Oleh: Fahmi Salim
Hidayatullah.com | ISTANBUL kini menjadi perhatian dunia. Setelah Makkah, Madinah dan Masjid Al Aqsha, Hagia Sophia kini menjadi tujuan para jamaah umroh. Kebanyakan mereka tidak berani memilih berziarah ke Masjidil Aqsha, karena suasana politik dan larangan ulama karena masih dikuasai Zionis Israel.
Berbeda dengan kota Istanbul Turki, selain sebagai kota modern, juga merupakan kota yang eksotik dan kaya dengan berbagai peninggalan masa lalunya, mulai dari Masjid Aya Sofia hingga Istana Topkapi. Berada di Turki, mengingatkan kita pada masa keemasan Turki Usmani, atau Ottoman.
Banyak situs sejarah yang masih terpelihara, bahkan menjadi pembangkit semangat kemajuan bagi rakyat Turki. Dulu, Turki pernah menjadi negeri adidaya, yang kekuasannya meluas mengontrol sebesar besar Laut Mediterania, dan mengusai beberapa wilayah di Eropa hingga Afrika.
Meskipun dipisahkan jarak geografis yang jauh, pengaruh Kesultanan Turki Ottoman telah mencapai wilayah Nusantara. Banyak catatan sejarah menyebutkan adanya hubungan diplomatik, ekonomi dan militer antara Ottoman dan berbagai Kesultanan Islam di Nusantara. Lalu, bagaimana kondisi hubungan Turki dan Indonesia di era globalisasi ini? Duta Besar Indonesia untuk Turki, H.E. Lalu Muhammad Iqbal bercerita banyak seputar prospek kerjasama kedua negara ini dalam program Ngaji Syar’ie (NGESHARE), “Ngaji Dulu, Alim Kemudian.”
Pada pertengahan abad ke-13, saat Kekaisaran Bizantium mulai melemah, banyak suku yang memisahkan diri, salah satunya kabilah di daerah di Eskişehir, bagian barat Anatolia, yang dipimpin oleh Osman I. Ia kemudian mendirikan Kesultanan Usmaniyah (Ottoman) pada tahun 1299. Kekuasaannya menembus batas-batas wilayah yang sebelumnya dikuasai Bizantium. Puncaknya, saat kesultanan dipimpin Mehmed II yang juga dikenal Sultan Al Fatih, berhasil menembus benteng kokoh Kota Konstantinopel dan menaklukannya pada 29 Mei 1453. Sejak itulah, Kekhalifahn Usmaniyah mengokohkan dirinya sebagai kekuatan terbesar di Eropa, baik secara militer maupun perdagangan.
Ottoman menjadi kekhalifahan Islam setelah runtuhnya Kekhalifahan Abbasiyah dan Andalusia. Banyak kerajaan Islam saat itu meminta legitimasi kekuasaan kepada penguasa Turki, untuk mendapat gelar sultan dan mendapatkan stempel emas Bayt al-Haram, seperti yang dilakukan penguasa Banten, Sultan Abdul Qadir pada tahun 1638 mengirimkan utusan ke Mekkah untuk meminta penggunaan gelar sultan dari Syarif Mekkah. Begitu pula, yang dilakukan Kesultanan Mataram, dan Kesultanan Johor.
Usmaniyah selain memberikan legimitasi politik, juga berperan penting dalam memberikan bantuan militer misalnya untuk kerajaan Islam di Aceh dan mengirimkan para ulama, sebagai delegasi dakwah ke sebagian besar wilayah nusantara. Usmaniyah juga saat itu memberikan perlindungan terhadap jemaah haji yang berasal dari nusantara untuk melintasi Samudera Hindia secara aman. Inilah bukti sejarah yang menunjukan betapa kuatnya pengaruh Ottoman pada abad keenam belas dan ketujuh belas di kepulauan Nusantara.
Kekhalifahan Ustmaniyyah, menurut Dubes Lalu Muhammad Iqbal, saat itu menjadi kekuatan terbesar yang membawa misi spiritual membangun peradaban dunia. Penaklukan Konstantinopel, misalnya merupakan salah satu pembuktikan nubuwah dari rasululloh ﷺ, bahwa kota itu akan dikuasai oleh sebaik-baiknya pemimpin dengan sebaik-baiknya pasukan.
