Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Kerjasama Indonesia dan Lebanon

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 26 Agustus 2020 16:59 4:59 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 26 Agustus 2020 16:58
Bagikan
Bendera Lebanon
Bagikan

Oleh: Fahmi Salim

 

Hidayatullah.com | TIDAK ada manusia yang sempurna. Manusia itu tempatnya segala dosa dan kesalahan, maka menurut Rasululloh ﷺ dalam sabdanya, “Sebaik-baiknya yang berbuat dosa itu adalah yang bertobat (HR Ibnu Majah). Karena itu, sungguh aneh ada orang yang merasa dirinya sempurna dan suci, kemudian memandang rendah orang lain. Padahal, perbuatan ini jelas-jelas dilarang oleh Alloh dan Rasul-Nya.  Alloh Ta’ala berfirman, yang artinya: “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Diaah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. An Najm:32).

Inilah refleksi pembuka yang disampaikan Dubes Indonesia untuk Lebanon, H.E. Hajriyanto Y. Thohari dalam acara Ngaji Syar’ie (NGESHARE) Spesial Kemerdekaan. Selengkapnya simak di link ini:

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Orang yang merasa dirinya suci, seperti yang pernah ditulis oleh Dubes Hajriyanto dengan sebutan “Sok semuci-muci“, tidak akan lepas dari pengawasan Alloh.  Allah Maha Mengetahui apa yang tersurat dan apa yang tersirat, apa yang lahir dan apa yang batin, apa yang kita tampakkan dan apa yang kita sembunyikan, dan last but not least apa yang eksoterik dan apa yang esoterik! Tidak ada tempat dan kesempatan bersembunyi dari Allah Yang Maha Mengetahui. Jadi, kalau kita sudah berbuat kebaikan, janganlah suka pamer kepada orang lain. Karena, sesungguhnya kita tidak tahu apakah ibadah kita diterima Alloh, atau tidak.

Dalam ayat ke-32 surat An-Najm ini semula berbicara tentang orang-orang yang mengerjakan kebaikan dan kemudian meningkatkan lagi kebaikan-kebaikannya dengan amalan-amalan yang lebih baik lagi. Ciri orang ini, adalah mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Tuhanmu sungguh luas memberikan ampunan, dan Dia lebih tahu tentang kamu ketika Ia mengeluarkan kamu dari bumi, dan ketika kamu masih tersembunyi dalam rahim ibumu.

Sebagai seorang politisi, beliau tentu merasakan banyak persoalan pelik, mulai dari intrik hingga fitnah untuk menjatuhkan citra baik orang lain. Namun, jalan kehidupan akan lebih kokoh jika dilalui dengan fondasi niat karena Alloh. Berbagai jabatan penting pernah diemban Mas Hajriyanto mulai dari Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar hingga Wakil Ketua MPR RI periode 2009-2014. Lalu, beliau diangkat menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Lebanon, pada 7 Januari 2019.

Jauh sebelum berkiprah di dunia politik, Hajriyanto lebih dikenal sebagai aktivis dakwah. Lahir dari rahim Muhammadiyah sebagai kader hingga dipercaya sebagai Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah (Periode 1993-1998). Beliau juga pernah ditunjuk sebagai Ketua Badan Pengurus LAZIZ Muhammadiyah. Semangat dakwah inilah yang mengantarkannya untuk mewarnai dunia perpolitikan di Indonesia.

Menjadi duta besar tentu memiliki misi yang lebih besar membawa kepentingan Indonesia di dunia Internasional. Bagi Indonesia, Lebanon adalah sahabat yang istimewa, karena merupakan negara ke-3 yang mengakui kemerdekaan Indonesia setelah Mesir dan Suriah. Pada tanggal 29 Juli 1947, Lebanon memberikan pengakuan secara de-jure kepada NKRI melalui Presiden Lebanon Bechara El-Khoury.

Saat itu, betapa sulit untuk mendapat pengakuan internasional, karena Belanda berusaha menggunakan lobi-lobi politiknya untuk membatalkan kemerdekaan RI. Para bapak bangsa, seperti Haji Agus Salim beserta tokoh-tokoh Islam lainnya menemui para pemimpin Arab untuk menyampaikan kemerdekaan Indonesia, sekaligus meminta dukungan dan pengakuannya. Karena itulah, menurut Dubes Hajriyanto, hubungan Indonesia dan Lebanon begitu erat karena faktor historis dan kedua negara sudah menganggap sebagai saudara dekat.

Sebagai bukti persahabatan dan persaudaraan, Indonesia menempatkan 1.324 personil TNI di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menjalankan misi menjaga perdamaian (peace keeping) di negara yang sering dijuluki Parisnya Timur-Tengah ini. Bahkan, Indonesia mengirimkan kapal perang terbaiknya KRI Sultan Hasanuddin, dengan membawa 120 pasukan, yang dilengkapi dengan helikopter tercanggih.

Indonesia memiliki hubungan bilateral dengan Lebanon, termasuk hubungan ekonomi. Indonesia dan Lebanon telah menandatangani persetujuan mengenai Kerjasama Ekonomi, Teknik dan Ilmu Pengetahuan pada 12 Agustus 1999. Persetujuan Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Lebanon berisi tentang persetujuan terkait Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dan terkait Peningkatan dan Perlindungan Penanaman Modal (P3M/IGA). Sejak persetujuan Kerja Sama Ekonomi yang mulai berlaku pada tahun 2001, Indonesia terus mengalami surplus. Puncaknya, pada tahun 2017, kerja sama Indonesia-Lebanon mencapai level tertinggi yaitu di angka USD 108,9 juta atau sekitar Rp1,58 triliun dengan Indonesia surplus hingga 90 persen.

