Sambungan artikel PERTAMA
Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi
Di hadapan raja Najasyi (Negus) dan para pendeta Najasyi bertanya kepada para muhajirin, “Apa agama yang menjadikan kalian meninggalkan kaum kalian dan kalian tidak memilih agamaku tidak pula agama-agama yang ada ini? Kemudian Ummu Salamah binti Abi Umayyah ibn al-Mughirah, istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bertutur, ‘Yang menjawab pertanyaan Najasyi ketika itu adalah Ja’far ibn Abi Thalib. Dia berkata, ‘Wahai raja, kami dulu adalah kaum jahiliyyah. Kami menyembah berhala, memakai bangkai, melakukan perbuatan keji, memutuskan tali silaturrahim, berbuat jahat kepada tentangga, yang kuat dari kami “memakan” yang lemah. Kamu terus dalam kondisi seperti itu sampai Allah utus kepada kami seorang rasul dari golongan kami: yang kami mengenal garis keturunannya, kejujuran, amanahnya, dan kesucian dirinya. Lalu dia menyeru kami untuk mengesakan Allah saja, menyembah-Nya, menyuruh kami meninggalkan apa yang kami dan nenek-moyang kami sembang selama ini berupa batu dan berhala-berhala. Dia juga menyuruh kami untuk jujur dalam berkata, menunaikan amanah, menyambung tali silaturrahim, berbuat baik kepada tetangga, tidak mengerjakan hal yang diharamkan dan tidak menumpahkan darah, mencegah kami dari berbuat keji, mencegah kami dari berkata dusta, mencegah kami dari makan harta anak yatim, mencegah kami dari menuduh perempuan baik-baik dengan telah berbuat zina. Dia juga menyuruh kami untuk menyembah Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, menyeru kami untuk mengerjakan shalat, menunaikan zakat, mengerjakan puasa.” Ummu Salamah berkata berkisah lagi, “Ja’far ibn Abi Thalib menyebut hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Ja’far pun melanjutkan, ‘Maka kami benarkan dia, kami beriman kepadanya, kami ajaran yang dibawanya yang berasal dari Allah itu, kami halalkan apa yang telah dihalalkan-Nya untuk kami. Setelah itu, kaum kami pun memusuhi kami, menyiksa kami, menguji kami karena kami berpegang teguh kepada agama kami ini. Itu semua mereka lakukan agar kami kembali menyembah berhala dari meninggalkan Allah, agar kami menghalalkan kembali hal-hal buruk yang dulu kami lakukan, mereka menzalimi kami, mereka mempersempit gerak kami, mereka menghalangi kami dari mengerjakan kewajiban agama kami. Maka, kami keluar hijrah ke negeri kamu wahai raja. Kami memilihmu dari yang lain. Kami ingin hidup berdampingan denganmu. Dan kami berharap di sisi engkau wahai raja, kami tidak lagi dizalimi.” Ummu Salamah berkata lagi, ‘Kemudian Najasi berkata kepada Ja’far, ‘Apakah engkau membawa sesuatu dari apa yang dibawa oleh nabi itu dari Allah?” Ja’far menjawab, ‘Ya, ada’. Najasyi berkata, ‘Bacakanlah kepadaku!’ Lalu Ja’far membacakan awal surah Maryam (Kaf. Ha’. Ya’. ‘Ain. Shad). Lalu Najasyi pun menangis, sampai basah janggutnya. Kemudian para uskup yang hadir pun ikut menangis sampai mushaf-mushaf (baca: Injil-injil) yang mereka pegang basah, ketika mereka mendengar apa yang dibacakan kepada mereka. Kemudian Najasyi berkata, ‘Sungguh, ini dan apa yang dibawa oleh ‘Isa berasal dari lentera yang satu’. Kemudian Najasyi berkata kepada ‘Abd Allah ibn Abi Rabi’ah dan ‘Amr ibn al-‘Ash, ‘Pergilah kalian! Sungguh, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian.” (Lihat, Abu Muhammad ‘Abd al-Malik ibn Hisyam (w. 184 H), Sirah al-Nabi (Sirah ibn Hisaym), tahqiq: Majdi Fathi al-Sayyid (Tanta-Mesir: Dar al-Shahabah li al-Turats, Cet. I, 1416 H/1995 M): 1/322-324).
Ternyata, ‘Abd Allah ibn Abi Rabi’ah dan ‘Amr ibn al-‘Ash tidak putus asa. Mereka tetap berusaha agar Najasyi menyerahkan kaum Muslimin itu: agar kembali dibawa ke Mekah. ‘Amr ibn al-‘Ash malah berkata, “Besok akan aku kabarkankepada Najasyi bahwa mereka ini ‘Isa putra Maryam adalah seorang hamba” (bukan anak tuhan bahkan tuhan-red.
Keesokan harinya, tutur Ummu Salamah, ‘Amr ibn al-‘Ash berkata, “Wahai raja, mereka ini mengatakan tentang ‘Isa putra Maryam satu perkara yang sangat besar (bermasalah).” Kemudian dipanggillah kaum Muslimin. Mereka juga bingung jika ditanyakan tentang perkara ini. Dan ketika mereka sudah berada di hadapan Najasyi, mereka ditanya, “Bagaimana menurut kalian ‘Isa putra Maryam?” Ummu Salamah menuturkan, ‘Kemudian Ja’far ibn Abi Thalib menjawab, ‘Kami meyakini apa yang telah dibawa oleh nabi kami tentang ‘Isa ini. Dia adalah seorang hamba Allah, utusan-Nya, ruh-Nya, dan firman-Nya yang dimasukkan ke dalam (rahim) Maryam sang perawan dan taat itu.” Kemudian Najasyi memukul tanah dan mengambil satu genggam dan berkata, ‘Sungguh, selain ‘Isa putra Maryam adalah apa yang aku katakan satu genggaman ini…” (Ibn Hisyam, Sirah Ibn Hisyam, 1/324-325).
Ketiga, sikap umat Islam
Menyikapi adzan yang dikumandangkan di acara Natal Nasional ini umat Islam harus tegas. Bahwa ini pelecehan yang sangat biadab.
Bagi Muslim yang ghirah Islamnya benar dipastikan akan tersinggung dan merasa agamanya dipermainkan. Masalah ‘aqidah tidak bisa dipermainkan seenaknya. Apalagi mengatas-namakan toleransi. Ini jelas bukan toleransi. Ini adalah bentuk pelecehan tingkat tinggi. Dan sebagai Muslim, Pak Jokowi dapat saja melarang kumandang adzan ketika itu. Ini jika dipandang Pak Jokowi sebagai Muslim.
Sungguh, tidak sepatutnya umat Islam tinggal diam. Untuk itu, penulis menyeru kepada para ulama’, para da’i, dan para aktivis dakwah untuk melakukan gerakan protes tentang pelecehan ini. Jika tidak, pelecehan yang lebih besar akan menimpa umat ini. Apa sudah tidak ada lagi para mujahid di negeri yang mayoritas Muslim ini? Atau memang umat ini sudah dipenuhi para “banci”? Penulis sebagai seorang Muslim benar-benar sakit hati dengan ulah nyeleneh dan tak beradab seperti ini. Fa’tabiru ya ulil albab!
Penulis adalah staf pengajar di PP. Ar-Raudhatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara