Oleh: Ady Amar
Hidayatullah.com | AWAL permintaan dari yang menamakan diri Gerakan Anti Radikalisme ITB (GAR ITB), adalah agar Pak Din Syamsuddin dicopot sebagai anggota Majelis Wali Amanat ITB (MWA ITB).
Melihat permintaan dan desakan itu, dan agar tidak ada kegaduhan Pak Din memilih mundur, bukan diberhentikan. Pastilah GAR ITB merasa pressure nya berhasil.
Alasan mereka diantaranya, Pak Din merongrong pemerintahan yang sah, karena sebagai inisiator terbentuknya Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Itu karena Pak Din masih berstatus ASN.
Padahal KAMI bukan gerakan politik, tapi gerakan moral. Karenanya, sama sekali itu tidak bisa dianggap melanggar statusnya sebagai ASN. Tetapi GAR ITB mempermasalahkan statusnya sebagai ASN, yang tidak pantas menginisiasi lahirnya KAMI.
Kepantasan diukur menurut ukurannya, yang sebenarnya tidak punya pijakan hukum. Justru yang dilakukan GAR ITB itu gerakan “politik” menyingkirkan Pak Din, semata karena sikapnya yang kritis pada pemerintah.
Karenanya, tidak salah jika GAR ITB, itu disebut gerakan buzzer yang diinstitusionalkan dengan memakai baju alumni. Menggeret nama besar ITB pada aksi-aksi politik pragmatis, pastinya cuma untuk kepentingan beberapa gelintir inisiatornya.
Mudah sekali melacaknya. Ada anggotanya eks dirut BUMN, yang mantan narapidana korupsi. Mungkin yang bersangkutan berharap bisa come back, dan GAR ITB dipakai sebagai kendaraannya. Boleh saja orang berasumsi demikian.
Banyak juga alumni tahun ’50 an dan ’60 an, yang namanya ikut dicantumkan. Tidak persis tahu, mereka itu faham akan misi GAR ITB, atau justru sebaliknya. Juga apa benar nama-nama mereka itu ikut dengan kesadaran, atau hanya dicatut saja.
Baca: Tuduhan Radikalisme pada Pak Din, Itu Lucu-lucuan yang Berbahaya
Pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran itu, sangatlah pantas mengemuka. Pertanyaan bukan dengan nada takjub, tapi penuh heran, sudah aki-aki dan nini kok ya masih mikir duniawiah.
Bisa jadi tidak sekadar urusan duniawi semata, tapi lebih dari itu. Bisa juga ideologi agama yang ditiupkan dan coba diperhadapkan, seolah akan bangkitnya Islam radikal. Masukan-masukan demikian, yang jadikan aki-aki dan nini lalu mengangkat “senjata” melawan fatamorgana nisbi. Kasihan.
Setelah berhasil membuat Pak Din mengundurkan diri dari anggota MWA ITB, maka langkah GAR ITB, makin ngelunjak dan nekat, dengan meminta Pak Din dipecat sebagai ASN, dengan tuduhan radikalisme. Ini tuduhan tidak main-main.
Pak Din Memilih Tidak Menanggapi
Menyesakkan dada setelah tahu, bahwa jubir Presiden Jokowi, Fadjroel Rachman, terlibat dalam GAR ITB, bahkan sebagai anggota aktif. Namanya ada dalam grup WhatsApp GAR ITB.
Bahkan beredar jejak digitalnya, bagaimana saran darinya untuk “menyingkirkan” Pak Din dari MWA ITB. Pantas jika para aktivis diluaran terkaget-kaget, ternyata Fadjroel yang dulu aktivis moral, bisa melakukan hal demikian.
Berharap langkah Fadjroel Rachman ini cuma inisiatifnya sendiri, semacam Pak Moeldoko saat mencoba mengkudeta Partai Demokrat, yang itu tanpa sepengetahuan Pak Jokowi.
Belum ada bantahan dari Fadjroel, soal keterlibatannya itu, keterlibatan “mendongkel” Pak Din dari MWA ITB. Dan tentu keanggotaan aktifnya di GAR ITB.
Fadjroel memang mantan aktivis, maka ia lebih tenang tidak gegabah mengklarifikasi keberadaannya di GAR ITB. Tidak semacam Pak Moeldoko, yang tampak tergesa-gesa saat memberi klarifikasi atas isu kudeta Partai Demokrat. Jadinya, ya omongannya tidak runtut, dan gesturenya, meski ditenang-tenangkan, ya tetap tidak tenang.
Kita tunggu saja klarifikasi dari jubir Presiden Jokowi itu. Atau bisa jadi ia pakai cara Pak Jokowi, memilih tidak membalas surat resmi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Ketua Umum Partai Demokrat. Artinya, Fadjroel memilih tidak perlu melakukan klarifikasi.
Gerombolan GAR ITB itu pantas disebut ngelunjak, dengan langkah gegabah yang pandir. Tidak melihat jejak rekam kekuatan orang yang mau dihabisi. Juga tuduhan radikalisme yang disematkan pada Pak Din, itu tuduhan bahlul, bak ingin meyakinkan pada khalayak, bahwa gula itu asin rasanya.
GAR ITB itu telah melakukan fitnah keterlaluan pada tokoh muslim yang selama hidupnya mengagungkan sikap moderasi di tengah masyarakat. Bukan cuma masyarakat negeri ini saja, tapi masyarakat dunia.
Baca: Din Syamsuddin Dilaporkan GAR ITB, Bagaimana dengan yang Ini?
Gerombolan GAR ITB, itu gerombolan Islamofobia dan sekularis-ekstrim yang dihadirkan oleh kebencian pada tokoh-tokoh muslim, yang konsisten pada agama dan lurus pada sikap politik kebangsaannya. Polanya bisa dibaca, tampak itu-itu saja. Bisa jadi kelompok yang digerakkan.
Pak Din sih memilih tidak menanggapi aksi gerombolan itu, memilih diam. Seolah mempersilahkan yang lain saja yang berbicara. Maka kesaksian-kesaksian muncul beri testimoni.
Pak Mahfud MD, Menteri Polhukam, langsung memberi jaminan bahwa laporan gerombolan GAR ITB, itu tidak akan diproses. Juga mantan Wapres Jusuf Kalla, bahkan hampir semua tokoh Ormas Islam memberi testimoni tentang Din Syamsuddin. Tidak ketinggalan tokoh non-muslim, yang juga memberi kesaksian telak tentang apa dan siapa Din Syamsuddin itu.
Oh ya… ngelunjak itu bahasa lain dari melakukan hal diluar kepatutan, atau bisa dimaknai dengan “kurang ajar”. Silahkan mau pilih pakai kata ngelunjak, atau silahkan jika mau pakai kata kurang ajar. Sama saja maknanya.
Kata itu memang pantas disandingkan pada gerombolan itu. Gerombolan yang sebenarnya pantas disebut radikal sontoloyo. Ngelunjak!! (*)
Kolumnis, tinggal di Surabaya