Oleh: Hanif Abdullah
BOM meledak lagi. Kali ini justru di sebuah masjid di kompleks Mapolres Cirebon, dengan korban satu orang tewas dan puluhan anggota kepolisian.
Namun yang jelas, peristiwa ini mungkin kembali hanya akan menyisakan berbagai pertanyaan yang tak terjawab. Seperti halnya pertanyaan-pertanyaan yang sempat terhinggap pada kasus bom buku yang meledak di kantor JIL di Jalan Utan Kayu, dan aksi bom lainnya. Pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak kaum Muslimin dan publik Indonesia mengenai apa, siapa dan bagaimana aksi-aksi bom ini terjadi sedemikian rupa, seolah hanya menjadi pertanyaan retoris, atau pertanyaan teka-teki, yang tak pernah terjawab.
Yang menarik adalah berbagai pernyataan analis. Mereka tiba-tiba seolah terburu-buru mengeluarkan analisa bahwa pelakunya dari kalangan Islam atau pemain lama. Yang menarik, ada analis dadakan yang diwawancarai stasiun TV menuduh pelakunya kelompok takfiriyah (orang yang suka mengkafirkan).
Bagaimanapun, pernyataan-pernyataan seperti ini hanya akan menyebabkan kesesatkan berfikir masyarakat Indonesia serta menciptakan rasa curiga dan hanya akan memicu konflik horizontal. Pernyataan-pernyataan seperti ini hanya stigma buruk dan pelabelan Islam sebagai dalang teroris. Bagaimanapun, ia tak mengerti Islam. Mengatakan kelompok takfiriyah itu adalah pelabelan yang tidak main-main. Apalagi dia bukan pakah atau ahli dalam hukum Islam.
Lagipula, mengapa si analis ini begitu semangat mengarahkan semua tuduhan ini ke kelompok Islam? Ada apa gerangan?
Harusnya semua pihak memberi kesempatan polisi, menangkap pelaku, memintai keterangan agar jelas duduk permasalahannya. Apa maunya dan kenapa melakukan hal tersebut?
Ini pelaku bom belum ditangkap, namun semua elemen kuat sudah bersuara seperti paduan suara, kemudian di “soundingkan” oleh aneka media bahwa para pelaku teroris adalah dari kalangan umat Islam. Padahal terorisme bukan hanya milik satu ideologi atau suatu agama namun semua orang mempunyai bibit untuk melakukan tindakan teror. Bisa saja faktornya kebetulan. Bisa saja ternyata pelakunya adalah seorang yang mengaku Muslim.
Tak dapat kita pungkiri, bahwa memang sounding dari media inilah, yang berperan besar bagi lancarnya proses pelabelan tersebut. Sangat tidak fair, ketika pelaku terror adalah non-Islam, seperti tindakan terorisme beberapa waktu belakangan ini yang dilakukan oleh warga kristiani terhadap Muslim Medan dengan membakar lima masjid.
Namun karena pelakunya bukan umat Islam maka tidak ada yang menuduh aksi teror ini sebagai tindakan teroris dan ironisnya tak satupun orang ataupun media yang menjunjung hak asasi manusia (HAM), kebebasan dan persamaan untuk mengutuknya secara lantang seperti yang biasa terjadi, atau bahkan hanya sekedar memberi kecaman dan perhatian atas tindakan yang menyakiti hati umat Islam tersebut.
Inikah yang disebut dengan keadilan? Ya, mungkin, ini adalah keadilan. Keadilan yang berstandar ganda. Keadilan yang telah dirancang sedemikian rupa, untuk selalu memojokkan kaum Muslimin. Bila umat Islam yang melakukan tindakan anarkis maka serentak seluruh suara-suara pengasong liberalisme menuduh Islam sebagai teroris. Namun bila orang-orang non-Muslim yang melakukan tindakan teror dan aksi-aksi keji, mereka diam seribu bahasa dan tak bergeming. Alangkah lucunya negeri ini!!
Negara Bertanggung Jawab
Seharusnya bila Indonesia memang sebuah negara yang mempunyai perangkat-perangkat dan pelaksana roda pemerintahan yang menjamin keberlangsungan hidup rakyatnya tidak menjadikan elemen bangsa sebagai musuh atau obyek untuk pengalihan isu. Ini tidak akan mendidik anak-anak bangsa untuk menjadi dewasa dalam mengatasi setiap permasalahan dan persoalan yang menimpanya. Malah cenderung menambah masalah baru yang tidak akan ada habisnya.Lambat-laun negara ini akan karam dan musnah bila hanya mengadu domba rakyat versus rakyat dengan menghadirkan hantu yang bernama terorisme. Tidak akan pernah selesai dan hanya menjadi lingkaran setan yang tak ada habisnya.
Kita seharusnya jujur bahwa sistem sekarang tidak pernah sekalipun mampu untuk menyelesaikan aneka permasalahan yang menimpa negeri ini. Dari era demokrasi terpimpin ala Sukarno, demokrasi Pancasila ala Soeharto dan hari ini demokrasi liberal ala koboy Amerika semuanya telah gagal untuk menjadikan negeri ini menuju seperti apa yang dicita-citakanya. Yang terjadi justru sebaliknya, negara ini terjun bebas ke dalam jurang kehancuran.
Anehnya, banyak pihak tak jujur melihat masalah ini. Dan jika ada pihak yang menawarkan nilai-nilai Islam, semua langsung menolak dan memberi label buruk. Ada apa?
Adanya berbagai bom rupanya ada hubungan dengan semangat para penghamat dadakan di TV dan koran-koran, yang mengarahkan masalah ini selalu pada Islam.
Benang merahnya, seolah-olah ada usaha ingin menunjukkan bahwa kejadian bom selalu akan terjadi, kecuali jika lembaga intelijen diberi kewenangan luas dengan penerapan UU Intelejen yang baru. Dan jika itu yang terjadi, meminjam istilah Fauzan al Anshary, maka, akan banyak dai, ustad, aktivis Muslim ditangkapi hanya dengan alasan dicurigai.
Daripada sibuk hendak memata-matai rakyat dan membungkam aspirasi mereka, pemerintah sebaiknya mengoreksi kebijakan-kebijakan mereka yang banyak dianggap kurang pro-rakyat dan salah sasaran. Pembangunan gedung DPR yang meresahkan masyarakat, kasus Bank Century yang sekarang diabaikan, korupsi akut yang menjangkiti seluruh lini pemerintah dan aparat negara juga mafia hukum dll.
Penulis percaya, semua orang, bahkan siapapun yang memimpin negeri ini hanya akan melahirkan rasa pusing dan bingung menghadapi ruwetnya masalah. Kecuali jika mau jujur, bahwa Islam diberi kesampatan tampil memberikan warna. Percayalah tidak akan pernah ada sistem yang akan membawa sebuah negeri menjadi adil, makmur dan sejahtera kecuali sistem Islam.
Hanya saja, ini bukan pekerjaan mudah, seolah membalik telapak tangan. Karena akan banyak pihak berusaha menggagalkan dan menghalang-halangi kesempatan Islam bisa tampil menjadi solusi. Termasuk di sekeliling kita, teman, sahabat dan saudara kita sendiri yang sudah termakan fitnah dan stigma menyesatkan media. Wallahu a’lam.
Penulis bloger dan penulis lepas