Namun, perekonomian Lebanon makin terganggu dengan tragedi ledakan besar di pelabuhan Beirut, Ibukota Lebanon yang terjadi pada Selasa, 4 Agustus 2020 lalu. Tentu saja, kita prihatin karena ledakan yang terjadi di gudang amunisi ini telah menewaskan 150 orang, dan melukai ribuan orang. Menurut Dubes Hajriyanto, tidak ada korban dari warga negara Indonesia (WNI), kecuali satu orang pekerja asal Indonesia yang mengalami luka ringan. Bersyukur lagi, KRI Sultan Hasanuddin yang biasa bersandar di pelabuhan Beirut, saat kejadian tengah berpatroli di kawasan Nakura, pinggiran Lebanon. “Saya tidak bisa bayangkan, bagaimana kalau kapal itu sedang bersandar,” ungkapnya.

Selain krisis ekonomi, yang juga paling berat dialami Lebanon adalah krisis politik Lebanon merupakan negara multi agama di Timur Tengah, dan sudah lama terperangkap dalam perang saudara dan konflik di Timur Tengah. Lebanon secara resmi mengakui 18 komunitas agama: 4 Islam, 12 Kristen, sekte Druze, dan Yudaisme. Dalam pakta nasional kemerdekaan tahun 1943, presiden negara itu haruslah Kristen Maronit, sedangkan perdana menteri haruslah Muslim Suni. Sedangkan Kepala Parlemen adalah Muslim Syiah. Karena sektarianisme politik dan kelompok inilah, menyebabkan krisis politik di Lebanon tak pernah berhenti. Generasi muda Lebanon ingin membebaskan dari sistem politik sektarianisme menjadi sistem politik yang terbuka. Sementara itu, golongan tua yang konservatif tetap ingin mempertahankan sektarianisme politik.

Dibanding Lebanon, menurut Hajriyanto, Indonesia lebih modern dalam keterbukaan sistem politik, Meski demikian Indonesia harus banyak belajar dalam hal kemajuan kebebasan berpendapat di Lebanon. Karena, Perancis yang pernah menjajah negeri ini, memberikan pengaruh banyak dalam menjunjung kebebasan, persamaan dan kemandiran. Lebanon termasuk negara perintis modernisasi Arab.

Dibanding negara-negara Arab, yang sebagian besar monarki atau republik tertutup, Lebanon merupakan negara Arab yang berfaham liberal.  Karena itulah, Lebanon, menurut Dubes Hajriyanto, merupakan surga bagi para pemikir bebas. Tak ada larangan untuk mengemukakan pemikiran sekontroversial apa pun.

Tradisi intelektual berkembang di negeri ini, yang salah satunya ditandai dengan majunya percetakan buku modern dan kitab-kitab klasik (turots). Indonesia termasuk yang banyak mengimpor kitab-kitab dari percetakan di Beirut, yang banyak digunakan di kampus-kampus Islam dan pesantren-pesantren.

Saat ini, tengah dijajaki kerjasama dengan percetakan di Indonesia, sehingga bisa memangkas harga kitab sampai 60 persen. Selain itu, Indonesia harus meningkatkan kerjasama pendidikan dan kebudayaan dengan Lebanon. Karena, mahasiswa asal Indonesia mulai banyak yang  berminat mengambil pendidikan tinggi di Lebanon, selain ke Arab Saudi, Mesir, dan Sudan. Saat ini berjumlah sekitar 100 mahasiswa.

Lebanon adalah negeri yang tak pernah lepas dari gejolak politik. Rakyat Lebanon sering melakukan aksi unjuk rasa karena ketidakpuasan terhadap pemerintah akibat krisis ekonomi dan krisis politik.

Terakhir, Perdana Menteri Lebanon Hasan Diab mengundurkan diri karena desakan rakyat pasca ledakan bom di pelabuhan Beirut.  Dalam hal ini, kita patut bersyukur hidup di Indonesia, negeri yang relatif stabilitas politiknya terjaga. Meskipun kita tengah diuji dengan pandemi Covid 19 yang berdampak pada ekonomi bangsa ini, kita tetap harus optimis dan bergandengan tangan saling membantu serta menjaga keutuhan bangsa ini, sehingga suatu saat Alloh Ta’ala mudahkan kita keluar dari krisis global ini. Wallohu ‘alam.*

Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah dan Komisi Dakwah MUI. Artikel ini disarikan dari Program Ngeshare Bersama Dubes H.E Drs. Hajriyanto Y. Thohari, MA

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Hajriyanto Y ThohariLebanonNegara Arab
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Protes Digelar Menuntut Inggris Akhiri Keterlibatan dalam Kejahatan Perang ‘Israel’
Tulisan selanjutnya Pemerintah Prancis Membela Kebebasan Wanita Berjemur di Pantai Tanpa Pakaian

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang

Berita
30 Agustus 2026 17:04
DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
Turki Luncurkan Atlas Sejarah Islam Digital, Rekam Berbagai Peradaban Selama 1.300 Tahun
Suriah Angkat Pemimpin YPG Jadi Penasihat Kepresidenan
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?