Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Mesir dan Urgensi Perubahan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 Februari 2011 09:11
Bagikan
Bagikan

Oleh: Syamsi Ali

TULISAN ini tidak saja merujuk kepada perkembangan mutakhir di Timur Tengah, Tunisia, Mesir, Yaman, Yordan, dll., bahkan merujuk kepada seluruh kaum Muslimin dan bahkan seluruh umat manusia. Bahwa perubahan adalah ‘sunnatullah fil khalq’ (Hukum Allah dalam Penciptaan) dan karenanya menjadi dasar penting dalam ciptaan itu sendiri. Artinya, hidup itu identikal dengan perubahan. Dengan kata lain, hidup itu berubah, dan manusia sebagai ‘sayyidul khalq’ (penghulu dari segala ciptaan atau the best/master of all creation) dituntut untuk bangkit menjadi pelaku atau agen perubahan.

Tengoklah alam sekitar, semuanya mengalami perubahan. ‘Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam adalah tanda-tanda (kebesana Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal’ (Al-Imran). Kata ‘pergantian siang dan malam’ menunjukkan perputaran kosmos yang tiada henti. Menunjukkan bahwa perubahan adalah konstan dan alami sifatnya.

Surah Yaasiin barangkali lebih gamblang menjelaskan bahwa setiap partikel dan alam semesta ini, setiap debu dari bermilyar-milyar bagian dari alam semesta ini ‘berjalan pada porosnya masing-masing’ (wa kullun fii falakin yasbahuun). Menunjukkan bahwa alam semesta ini mengalami ‘pergerakan’ dan ‘perubahan secara ‘berkesinambungan’ dan ‘sinergi’ tunduk patuh di bahwa hukum Allah dalam penciptaan tadi.

Ayat-ayat al-Qur’an begitu kaya dengan informasi dan ilustrasi tentang ‘pergerakan’ (harakah) dan ‘perubahan’ (taghyiir) itu. Sehingga sangat terasa betapa al-Qur’an mendorong mereka yang meyakininya untuk terus menerus melakukan pergerakan dan perubahan. Seolah dengan gambaran alam dalam pergerakan dan perubahan Allah menyampaikan ‘peringatan’ bahwa cuma ada tiga pilihan bagi manusia: aktif menjadi pelaku perubahan, berjalan seiring secara harmoni dengan perubahan alamiah, atau menjadi objek (atau mungkin korban) dari perubahan itu sendiri.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Bahkan hidup manusia itu sendiri cukup menjadi bukti terjadi perubahan konstan dalam kehidupan. Kehidupan jasad maupun non jasad keduanya mengalami perubahan dari masa-masa. Manusia terlahir dalam keadaan lemah, tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah kuat, lalu lambat laun mengalami penurunan, dan pada akhirnya kembali seperti semula. Secara kejiwaan juga manusia mengalami perubahan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Terkadang gembira, tidak jarang pula menjadi sedih. Terkadang bahagia dan juga terkadang merasakan perihnya hidup.

Misi Rasul

Mayoritas umat memahami bahwa diutusnya para rasul tidak lebih datang untuk menyampaikan pesan langit tentang ‘keesaan Pencipta’ (tauhid). Tentunya benar. Bahkan ayat al-Qur’an mendukung hal tersebut ‘Dan sesungguhnya Kami telah mengutus para nabi untuk mengajak: sembahlah Allah, tiada tuhan selain Dia’ (maa lakum min ilaahin ghauruh).

Masalahnya adalah, apakah pemahaman ‘tauhid’ terbatas hanya kepada masalah ‘tologis’? Ataukah pemahaman tauhid itu justeru harus mampu melahirkan konsekwensi-konsekwensi sosial dalam kehidupan manusia, termasuk ‘kesetaraan’ (equality) manusia itu sendiri.

Berpijak dari pemahaman ‘konsekwensi sosial’ tauhid inilah dapat dikatakan bahwa salah satu tujuan mendasar dari diutusnya para rasul adalah untuk melakukan perubahan ‘fundamental’ dan ‘komprehensif’ dalam kehidupan manusia. Saya katakan fundamental karena perubahan dimulai dari perubahan ‘hati’ yang memang sumber prilaku manusia. Dan komprehensif karena memang perubahan yang dibawa para rasul tidak bersifat parsial. Tapi mencakup seluruh tatanan kehidupan itu sendiri.

Jika ambil nabi Nuh AS sebagai contoh. Beliau memang dimulai dari tujuan melakukan perubahan dalam pemahaman tauhid ‘teologis’. Tapi pada akhirnya adalah terjadi ‘edukasi persepsi’ kepada Nuh AS itu sendiri. Edukasi persepsi ini sangat penting dalam mengawali perubahan itu sendiri. Sebab jika persepsi tidak berubah, maka akan sulit untuk diharapkan adanya dorongan untuk berubah dan melakukan perubahan itu sendiri.

Edukasi persepsi yang besar terhadap nabi Nuh AS adalah dalam konsep hubungan antar manusia itu sendiri. Bahwa hubungan antar manusia itu tidak saja ditentukan oleh hubungan darah (keturunan), tapi lebih dari itu adalah hubungan ‘hati’ (iman). Maka di saat anaknya membangkang untuk ikut ayahnya ke atas perahu, Nuh AS sangat bersedih dan memohon kepada Allah SAW agar anaknya diselamatkan. Tapi Allah SWT secara tegas mengatakan ‘Dia bukan anggota keluargamu, sungguh apa yang kamu minta itu adalah perbuatan yang keliru’ (al-Qur’an).

