Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

“Jilbab Halal”: Menebar Bujuk Rayu dan Rasa Takut [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Februari 2016 07:09 7:09 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Februari 2016 07:09
Bagikan
Sebuah iklan "jilbab halal' yang sempat menghebohkan
Bagikan

Oleh: Andika Saputra

 

PERKEMBANGAN Kapitalisme menjadi Kapitalisme-lanjut (late-capitalism) diikuti pergeserannya dari ranah produksi yang didorong Revousi Industri meluas hingga ke ranah konsumsi yang didorong Revolusi Informasi dan Komunikasi.

Konsumsi yang dimaksud tidak saja berarti menggunakan suatu produk yang bersifat fisikal-konkret seperti makanan, minuman, pakaian dan sejenisnya, tapi juga diartikan secara abstrak seperti simbol, status, kepuasan dan sejenisnya.

Mengkonsumsi makanan cepat saji tidak saja menghabiskan makanan itu untuk mengisi perut, tapi juga mengkonsumsi simbol-simbol masyarakat urban-modern yang dilekatkan kepadanya seperti kecepatan dan keringkasan. Begitu juga mengkonsumsi pakaian tidak saja untuk menutupi dan melindungi tubuh, tapi juga mengkonsumsi merk dagang yang menandakan status kepemilikan ekonomi atas yang dilekatkan pada pakaian tersebut. Begitulah cara kapitalisme-lanjut yang kini menembus batas geografi dengan memanfaatkan media informasi dan komunikasi mendulang keuntungan materi melalui konsumsi.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Kegiatan konsumsi adalah konsekuensi dari adanya kebutuhan. Konsumsi berdasarkan kebutuhan bersifat sementara dan berbatas, sebab saat kebutuhan telah terpenuhi maka kegiatan konsumsi akan berhenti sampai kebutuhan tersebut muncul kembali. Jadi antar kegiatan konsumsi terdapat jeda. Sementara Kapitalisme-lanjut menghendaki kegiatan konsumsi yang berterusan tanpa jeda agar keuntungan terus mengalir. Oleh karenanya kebutuhan digeser menjadi keinginan yang didorong kemunculannya oleh hasrat. Hasrat manusia tidak bertepi yang tidak akan habis selagi terus dipompa, sehingga kegiatan konsumsi yang berterusan dimungkinkan dapat terus hadir tanpa rasa puas yang menghentikannya. Di sinilah teknologi informasi dan komunikasi berperan untuk memancing munculnya hasrat yang dijadikan sebagai bahan bakar keinginan mengkonsumsi.

Hasrat dipancing kemunculannya dengan memasarkan produk secara bujuk-rayu, yakni paling tidak melalui tiga cara.

Pertama, secara kualitas visual sebuah produk ditampilkan dengan menarik agar menggoda calon-konsumen. Kedua, secara kuantitas sebuah produk diiklankan dengan intensitas sesering mungkin untuk mempengaruhi kesadaran calon-konsumen. Dan ketiga, pada produk yang diiklankan dilekatkan nilai-nilai yang berasal dari luar produk itu.

Dengan begitu keinginan dapat diciptakan untuk tidak saja mengkonsumsi produk itu, tapi juga mengkonsumsi nilai-tanda yang dilekatkan pada produk, sehingga daya konsumsi yang timbul menjadi berlipat. Saya menggunakan kosakata ‘dilekatkan’ sebab kualitas nilai-tanda tidak berasal dari produk itu sendiri, tapi berasal dari luar produk yang kemudian dilekatkan pada produk sehingga seakan-akan merupakan bagian dari produk. Dari ketiga cara tersebut, mekanisme bujuk-rayu menggunakan atribut di luar produk untuk melancarkan godaan seperti menampilkan sosok tokoh yang telah dikenal luas, alur iklan produk yang memainkan emosi calon-konsumen, dan sebagainya.

Dalam sistem Kapitalisme-lanjut yang bekerja cara-cara bujuk-rayu, jilbab, baju koko, songkok, sarung diperjual-belikan tidak sesederhana bertemunya pembeli dengan penjual, adanya barang yang dijual dan harga yang disepakati bersama. Begitu kompleks, sebab kini produk-produk tersebut tidak lagi diperjual-belikan berdasarkan nilai-guna atau asas kemanfaatannya dan nilai-tukar atau harga rupiah yang didasarkan ongkos produksi, distribusi, dan keuntungan sewajarnya yang ditetapkan penjual. Produk diiklankan secara intens melalui berbagai media cetak dan elektronik dengan melibatkan tokoh agama atau tokoh hiburan atau keduanya sekaligus dengan setting dan alur iklan yang dikonstruk mencitrakan nilai-tanda yang dilekatkan pada produk tersebut.