Setelah Usmaniyah mencapai puncak keemasannya, misi untuk membangun peradaban spiritual mulai bergeser. Kehancuran Usmaniyah, disebut Dubes Lalu Muhammad, dikarenakan adanya pergeseran nilai dari peradaban substantif menjadi peradaban artificial. Salah satu contohnya, pembangunan Istana Topkapi dilakukan dalam kondisi rakyat mengalami kesulitan ekonomi. Sultan saat itu memaksakan diri untuk membangun istana, meskipun harus berhutang ke negara lainnya, demi ambisinya untuk mempercantik istana dengan hiasan emas.
Kehancuran sebuah kekuasaan selalu sama, diawali dengan degradasi spiritual dan akhlak penguasa, yang kemudian diikuti oleh masyarakatnya., sebagaimana yang dahulu dialami kekhalifahan Islam. Begitu pula yang menimpa Usmaniyah menjelang keruntuhannya. Krisis ekonomi yang menimpa Usmaniyah, antara lain diakibatkan menurunnya pemasukan negara, karena merebaknya suap dan korupsi. Para pejabat lebih senang untuk menumpuk harta daripada tugasnya sebagai penjaga syariat dan pelayan masyarakat. Stabilitas dalam negeri terganggu karena banyaknya perpecahan poltik. Sementara, dalam menjalankan politik luar negerinya, Usmaniyah tidak lagi bergairah melakukan misi dakwah dan jihad. Sementara itu, ancaman dari luar negeri dan dalam negeri semakin besar.
Karena itulah, menurut Lalu Muhammad, kita harus belajar pada peradaban yang dibangun oleh rasululloh dan para sahabatnya. Peradaban yang pembangunan fisiknya sederhana, tapi memiliki kekuatan spiritual yang besar. Sebaliknya, jika peradaban sudah kehilangan substansinya. Maka, itulah awal kejatuhan sebuah bangsa. Sebuah kemajuan bangsa tidak diukur dengan pembangunan fisik, tapi sejauh mana peradaban berhasil dibangun di atas nilai-nilai agama.
Surat An-Nahl ayat 112 memberi pelajaran bagi kita semua. Alloh Ta’ala berfiman, yang artinya:
وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ ٱللَّهِ فَأَذَٰقَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلْجُوعِ وَٱلْخَوْفِ بِمَا كَانُوا۟ يَصْنَعُونَ
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (pen-duduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat.” Pada ayat selanjutnya, Alloh berfirman, “Dan sungguh, telah datang kepada mereka seorang rasul dari (kalangan) mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya, karena itu mereka ditimpa azab dan mereka adalah orang yang zalim.”
Perumpamaan sebuah negeri dalam ayat ini bisa saja ditujukan kepada kita, bangsa Indonesia. Apakah kita termasuk bangsa yang kufur terhadap nikmat Alloh, bahkan mendustakan peringatan yang disampaikan Alloh dan rasul-Nya?
Turki di era kepemimpinan Presiden Erdogan, ingin mengembangkan kesadaran spiritual bangsanya. Republik Turki yang didirikan Kemal Attaturk selain menghapuskan sistem kekhalifahan, juga memodernisasi negerinya dengan nilai-nilai sekuler. Secara ekstrim, Kemal melarang berbagai simbol keislaman dan pelaksanaan syariat Islam di ruang-ruang publik, seperti melarang jilbab dan azan, menutup sekolah Islam (madrasah) dan membubarkan pengadilan agama.
Sejak Erdogan memenangkan pemilihan presiden pada tahun 2014, dan sebelumnya menjadi Perdana Menteri Turki selama tiga periode (2003-2014), Turki mengalami banyak perubahan drastis. Terakhir, Erdogan mengubah fungsi Ayasofia yang sebelumnya sebagai museum menjadi masjid agung, merupakan terobosan politik yang menunjukan identias keislaman Turki. Beberapa media Arab menyebut Erdogan dengan partai politiknya, AKP sebagai contoh kemenangan Islam politik (al-Islam as-siyasi), bukan hanya di Turki melainkan juga di dunia Islam.
