Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Paradoks: Tindakan Mendahului Ucapan Bukan Ucapan Mendahului Tindakan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 April 2023 22:00 10:00 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 April 2023 22:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Beta Pujangga Mukti

Ada paradoks dari program moderasi, narasi-narasi tendensius bahkan diikuti dengan ujaran dan provokasi kebencian

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS: Ash-Shaff: 2)

Hidayatullah.com | ASBABUN NUZUL ayat ini adalah tatkala Rasulullah ﷺ dengan para sahabat mengadakan usrah dengan bermudzakarah. Sambil duduk-duduk mereka menanyakan pasal amalan yang paling istimewa dan dicintai oleh Allah.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Maka Rasulullah ﷺ pun menyampaikan tentang keutamaan “berjihad” di jalan Allah.  Jihad adalah terminologi yang membawa maksud kesungguhan, keupayaan dalam ikhtiar dan dilakukan secara berterusan (istiqomah) dalam konteks kebaikan.

Tidak selalu bermakna “perang”, kalaupun ia dibawa kepada maksud perang, maka perangnya pun dalam kebaikan.  Seperti istilah yang ditulis oleh Jamil Zaki dalam bukunya dengan judul “The War for Kindness”.

Jamil memaknai ayat ” Fastabiqul khairat” bukan sekadar berlomba-lomba dalam kebaikan, tetapi “perang” (Jihad) untuk/dalam kebaikan. Jika dalam kebaikan diperlukan jihad, maka ia haruslah ber-strategi dalam memenangkannya.

Mafhum bahwa dalam kehidupan selalu ada hitam dan putih, dalam misi membawa kebaikan pun tentu dan sudah pasti akan ada kejahatan/keburukan yang menyertai.

Namun, kebenaran bisa saja KALAH, tetapi ia tidak akan pernah SALAH. Maka dalam jihad kebaikan ini diperlukan taktik jitu dan strategi yang matang, selain juga terorganisir dan dilakukan secara masif.

Jika tidak maka kejahatanlah yang akan mengambil peran sebab telah diorganisir dengan baik. Meskipun jihad kebaikan ini berat dan sukar dilakukan, tetapi di dalamnya amat besar keutamaan.

Sehingga dikatakan sebagai amalan yang paling dicintai oleh Allah. Banyak manusia yang ingin keutamaan, para sahabat Nabi pun bersemangat ingin menjalankan.

Namun semangat itu hanya terlontar dalam ucapan, paling jauh hanya sampai kerongkongan, tidak sampai menyentuh hati apatah lagi mewujud menjadi perbuatan. Bahkan apa-apa yang belum/tidak dikerjakan tapi dengan fasih-nya ia bisa menjelaskan dan menyuruh orang untuk mengamalkan.

Sehingga semangat berujar tapi defisit pelaksanaan ini diberikan ultimatum oleh Allah dengan teguran;

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS: Ash-Shaff: 3).

Fakta dan fenomena hari-hari ini, dalam konteks pemikiran dan sikap dalam beragama dan berbangsa, menunjukkan bahwa semangatnya hanya manis di bibir saja.

Soal moderasi beragama misalnya, digaung-gaungkan bahkan menjadi salah satu program prioritas yang diusung. Salah satu implementasi sikap moderasi beragama ini seharusnya bisa dinampakkan dengan sikap saling menghormati dalam masalah perbedaan penetapan kalender hijriah, yang sedang senter baru-baru ini.

Namun yang kita lihat ada paradoks dari program moderasi ini. Beberapa oknum justru dengan kritik yang disampaikan kerap bersifat tendensi dan stigma negatif, ini tentu paradoks dengan ruh moderasi beragama yang digaungkan.

Narasi-narasi tendensius ini bahkan diikuti dengan ujaran dan provokasi kebencian. Sikap dan pemikiran seperti ini justru menunjukkan kekerdilan bukan keadaban. Sangat disayangkan.

Sedangkan dalam konteks berbangsa, juga tidak jauh berbeda. Slogan “Jihad” Konstitusi juga sebatas kata-kata, bungkusnya narasi-narasi yang cantik, tapi dalam praktiknya masih jauh panggang dari api.

“Jihad” membangun pilar-pilar demokrasi, justru dalam praktiknya malah dihancurkannya sendiri. “Jihad” menegakkan keadilan hukum, faktanya martabat hukum justru dilumpuhkan.

Hukum yang tadinya tidak takluk oleh kuasa, menjadi ciut dan tak berdaya. Padahal ia hanya alat, dan alat itu digunakan oleh penguasa yang besar nafsu dan syahwatnya.

Apatah lagi soal politik. Jihad untuk mengangkat derajat politik kepada high pilitics rasanya berat, sebab kekuatannya tidak banyak berbanding dengan kekuatan yang ingin membawa politik kepada low politics.

Sehingga tepat jika gelar NATO disematkan kepada mereka (baca: PENGUASA) yang manis bibirnya tapi beracun hatinya. Not Action Talk Only.

Pada akhirnya, masih ada iman yang menjadi kompas penunjuk arah untuk terus berada di jalan kebaikan/jalan lurus. Dan cukup teguran Allah dijadikan peringatan, bahwa orang beriman jangan hanya pandai berujar tetapi juga harus melakukan apa yang telah dikatakan.

Perbuatannya harus lebih dulu mendahului ucapannya. Itulah keteladanan yang utama.*

Mahasiswa PhD di Islamic Development Management Studies, USM

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:lisanparadokucapan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tega Pukuli Putrinya karena Masuk Islam , Seorang Ayah Dipenjara 3 Tahun
Tulisan selanjutnya Awalnya Pria Ini Protes Kebisingan Masjid saat Shalat Id, Tapi Ujungnya Masuk Islam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia

Berita
1 September 2026 12:00
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya

Terbaru

  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?