Contoh saja, iklan produk jilbab menampilkan seorang artis yang berperan sebagai wanita karir penuh kegiatan dari pagi hingga malam tanpa terhalang dan direpotkan dengan jilbab yang dikenakannya.

Alih-alih menjadikan jilbab yang dipasarkan sebagai fokus, iklan bujuk-rayu lebih menekankan sosok wanita karir yang merupakan sumber dari nilai-tanda produk. Yang dikehendaki agar jumlah calon-konsumen dari kalangan umat Islam yang jumlahnya begitu besar tergoda dan ingin memiliki jilbab tersebut yang didorong anggapan dengan mengenakan jilbab yang dipasarkan akan turut menjadikan dirinya seperti sosok wanita yang ditampilkan dalam iklan.

“Jilbab Halal”

Belakangan ini umat Islam di Indonesia disuguhi fenomena ‘Jilbab Halal’ yang menyedot begitu banyak energi dan perhatian. Sebuah merk dagang jilbab memasarkan produknya dengan legitimasi sertifikat halal MUI sehingga berani mengusung tagline “Kerudung bersertifikat halal pertama di Indonesia”.

Fenomena yang janggal ini awalnya memancing kebingungan umat Islam, sebab dalam anggapan umum halal haram barang konsumsi hanya diperuntukkan bagi produk yang masuk ke dalam tubuh semacam makanan, minuman dan obat-obatan. Energi dan waktu ulama disedot untuk menepis kebingungan yang menghinggapi umat, tapi seperti yang sudah-sudah ternyata niat baik untuk mencerahkan malah semakin membingungkan dengan usulan sebagian pihak untuk melakukan sertifikasi syari daripada sertifikasi halal yang dinilai kurang tepat untuk jilbab.

Gambar: Iklan ‘Jilbab Halal’ yang disebarluaskan melalui media sosial dan menjadi viral

Kebingungan berubah menjadi kemarahan ketika merk dagang ‘Jilbab Halal’ menampilkan iklan yang memuat tulisan “Yakin hijab yang kita gunakan halal?”. Kontra argumentasi dilancarkan yang menuntut agar pihak dagang tersebut menunjukkan keberadaan jilbab yang haram atau tidak halal. Memang kebingungan begitu mudah memantik kemarahan, suatu mekanisme psikologis yang manusiawi bagi kebanyakan orang.* (bersambung)

Penulis bertempat di Yogyakarta

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:iklanjilbabJilbab halalKapitalisme-lanjutkonsumenlate-capitalismumat Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bisnis Startup Bahasa Arab Bantu Pengungsi Suriah Mandiri
Tulisan selanjutnya Wawali Kota dan Wakil Ketua DPRD Pekanbaru Turut Tolak Promosi LGBT

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Uganda Tangguhkan Kerja Sama Militer dengan Turki Terkait Ekstradisi Pengkritik Presiden Museveni

Berita
27 September 2026 16:44
Arab Saudi Bantah Pejabat Iraq Perihal Pembelian 25 Tanker Minyak dan Dampaknya
Pelatih Irlandia Menyebut Timnya Jengkel Harus Melawan ‘Israel’
Buka MIHAS 2026, Wakil PM Malaysia Dorong Pembentukan ASEAN Halal Council
Kelompok Pro-Zionis Teror Media Australia dengan 40 Ribu Email Komplain

Terbaru

  • Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
  • Teladan Umar bin Khattab Ra. dalam Mengatasi Problem Gratifikasi
  • Siti Hasmah Mohamad Ali, Istri Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100
  • Timnas Irlandia Tolak Jabat Tangan dengan ‘Israel’ sebelum Libas Tiga Gol Tanpa Balas
  • Iran Klaim Tangkap Drone Bawah Laut Amerika di Selat Hormuz
  • Warga Maroko di Belasan Kota Gelar Demo Tolak Normalisasi Pemerintahnya dengan ‘Israel’
  • Drone ‘Israel’ Meledak, Tewaskan Dua Tentaranya Sendiri
  • Uganda Tangguhkan Kerja Sama Militer dengan Turki Terkait Ekstradisi Pengkritik Presiden Museveni
  • Presiden Brazil Teken Larangan Judi Online
  • Pemerintah Italia Setuju Larangan Burqa dan Niqab, Serta Pembatasan Siswa Asing

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?