Keberhasilan Erdogan sebenarnya ditempuhnya pertamakali melalui perbaikan ekonomi. Kebijakan ekonominya dikenal dengan sebutan Erdogonomic. Di bawah Erdogan, inflasi bisa dikendalikan dan pertumbuhan ekonomi tahunan Turki mencapai angka rata-rata 5 persen. Hanya dalam tempo 10 tahun, Turki yang sebelumnya disebut sebagai negara sakit telah menjelma menjadi kekuatan ekonomi ke-10 di Eropa. Penghasilan per kapita yang tadinya di bawah 4.000 AS Dolar melesat naik dan sempat menembus 12 ribu AS Dolar, meskipun saat ini mengalami penurunan.
Pada tahun 2013, Turki berhasil melunasi seluruh utang ke Dana Moneter Internasional (IMF). Seperti dilansir Hurriyet Daily News, utang Turki ke IMF sebesar 23,5 miliar AS Dolar telah selesai dilunasi. Pelunasan dimulai tahun 2002 dan Turki menjadi negara yang bebas utang. Erdogan tidak mau menggunakan utang luar negeri untuk membangun negerinya, termasuk untuk mengembangkan basis industri, penelitian dan teknologinya.
Menurut Dubes Lalu Muhamad, Turki dalam kepemimpinan Erdogan saat ini fokus untuk membangun infrastruktur dan pendidikan. Biaya pendidikan tinggi di Turki termasuk sangat murah, sehingga kenaikan mahasiswa Indonesia yang kuliah di Turki meningkat hingga 50 persen. Kuliah di kampus terkenal dengan fasilitas yang lengkap hanya Rp 4 juta per semester, begitu pula kehidupan mahasiswa disubsidi oleh pemerintah. Misalnya, untuk makan di kampus cukup mengeluarkan uang setara dengan Rp 7 ribu dengan menu yang lengkap.
Turki termasuk 14 negara di dunia, yang mengalokasi dana terbesar dalam pengembangan riset dan teknologinya, dan yang paling besar di antara negara-negara berkembang. Mengutip data otoritas statistik Turki (TurkStat), tahun 2020, Turki mengalokasikan dana sebesar 2,6 Miliar AS Dolar, naik 14,6 persen dari tahun sebelumnya. Dana abadi universitas menerima bagian terbesar dari dana riset, sebesar 43,6 persen, disusul setktor pertahanan (18,7%) dan sector industry dan teknologi (10,6%)
Pendidikan tinggi di Turki sangat mementingkan pengembangan riset, sehingga yang dibanggakan kampus adalah berapa hak patent yang sudah diraihnya. Inilah yang mendatangkan banyak sponsor berbagai peusahaan besar untuk mendanai berbagai proyek riset.
Karena itulah, menurut Dubes Lalu Muhammad, Indonesia saat ini tengah membangun kerja sama dengan Turki, salah satunya berkolaborasi dalam hal riset dan pengembangan vaksin Covid-19. Selain itu, membuka kerja sama dalam pengembangan pesawat N-219 dan R-80. Terakhir, berkolaborasi untuk pengembangan teknologi satelit dan pengembangan airport untuk peluncuran satelit. Dalam bidang pertahanan, sejak tahun 2010, Indonesia telah menjalin kerjasama untuk mengembangkan industri pertahanan.
Indonesia bisa belajar dari Turki tentang kemandirian membangun ekonomi dan kekuatan militernya. Sementara itu, Turki juga bisa belajar dari Indonesia tentang prinsip Bhineka Tunggal Ika, yang menjadi kekuatan bangsa ini, karena bangsa ini dibangun atas keberagaman agama dan budayanya.
Jejak sejarah itu tak akan pernah terhapus, karena telah lama mengikat kedua bangsa ini dalam jalinan kerjasama. Meskipun jauh secara geografis, Indonesia dianggap oleh Turki sebagai saudara. Karena, jauh dan dekat itu tidaklah diukur dengan jarak, tapi dengan hati. Begitulah, kata Jalaluddin Rumi, seorang sufi dari Konya, Turki. Wallohu ‘alam.*
Penulis Wakil Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah dan Komisi Dakwah MUI. Tulisan ini merupakan ringkasan Program “Ngeshare Bareng Dubes H.E. Lalu Muhammad Iqbal”, kerjasama hidayatullah.com dan UFS Official Channel