Oleh: Dr Ahmad Yani SH MH
Panitia Pendirian Partai Islam Ideologi (P-4II)
TANGGAL 7 Maret 2020, Keluarga Besar Masyumi mengadakan Silaturrahmi Nasional dalam menyokong kebangkitan kembali Masyumi, sebagai wadah politik yang mampu menyatukan umat Islam dalam bidang politik.
Silaturrahim Nasional ini menjadi penting dan menentukan dalam dakwah Politik Islam dan kelanjutan sejarah penting Masyumi dalam politik Indonesia. Sebagai Partai Politik Islam yang telah menjadi legenda politik umat Islam, tentu kehadiran Masyumi adalah panggilan sejarah.
Setidaknya ada tiga alasan penting yang kenapa harus Masyumi Reborn:
Baca: Muhammadiyah: 3 Faktor untuk Melahirkan Partai “Masyumi Baru”
Pertama, untuk membangkitkan politik Islam
Partai Politik Islam semakin hari semakin meredup dari pemilu ke pemilu. Masyumi bangkit, bukan untuk menjadi saingan politik bagi partai Islam yang sudah ada, namun menjadi teman perjuangan untuk menggaet suara umat yang selama ini masih belum sepenuhnya memberikan dukungan kepada partai politik Islam.
Keluarga besar Masyumi terpanggil untuk tampil di panggung politik setelah melihat semakin kecilnya suara partai politik Islam dalam setiap pemilu semakin menurun. Kita semua sudah mengetahui, beberapa partai yang memiliki basis massa Islam mengalami penurunan yang signifkan dalam perolehan suara pemilu 2019 secara keseluruhan dibanding partai sekuler.
Secara pribadi saya melihat, penurunan perolehan suara Partai Islam disebabkan oleh ketidakpastian partai Islam dalam memperjuankan aspirasi umat. Umat berada dalam kebimbangan untuk menjatuhkan pilihan, banyak partai politik tidak memberikan kepastian secara ideologis maupun politik kepada umat. Kebimbangan politik dan ideologis menjadi salah satu faktor yang membuat umat sulit untuk menjatuhkan pilihan, hingga akhirnya mereka memilih partai politik lain.
Sebaliknya, gelombang kebangkitan dan persatuan umat terus digalakkan. Terbukti dengan munculnya gerakan 411 dan 212 yang mampu menyatukan umat dalam satu panggilan yang sama. Meski gelombang persatuan itu besar, namun tetap tidak akan terakumulasi dalam satu kekuatan politik, kalau partai politik tidak memiliki kejelasan dalam bersikap dan lebih-lebih dalam soal ideologi perjuangannya, maka jelas pemilih akan menjadi bimbang.
Akibatnya gelombang persatuan umat itu menjadi sia-sia belaka, karena tidak ada partai yang mengakomodir kepentingan politik dan ideologi umat. Karena itu Kebangkitan Masyumi sebagai partai politik Islam dapat dilihat dari faktor politik Islam Indonesia.
Baca: Din Dorong Kongres Umat Islam Lahirkan Parpol Islam Tunggal
Kedua, untuk mengikat persatuan dan kesatuan umat
Partai Politik yang menjadi rumah besar umat Islam adalah Masyumi. Partai ini merangkum semua golongan Islam, tidak terkecuali Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persis, Al-Wasliyah, dan lain-lain.
Partai Politik Islam Masyumi telah membuktikan bahwa persatuan dan kesatuan umat itu nyata, bukan fatamorgana. Pada pemilu tahun 1955 Partai Masyumi berhasil menjadi pemenang Pemilu. Artinya Masyumi mampu membangun kesatuan Politik Islam dengan dasar ideologi dan cita-cita perjuangannya.
Kemenangan itu tentu tidak terlepas dari kejelasan sikap dan ideologi politik partai. Umat tidak bimbang dan ragu untuk menjatuhkan pilihannya, sebab Masyumi istiqamah dalam meperjuangkan aspirasi umat dan tegaknya syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ketegasan sikap perjuangan itu membuat umat menyatu dalam satu pilihan politik. Karena itu munculnya Masyumi Reborn untuk mengikat kembali semangat persatuan Islam dan spirit perjuangan Masyumi dalam memperjuangkan cita-cita agama dan negara dalam bidang politik.
Selain ikatan ideologi dan kesejarahan, juga ikatan biologis keluarga besar Masyumi yang masih begitu setia untuk mempertahankan idealisme dan perjuangan partai itu. Meski telah dipaksa bubar tahun 1960, Partai tersebut telah meninggalkan warisan sejarah politik yang menjadi teladan dan melahirkan generasi-generasi yang banyak.
Untuk merangkum semua itu, maka Masyumi Reborn memanggil kembali dalam ikatan Ideologi, , Biologis dan Sejarah untuk keluarga besar Masyumi dan umat Islam seluruhnya dalam satu ikatan perjuangan politik.
Baca: Keluarga Besar dan Keturunan Masyumi Persiapkan “Masyumi Reborn”
Ketiga, untuk meluruskan
Kondisi perpolitikan Indonesia seperti dikatakan oleh ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo bahwa “partai sudah pragmatis”.
Banyak pimpinan parpol yang terpilih hanya menjadi perpanjangan tangal pemodal, tidak berdasarkan kemampuan dan kelebihan, tetapi berdasarkan ongkos politik. Bahkan ada yang kelihatan horor dari apa yang dikatakan oleh BamSoet, bahwa untuk menguasai Indonesia tidak perlu lagi mengirim kapal atau bom, cukup kuasai partai politik.
Artinya ada kegelisahan bahwa partai politik yang ada sudah semakin memperlihatkan pragmatisme yang akut. Bahkan demokrasi menjadi milik oligarki ekonomi dengan menguasai partai politik yang pragmatis.
Dengan demikian, cukong-cukong dan pemilik modal tidak perlu lagi untuk menghabiskan energinya bertarung secara terbuka, cukup dengan uang mereka bisa menguasai Indonesia. Sederhana, tetapi sangat nyata terjadi.
Dalam kondisi partai politik yang demikian itu, maka Masyumi Reborn sebagai partai politik Islam ideologis bertekad untuk bangkit kembali mewujudkan kedaulatan Indonesia dalam bidang politik. Menghalau pragmatisme dalam politik dan berjuang mewujudkan politik yang bermartabat dan adil.
Oleh Karena itu, dalam krisis Partai Politik Islam, perlu untuk mengikat kembali kekuatan politik Islam dengan Masyumi Reborn, untuk mewujudkan cita-cita politik yang adil dan bermartabat, tidak pragmatisme tetapi lebih mementingkan ideologi daripada uang dan kekuasaan semata.
Itulah tekad yang kembali muncul di tengah anak-anak dan cucu serta pecinta Masyumi untuk kembali menghidupkan perjuangan Masyumi sebagai partai Politik Islam. Insyaa Allah jalan menuju kemenangan umat dan agama dalam bidang politik akan tercapai apabila semua bangkit, bersatu mengikat diri untuk meluruskan kiblat politik Indonesia, menuju negara yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Wallahualam bis shawab.*