Oleh: Zaenal Arifin
demo sri mulyaniDan orang yang beriman itu berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa bencana seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu.” (Al Mu’min ayat 30)
Jika Indonesia ini diibaratkan panggung, maka panggung entertainment akhir-akhir ini sungguh menjemukan dan sangat membosankan. Cerita dan kisah yang diangkat selalu sama dan memuakkan, meski aktornya bergonti-ganti. Sebut saja kasus “Hukum Antasari Azhar”, “Istana Dalam Penjara”, “Bank Century”, “Tragedi Suap Sang Anggodo”, dan banyak lagi kasus yang sudah muak kita mendengarnya tiap hari. Dan bila kita pindah channel melihat keadaan sekitar, permasalahan tetap tak jauh dari itu.
Kejahatan di mana-mana. Kakek membunuh cucu, anak membantai orangtua, Babe menyodomi dan membunuh belasan anak-anak belia. Bupati korupsi, hutan digunduli. Itu dan itu saja temanya.
Lihatlah, meningkatnya angka deforestasi (pelenyapan hutan) di Indonesia yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asing, menyebabkan setiap tahunnya kita harus kehilangan sekitar 2.000.000 ha (2 juta hektare). Menurut catatan, diperkirakan dalam 9 tahun ke depan hutan Indonesia akan habis, kemudian banjir bandang siap beraksi.
Ironinya para Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai wakil rakyat untuk membela hak-hak rakyat, malah cenderung berpihak pada proyek-proyek asing yang terus mengeksploitasi alam kita. Bersenjatakan RUU, para wakil rakyat terus berupaya memberikan yang terbaik untuk negeri ini.
Sementara itu, kebijakan pemerintah kita tampak angin-anginan dalam menyikapi permasalahan rakyat. Cermatilah kasus hukum negeri kita yang begitu. Salah satu episode hangat adalah kinerja Panitia Angket Century dalam menyelidiki skandal Bank Century. Banyak omong kosong yang dibesar-besarkan, kurang bermutunya strategi penyelidikan sehingga target data yang dikumpulkan tarik ulur bagai permen karet. Juga lihainya para saksi kunci menyembunyikan fakta.
Seorang saksi yang didatangkan ke DPR bisa bermain kata-kata dan logika. Padahal jika tak melakukan sesuatu, ia bisa menjawab ringkas dan sederhana. Tapi ia bisa bermain logika untuk menunjukkan di TV bahwa ia cerdas, sementara anggota DPR kurang pintar. Sebagai bagian dari masyarakat dan penonton panggung, penulis merasa ada sesuatu yang ditutup-tutupi.
Benang merah yang kita ambil dari pelbagai gejolak negeri ini adalah semakin maraknya “kebohongan-kebohongan” publik, baik yang dilakukan oleh para pemilik kekuasaan atau media masa. Termasuk aparatur keamanan dan penegak keadilan, yang mana akan berimplikasi lahirnya ketidakpercayaan massal.
Sementara perang saudara di mana-mana. Pelajar tawuran, perang antarkelompok dan suku terjadi di beberapa daerah di negeri yang katanya damai. Orang bisa merusak apa saja jika calonnya tidak jadi menjadi Bupati.
Berhati-hatilah wahai para penguasa, para anggota dewan, dan pihak-pihak yang kini mendapat amanah dari rakyat. Situasi ini, bisa menggiring kita pada kehancuran akibat ulah tangan kita sendiri. Contoh kongkrit di antaranya carut marutnya lembaga hukum –yang beberapa saat lalu bisa dilihat atas saktinya Anggodo. Hal ini membuat rakyat (seperti saya) bingung, ke mana mencari perlindungan jika hukuman pencuri buah kakao lebih berat dari koruptor sekelas Artalita?.
Kembalilah pada Tuhanmu
Para pejabat, penegak hukum, analis, dan pakar sering merasa percaya diri (PD), seolah-olah kebijakannya bisa menyelesaikan perkara. Lihatlah, tiap ganti orang, baik di DPR, di Kabinet, atau di pos-pos departemen terkait, masalah yang ada bukan malah selesai, justru tambah ruwet. Penonton seperti saya merasa, setiap ganti presiden, ganti masalah, dan tambah ruwet.
Jika datang masalah, semua orang dan pakar bicara di TV dengan bangganya. Seolah semua masalah bisa menggunakan nasehat akalnya atau ilmu yang pernah diperolah di kampus. Tontonan ini seperti cara main Tim Sepak bola Indonesia yang selalu kalah. Padahal para penontonnya jauh lebih pintar dalam menganalisis permainan.
Belum sempat kita bersaing secara ekonomi dengan pihak luar, namun kenyataannya pemimpin kita tidak bisa melindungi bagian dari bangsa kita dari serangan luar.
Belum sempat kita membayar hutang kita dari dana-dana pinjaman luar negeri, yang kabarnya bunganya melangit, kita sudah menyepakati kerjasama AC-FTA yang diprediksi akan menggilas sektor ekonomi rakyat Indonesia yang masih tergolong di bawah garis kemiskinan.
Bukan tak mungkin, suatu hari nanti, penjual pecel dan gudhek, bukan lagi orang Madiun atau orang Klaten. Pecel dan gudhek, mungkin kelak sudah berbentuk kemasan. Lebih rapi, bersih, murah. Tapi suasananya sudah lain, sebab pecel dan gudhek itu made in China. Sementara tetangga saya, hanya bisa menonton pertunjukkan tidak lucu ini.
Wahai para penguasa! Coba renungkan Firman Allah ini yang ada dalam surat Al Mujaadilah ayat 14: “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan pula dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui.”
Siapapun kita atau Anda, adalah manusia terbatas. Rasa PD kita untuk mengatasi masalah, kenyataannya justru malah menambah banyak masalah. Sebaliknya, dari keterbatasan ini, kita sering lupa pada yang bisa menjangkau keterbatasan itu. Dialah Allah, rabbul izzati, yang membuat ingatan dan ilmu kita menjadi bertambah.
Mintalah pentunjuk Allah dalam membuat dan melahirkan kebijakan. Lepaskan pengaruh klenik, dukun, paranormal, dan hal-hal yang paling dibenci Allah. Jadilah seorang pengemban amanah. Jauhkanlah bohong dan mengada-ada.
Sifat dunia itu terbatas dan tidak kekal. Berkuasa itu bukan lama. Menjadi presiden, menteri, anggota dewan, atau bupati, itu tak akan lebih dari dua masa. Mengapa Anda tidak berbuat baik saja? Hanya tak lebih sepuluh tahun saja, mengapa kalian menjadi orang yang merugi?
Allah memperingatkan kita dalam Al-Quran surat Yunus ayat 69 “Katakanlah : Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung.”
Janji Allah adalah sesuatu yang pasti, sebagaimana yang terdapat dalam penggalan ayat ke 152 dari Al-Quran surat Al A’raaf yaitu: “…kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah kami (Allah) memberi balasan bagi orang-orang yang membuat-buat kebohongan.”
Sekali lagi, jangan pernah ragu janji Allah. Jika kita tak menjadi peragu, insya Allah negara –yang katanya telah tersohor atas keramahan dan keindahannya di seluruh penjuru dunia ini– akan kembali memancarkan pemandangan yang indah dan tak lagi menjemukan.[hidayatullah.com]
*)Penulis anggota Syabab Hidayatullah Trenggalek.
foto courtesy: reuters pictures/dlf