“PKS Nomer 3….
PKS Tetap di hati…”
Oleh: Lasmoyo Nugroho
JARGON “gelombang PKS meraih 3 besar” terbukti mampu menyuntikkan moral kader untuk mempertahankan eksistensinya. Bahkan semangat 3 besar ini tidak hanya menggelora di kalangan kader inti, simpatisan dan keluarganya pun turut menggelorakannya.
Yang juga tidak boleh terlupakan oleh kita semua, dukungan luar biasa yang tak terduga dari cendeiawan Muslim, para ulama, tokoh agama dan ormas-ormas Islam (termasuk Habib Rizieq Shihab, bahkan beberapa tokoh salafy Indonesia) yang selama ini selalu kritis terhadap setiap strategi yang ditempuh PKS, dan diberikan pada saat-saat akhir menjelang pemilihan efektif membukakan wacana persatuan ukhuwah islamiyah global.
Ukhuwah Islamiyah lintas jamaah ini bisa menjadi obat penawar rindu setelah melihat kondisi yang memprihatinkan di Mesir dan timur tengah pada umumnya. Ada seorang blogger yang mampu melukiskan dengan haru bagaimana proses dirinya melepaskan status golput yang selama ini diyakini sebagai keputusan terbaik dunia akhirat.
Bertahannya angka raihan PKS pada 7% memang bisa dianggap sebagai kemenangan jika menilik pada hantaman badai politik yang diterima partai da’wah selama ini baik dari dalam negeri maupun akibat dari imbas perpolitikan di luar negeri. Hal ini dibuktikan dengan unggulnya PKS di berbagai TPS di luar negeri seperti Turki, Jerman, Mesir, Pakistan, Sudan, Hongkong, Arab Saudi, Jepang bahkan Jerman. Bahkan menurut real count PKS, angka raihan kursi parlemen sudah menyentuh 10%.
Meski demikian, sebagai kader yang turut merasakan denyut pasang surutnya gairah politik PKS sejak awal berdiri hingga tahun 2014 ini, izinkan kami menyampaikan pandangan dari sudut lain atas fenomena yang dialami PKS pada Pemilu 2014 ini. Semoga bisa menjadi sumbangan pemikiran untuk ke depannya.
PKS yang lahir dari benih inspirasi da’wah Ikhwanul Muslimin tidak mungkin terlepas dari imbas pada apa yang terjadi pada semua pergerakan serupa yang sedang berkembang dan berjuang di seluruh dunia.
Arab Spring (Musim Semi Arab) meski berawal dari revolusi pemuda namun akhirnya menempatkan partai-partai berbasis Al Ikhwan al Muslimun (IM) sebagai solusi pengganti rezim yang ada.
Tahun 2013 adalah masa pergolakan yang hebat bagi pergerakan IM, di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Ada tiga peristiwa besar yang dialami PKS yang mau tidak mau harus diakui memiliki faktor pengaruh yang besar pada capaian suara pemilihan legislatif pada Pemilu 2014 ini.
Peristiwa pertama. Kasus yang menimpa pada mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaq (LHI). Meski banyak yang mempercayai bahwa peristiwa ini adalah rekayasa politik, namun apa daya masyarakat dan hokum mempercayainya sebagai fakta sehingga lawan politik menjadikannya amunisi untuk terus menerus menjatuhkan mental para kader. Otomatis simpatisan pun terpengaruh opininya.
Apakah ini berhasil ? Jika melihat angka raihan 6.9%, atau terjadi penurunan sebanyak 0.9% dari Pemilu 2009, maka bisa dikatakan ya operasi berhasil. Namun jika 0.9% dibandingkan dengan raihan Pemilu lalu yang berjumlah 7.8% ternyata hanya turun 11%, hal ini menunjukkan bahwa kader mampu menjaga kesetiaan kerabat sanak familinya dan kenalannya untuk tetap menjadi konstituen PKS. Dengan kata lain PKS mampu bertahan dari serangan lawan dan menghadapi badai.
Peristiwa besar kedua. Yang juga mempengaruhi image PKS secara tidak langsung adalah peristiwa kudeta berdarah di Mesir.
Meskipun tidak berkorelasi langsung, namun ketidakberdayaan pemerintahan Mursy menghadapi manuver politik pihak lawannya, dimanfaatkan dengan baik oleh hampir semua tokoh partai di Indonesia untuk mendiskreditkan perjuangan Islam melalui politik. Apakah berhasil? */bersambung artikel kedua