Oleh: Ady Amar
Hidayatullah.com | Cuma hati busuk yang jika melihat orang lain sukses, lalu tidak melihatnya dengan sewajarnya. Mencari dalil seolah kesuksesan itu hal biasa. Tidak sesuatu.
Hati busuk itu penyakit, bisa juga disembukan, itu jika mau. Tapi banyak yang memilih memelihara penyakit itu. Bahkan memupuknya.
Memupuk hati busuk bukan cuma untuk diri sendiri, tapi lalu ingin ditularkan pada lainanya. Merusak nilai obyektivitas pada sekelilingnya.
Berharap masyarakat sekeliling bersikap sama dengannya, menampik keberhasilan orang lain seolah itu tidak ada. Hati dibuatnya tertutup.
Jika penyakit itu menyergap kelompok tertentu, maka banyak sebab bisa disimpulkan. Sangat mudah melihatnya, tidak perlu pakai visum segala.
Tidak melihat keberhasilan pribadi atau kelompok lain sebagai keberhasilan, tapi cenderung melihat kekurangan dan lalu mengeksploitasinya.
Dalam bahasa agama, itu dikenal dengan hasad atau dengki. Hati terasa sakit, jika lihat kelompok seberang sana mendulang prestasi.
Membanggakan
Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, kerja kerasnya mendapat penghargaan gak tanggung-tanggung. Penghargaan internasional, dan tentu itu membanggakan.
Anies dinilai berhasil melakukan transformasi mobilitas kota, yang berdampak pada peningkatan kualitas hidup seluruh warga.
Nama Anies nampil sebagai salah satu dari 21 pahlawan dalam “21 Heroes 2021”, oleh lembaga internasional bergengsi, Transformative Urban Mobility Initiative (TUMI).
Nampil juga nama pendiri SpaceX, yang juga CEO Tesla, Elon Musk, yang dinilai berhasil membuat inovasi mobil listrik dan energi bersih.
Harusnya keterpilihan Anies Baswedan itu disambut dengan kegembiraan seluruh anak bangsa, bukan cuma di Jakarta. Bisa jadi pendorong pimpinan daerah lain mengikuti jejaknya.
Tidak perlu lagi studi banding ke luar negeri untuk belajar menata transportasi, yang itu membuang-buang uang saja. Cukup ke Jakarta .
Aneh Tapi Nyata
Anies tak jumawa larut dalam euforia, saat dinyatakan meraih penghargaan internasional itu. Kata “Alhamdulillah” yang diucap awal olehnya.
Lalu katanya, Ini hasil kolaborasi seluruh warga Jakarta.
“Pahlawan sebenarnya adalah ribuan orang bekerja setiap hari untuk mendorong integrasi transportasi Jakarta, lalu ada jutaan warga yang ikut menyukseskan dengan memilih berjalan kaki, bersepeda dan menggunakan transportasi publik. Pengakuan (penghargaan) ini buat kita semua,” ujarnya.
Apresiasi atas pencapaian Anies ini selayaknya diberikan sewajarnya. Tidak pantaslah jika harus menutup mata. Lalu berdalil dengan mengelak, bahwa karya Anies itu warisan dari Gubernur Kolonial masa penjajahan Belanda, J.P. Coen. Kan aneh?
Beberapa politisi PDI Perjuangan menyikapinya dengan aneh, tentu diluar kelaziman. Tampak tergagap, lalu yang keluar dari mulut celotehan lucu, dan sikap mengecilkan.
“Kalau saat ini Anies banyak dapat penghargaan, itu karena buah kerja keras dari pendahulunya,” ujar Gembong Warsono, ketua Fraksi PDIP Jakarta.
Anies, seperti biasanya memilih tidak merespons hal-hal demikian. Ia memilih larut dalam pekerjaan dalam sunyi, dan lalu penghargaan demi penghargaan didapatnya.
Pernyataan menarik dari pihak TUMI, saat memutuskan kenapa Jakarta pantas menerima penghargaan itu.
“Kota ini (Jakarta) bertujuan menciptakan transportasi yang adil, terjangkau, dan inklusif bagi semua kalangan.”
Sungguh pengakuan membanggakan dari yang berkompeten, dan itu selayaknya. Jika lalu politisi dan para buzzer berkata lain, gak ngaruh itu.
Bunga mawar tentu tidak mempropagandakan harum semerbaknya. Dengan sendirinya harum semerbaknya itu tersebar dan dirasa.(*)
Kolumnis, tinggal di Surabaya