Contoh lain, Ibrahim AS misalnya. Maka sungguh proses perubahan itu begitu besar, dan dengan perjalanan panjang yang duka dan duri. Ibrahim AS dibesarkan dalam lingkungan yang terhormat. Ayahnya saudagar kaya dan punya koneksi dengan penguasa. Tapi kecerdasan (baik akal maupun spiritual) Ibrahim tidak menjadikannya terbuai dengan semua kemudahan dan kemurahan hidup itu.
Kata batinnya pun memberontak. Melakukan resistensi dengan masyarakat sekitar yang telah menerima keadaan sebagai sesuatu yang normal. Di sinilah Ibrahim bangkit melakukan perubahan, mulai dari perubahan dirinya sendiri denagn merubah persepsi dasar dalam keyakinannya. Perjalanan panjang mencari kebenaran itu berakhir dengan ‘Sungguh saya menghadapkan wajahku kepada Tuhan Pencipta alam, tiada sekutu bagiNya’.

Perubahan persepsi dasar itu (akidah) menjadi modal utama Ibrahim kemudian untuk melakukan perubahan secara luas. Singkatnya, perjalanan hidunya, dari Madyan ke Jerusalem, lalu ke Mekah, semuanya ditujukan untuk membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Bahkan perubahan yang telah dibawa Ibrahim itu tidak saja berlaku untuk masanya sendiri, melainkan menjadi bato fondasi perubahan dunia yang terjadi berabad-abad kemudian yang dimulai di kota Mekah dengan terutusnya Muhammad SAW, penutup semua rasul.

Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Dalam ajaran agama ini, berbagai konsep menunjukkan urgensi pergerakan dan perubahan. Satu dari banyak konsep itu adalah konsep amar ma’ruf nahi mungkar. Bahkan jika dikaji kembali ayat-ayat yang berkaitan dengan amar ma’ruf nahi mungkar, didapati bahwa konsep ini seolah peng-awal, dalam artian semua amal kebajikan itu dimulai dengan proses amar ma’ruf nahi mungkar, dan juga pengawal, dalam arti menjaga agar amal-amal kebajikan itu tidak terhenti atau terbalik menjadi amal-amal ‘ketidak bajikan’.

Inti amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah ‘perubahan’. Dan oleh karenanya, dalam kehidupan beragama pun, termasuk ibadah-ibadah khusus (shalat, puasa, haji, dzikir, dst.) menuntut adanya hal tersebut. Sebab hanya dengan upaya-uapay seperti itu semua amalan itu akan tetap terjaga dan tumbuh secara alami. Bukan merubah cara beribadah, tapi merupah ‘pola pikir’ ibadah yang terbatas kepada hanya sebagai ‘tabungan akhirat’ yang tidak meiliki konsekwensi sosial. Shalat, puasa, haji berkali-kali, tapi secara sosial juga semakin amburadul.

Ketika seorang Muslim shalat, maka dia memulai shalatnya dengan mengangkat tangan seraya mengucapkan ‘Allahu Akbar’. Itulah komitmen seorang hamba kepada sang Khaliq.

Namun shalat seorang Muslim tersebut tidak akan diterima dan sah jika tidak ditutup dengan menoleh kanan dan kiri seraya mengucapkan ‘assalamu alaikum warahmatullah’. Itulah komitmen kepedualian sosial seorang saudara dan sahabat.
Menoleh ke kanan dan ke kiri adalah simbolisasi antisipasi alam sekitar dan kepedualian sosial. Artinya, seorang Muslim itu akan selalu membuka mata terhadap segala fenomena alam sekitar, sehingga komitmen langit (vertical ) tidak harus menjadikannya buta terhadap realitas dunia yang digambarkan dengan pergerakan dan perubahan tadi.

Umat ini adalah umat yang antisipatif dan sensitive dengan alam sekitarnya. Sadar akan segala peristiwa dan tahu (karena membaca: IQRA) bagaimana menghadapinya secara positif sehingga mampu menjadi pelaku dalam hiruk pikuk pergerakan dan perubahan itu. Umat ini sadar akan tugas ‘khilafah’ untuk nenentukan kemana arah perjalanan seharusnya hidup manusia mengarah.
Jika umat ini tidak bangkit melakukan tugas tadi, maka akan ada dua kemungkinan konsekwensi: Berubah (atau dirubah) secara paksa yang terkadang menuntut harga yang mahal. Atau terombang-ambing sebagai obyek dan korban gelombang pergerakan dan perubahan yang pasti adanya.

Wahai umat di seluruh dunia, yang di Mesir, Yaman, Yordan, Suriah, wahai Negara-negara khalij (Saudi Arabia, Kuwait, Imarat, Oman, dan Qatar), hentikan arogansi khalijiyah. Sadarlah! Silahkan memilih, menjadi agen atau korban dari perubahan!. */New York, 6 Februari 2011

Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ribuan TKW di Mesir Tak Terlacak
Tulisan selanjutnya Tanggapan Berita di hidayatullah.com

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran

Berita
3 September 2026 13:38
Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas

Terbaru

  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?