Oleh: Abdul Hamid M Djamil
SELAIN mengajar, para ulama mua’sarah (kontemporer) yang berdomisili di jazirah Arab, hingga hari ini terus menyibukkan diri dengan menulis. Sebut saja Dr. Wahbah Zuhaily (Suriah) yang karyanya menjadi rujukan utama dalam fiqih komparatif hari ini, Syehk Ali As-Sabuni (Makkah), Dr. Yusuf Qardhawi (Mesir), Syehk Saied Fudah (Jordania), dan masih banyak ulama Arab lainya yang masih melestarikan budaya menulis ini.
Maka wajar saja jika nama ulama Arab baik yang hidup di masa khalaf, mutaqaddimin, mutaahkkhirin bahkan yang masih hidup hari ini selalu disebut-sebut oleh umat Islam di berbagai dunia.
Sayangnya hal ini tidak terjadi pada ulama-ulama Nusantara. Salah satu contoh kurangnya tradisi ulama Aceh yang dikenal dengan julukan serambinya Makkah.
Dalam literatur sejarah belum banyak karya ulama Aceh yang menjadi rujukan ulama dunia. Padahal kualitas ilmu ulama Aceh juga tak kalah hebatnya jika kita komparasikan dengan ulama daerah lain. Konon banyak orang luar Aceh yang menuntut ilmu agama di Aceh. Akan tetapi Kepiawian ulama Aceh tidak terlihat di kancah internasional karena tidak berkarya.
Realitanya jika seorang ulama pergi menghadap Allah subhanahu Wata’ala (baca: meninggal), maka ilmu yang beliau miliki akan ikut serta menemaninya jika tidak meninggalkan karya. Meskipun beliau meninggalkan murid yang selalu meneguk ilmu darinya. Tetap saja ilmunya tidak akan terwarisi secara menyeluruh kepada generasi selanjutnya.
Kodifikasi ilmu besar-besaran yang dilakukan pada masa Abbasiyah (132 H) seharusnya menjadi lampu hijau bagi ulama Aceh untuk menulis. Besarnya dedikasi ulama masa Abbasiyah dalam menulis furuk-furuk ilmu yang kemudian dijadikan warisan bagi ulama selanjutnya adalah satu harapan budaya menulis ini untuk terus dilestarikan.
Mau tidak mau kita harus mengucapkan terimakasih kepada mereka yang telah meluangkan waktunya untuk menulis ilmu-ilmu ini. Secara inplisit mereka berpesan kepada ulama-ulama yang telah menerima warisan ini agar senantiasa mewariskan karya-karya mereka kepada generasi Islam di masa akan datang. Salah satu cara untuk mewarisi karya tersebut adalah dengan menulis.
Semangat menulis ulama yang hidup setelah masa Abbasiyah pun tak pernah pudar. Seperti Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii, dan Imam Hambali. Tradisi menulis ini terus diimplimentasikan oleh ulama-ulama yang hidup di era mutaqaddimin dan mutaahkkhirin yang mayoritas mereka orang Arab. Sejarah telah mendokumentasi kezuhudan Imam Nawawi dalam memfilter mazhab Syafi’i di era mutaahkkhirin.
Dan menjadi hal yang sangat wajar juga jika ulama Aceh hari ini tidak dikenal di negara Arab. Kita yakin jika seandainya ulama Aceh mau menulis mereka juga akan dikenal di negara-negara Arab.
Pudarnya semangat menulis ulama Aceh hari ini bukan berarti ulama Aceh tidak pernah berkarya. Literatur sejarah menyebutkan banyak ulama-ulama Aceh tempo dulu yang mau menulis. Di antara mereka adalah Syeikh Abdurrauf As-Singkili, Hamzah Fansuri. Sebagai ulama besar pada masa kerajaan Iskandar Tsani dan Ratu Safianatuddin Tajul Alam (1641-1675), beliau telah menghasilkan 22 karya dalam berbagai topik.
