian pihak AS berhasil mengadu-domba antara Irak dan Iran. Bahkan terakhir, Iraq diadu-domba dengan Kuwait. “Semuanya itu telah menghasilkan kehancuran, terutama kehancuran ekonomi migas Iraq.”
Minyak Timur Tengah
Layak jika Bush makin berambisi untuk menggulingkan pemerintahan Saddam, karena dinilai sebagai penghalang bagi kemajuan perusahaan-perusahaan migas milik Bush beserta keluarga dan rekan-rekannya.
Dilihat dari cadangan minyak mentah dunia pada Januari 1995 sekitar satu triliun barel, dari jumlah ini terdapat di Irak sekitar 10%, Arab Saudi 26,1%, Persatuan Emirat Arab 9,8%, Iran 8.9%; Kuwait 9,7%, Qatar 0,2% . Semua negara di wilayah Timur Tengah itu tidak bisa berkutik menghadapi Bush, dan hanya Iraq saja. Karena itu, Saddam harus segera digulingkan.
Sebenarnya, kalau saja Irak tidak berhasil diadu-domba, sehingga terjadi perang antara Iran dan Irak pada tahun 1980-1988 dan perang dengan Kuwait Agustus 1990 yang berakhir Irak terkena embargo PBB hingga sekarang, maka potensi ekonomi migas Irak pasti makin besar. Tetapi karena pihak Bush tidak senang terhadap kebijakan politik Saddam, maka berbagai cara telah dilakukan dalam upaya menggulingkan.
Bachrawi mencoba memberi gambaran, GDP Irak pada tahun 1979 mampu mencapai angka tertinggi sepanjang kehidupan ekonomi Irak, yakni mencapai 104,6 miliar dolar AS. Dengan angka ini, maka GDP per kapita rakyat Irak mencapai sekitar delapan ribu dolar AS.
Tetapi karena berperang dengan Iran, maka GDP Irak pada tahun 1980 hanya 85,8 miliar dolar AS dan GDP perkapitanya sekitar enam ribu dolar AS.
Begitu juga setelah Iraq menyerang Kuwait, dan terkena embargo serta tekanan dari pihak AS dan sekutunya, maka GDP Irak pada tahun 1991 terus merosot menjadi 14,5 miliar dolar AS dan GDP perkapitanya hanya 780 dolar AS, dan pada tahun 1993 GDP Irak hanya 12,6 miliar dolar AS dan GDP per kapitanya hanya sekitar 600 dolar AS. Bush dan sekutunya memperkirakan, serangan terhadap Irak dapat diselesaikan dalam waktu singkat, dan Iraq diharapkan akan bangkit lagi sekiranya orang-orang Bush di Iraq sebagai pengganti Saddam Hussein mulai pegang peranan.
Iraq bagi AS dan sekutunya tidak seperti Afghanistan, Somalia, dan Aljazair. Negeri 1001 Malam itu punya keunikan tersendiri yang menarik bagi Bush untuk mengatur negeri itu pascaagresi. Wajar jika Bush dan sekutunya tidak memperbolehkan pihak lain termasuk PBB ikut campur urusan Iraq pascaperang, terutama mengatur pampasan perang berupa minyak.*
Tulisan A Adib diambil dari Analisis Berita Suara Merdeka, Senin, 7 April 2003