Tradisi seperti ini yang semestinya dilestarikan oleh ulama Aceh hari ini. Sehingga ilmu yang mereka miliki tetap bisa dikonsumsi oleh ummat islam di negara lain. Adapun faktor-faktor yang membuat ulama Aceh belum berkarya antara lain; merasa cukup dengan karya-karya ulama sebelumnya, tidak membiasakan diri dengan menulis, dan tidak bisa berbahasa Arab.
Orientasi Menulis
Sebagian orang berasumsi untuk apa menulis sementara kitab-kitab yang sudah ada belum tuntas kita baca. Masih sangat banyak kalimat-kalimat dalam kitab turast (klasik) belum kita kuasai. Hemat penulis orang yang beranggapan seperti ini kurang peka terhadap perkembangan zaman yang terus saja berubah.
Bahasa Arab adalah bahasa pengantar ilmu agama Islam turun-temurun. Hal ini dikarenakan mayoritas ulama besar berasal dari Arab, dan Arab menjadi kiblat bagi ilmu Islam. Bahasa Arab akan mengalami perubahan seiring majunya zaman. Sehingga bahasa Arab yang menjadi pengantar kitab turast jauh berbeda dengan bahasa Arab kontemporer.
Kehidupan manusia juga akan berubah seiring perubahan zaman. Tidak semua orang bisa membaca dan menganalisa isi-isi kitab turast tersebut. Kapabelitas ulama Aceh hari ini dalam memahami kitab turast tidak ada satu kemungkinan generasi Aceh ke depan juga bisa memahami kitab dimaksud. Lebih-lebih lagi generasi Aceh yang tidak tersentuh dengan dayah (pesantren). Mereka pasti akan meninggalkan tradisi indatunya dalam bergelut dengan dunia turast.
Saatnya memulai karya
Ada baiknya para ulama Aceh hari mulai bergelut dalam dunia menulis di samping megajar. Ilmu yang sudah terpatri dalam jiwa santri akan lebih melekat dengan membaca karya-karya mereka. Masyarakat pada umumya dan mahasiswa yang menuntut ilmu di perkuliyahan pun bisa menggali ilmu dari ulama dayah dengan membaca karyanya.
Ketidak mampuan memahami berbahasa Arab bukan satu hambatan untuk tidak menulis. Tulislah dalam bahasa Melayu (Baca: Arab Jawi) atau dalam bahasa daerah sekalipun. Baik berupa tulisan karya ilmiah atau pun mensyarah matan-matan kitab. Kalau hal seperti ini sudah teraplikasi maka kepiawian ulama Aceh akan terlihat di kancah internasional.
Selanjutnya persiapkan kader dari santri dayah untuk menjadi penulis. Bumbui mereka dengan dunia jurnalistik di samping belajar kitab. Sehingga budaya menulis ini akan berkesinambungan dan tidak terhenti pada satu generasi. Generasi muda Aceh postmodern sangat menginginkan ulama Aceh punya karya. Suatu saat karya mereka bisa menjadi referensi bagi orang Aceh bahkan bagi dunia.
Karya ulama Aceh juga bisa menjadi counter attack untuk menangkal aliran sesat yang rawan terjadi di Aceh. Di samping itu, karya mereka bisa menjadi bahan bacaan bagi masyarakat yang punya kesibukan dan tidak bisa menghadiri majlis taklim . Selebihnya ilmu ulama Aceh akan dengan mudah tersebar ke seluruh pelosok negeri Aceh melalui karyanya tadi.
Oleh karena itu, menulis merupakan satu hal yang mesti diaplikasikan oleh ulama-ulama Aceh hari ini. Tradisi menulis merupakan satu solusi untuk memperlambat punahnya kahazanah ilmu agama di serambi mekkah ini. Semoga tulisan singkat ini menjadi perantara untuk mengembalikan semangat menulis ulama Aceh.*
Penulis adalah mahasiswa Universitas Al-Azhar – Kairo, Berprofesi sebagai anggota IPSA (Ikatan Penulis Santri Aceh), Email: [email protected]