Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Ruh Intiqod dan Pendidikan untuk Mempersiapkan Generasi Akhir Zaman

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Januari 2019 18:25 6:25 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Januari 2019 18:25
Bagikan
Ilustrasi
Bagikan

Oleh: Wildan Hasan

 

BANYAK yang mengatakan, saat ini, kita semua  berada di akhir-akhir zaman. Fase yang dekat dengan saat semua amal diperhitungkan lalu dengannya kita mendapatkan rahmat Allah di Surga-Nya atau azab Allah di Neraka-Nya.

Apa yang harus kita lakukan di masa seperti ini? Masih pentingkah kita menyiapkan generasi penerus?Apakah sudah terlambat dan tidak ada waktu lagi?

Tentu saja penting dan masih ada waktu. Selain karena itu adalah tugas dan amanah kehidupan, juga karena kita tidak tahu kapan kiamatnya akan datang. Sehingga menyiapkan generasi tidak terbatasi oleh masa apapun meski itu adalah masa akhir zaman.Mari kita perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Anas Radhiyallohu ‘Anhu dari Rasulullah ﷺ

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

“Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat maka hendaklah dia menanamnya.” (HR. Imam Ahmad 3/183, 184, 191, Imam Ath-Thayalisi no.2068, Imam Bukhari di kitab Al-Adab Al-Mufrad no. 479 dan Ibnul Arabi di kitabnya Al-Mu’jam 1/21 dari hadits Hisyam bin Yazid dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu). M Natsir menulis buku khusus terkait hadits ini dengan judul “Tebarkan benih itu dalam keadaan bagaimanapun juga”)

Dalam konteks yang kita bahas ini, bibit atau benih dalam hadits tersebut adalah generasi muda. Murid-murid dan anak cucu kita, adalah benih yang harus disiapkan untuk mampu ‘bertarung’ di akhir zaman yang tantangan dan problematikanya bisa jadi jauh lebih berat daripada problematika hidup kita saat ini.

Baca:  Enam Indikator Akhir Zaman

Untuk itulah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu mengatakan; “Didiklah anak-anakmu dengan baik karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zaman kalian”.

Tidak ada cara yang lebih baik dalam menyiapkan generasi terbaik di akhir zaman selain pendidikan.

Mohammad Natsir dalam bukunya Capita Selecta (jilid 1hal 79) menyebutkan bahwa: “Maju atau mundurnya salah satu kaum bergantung sebagian besar kepada pelajaran dan pendidikan yang berlaku dalam kalangan mereka itu. Tak ada satu bangsa yang terbelakang menjadi maju melainkan sesudahnya mengadakan dan memperbaiki didikan anak-anak dan pemuda-pemuda mereka”

Namun pendidikan tidak sembarang pendidikan.Selain pendidikan harus diniatkan dan bernilai ibadah pun pendidikan menurut Natsir harus memiliki ruh intiqod (mental dansikap kritis-pen). (Prof. Dr. Syed Mohammad Naquib Al Attas menyebutnya dengan istilah “Spirit of inquiriy”)

Ruh Intiqodadalah kekuatan menyiasat dan menyelidiki kebenaran yang ditanamkan oleh agama Islam dalam dada tiap-tiap putera Islam. (M. Natsir, Capita Selecta, jilid 1, hal.31)

Bagi Natsir, ruh intiqod mendidik generasi agar dengan optimal mampu menggunakan akalnya dalam melakukan penelitian, pengkajian dan pendalaman dengan baik serta menjauhkan generasi dari taklid buta dari perkara apapun.Natsir mendasari pemikirannya ini kepada salah satu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan janganlah kamu ikuti begitu saja apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu semuanya akan ditanya (dimintakan pertanggungjawaban)”. (QS: Al Isra: 36)

Baca:  Begini Sikap Mukmin Terhadap Peperangan Akhir Zaman

Natsir mengkritik keras sebagian umat Islam yang semula hidup penuh semangat juang dan pengorbanan menjadi manusia yang berjiwa kerdil, pesimistik, dan merasa kurang berharga, kurang kuat, kurang hebat dan kurang cerdas (inferiorty complex).

Natsir menyebut mereka “Bagaikan ruh yang tunduk ringkuk, penyembah kubur dan tempat-tempat keramat, menjadi budak jimat dan air jampi. Tangan yang tadinya begitu giat menyelidik, memeriksa alam supaya memberi manfaat kepada umat manusia, lalu terkulai tak ada himmah, selain menghitung untaian tasbih penebus bidadari di dalam Surga…!” (Capita Selecta, hal.33)

Padahal umat Islam ditakdirkan untuk menjadi umat terbaik bagi manusia. Allah Taala berfirman: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”(QS: Ali Imran / 3 : 110)

Digambarkan oleh Natsir para ilmuwan Islam masa lampau yang telah menghantarkan peradaban Islam ke puncak kejayaannya adalah hasil dari ruh intiqod yang kemudian mendorong pencerahan dan kemajuan peradaban Barat. Natsir tegas mengatakan bahwa itu semua terwujud “Tak lain yang mendidik kami sampai demikian, adalah agama kami yakni agama fitrah, agama yang cocok dan selaras dengan fitrah kejadian manusia.” (Capita Selecta, hal.33).

Oleh karena itu Natsir menegaskan bahwa tidak ada pertentangan antara wahyu dengan ilmu.Wahyu memandu ilmu sehingga melahirkan kemajuan kebudayaan dan teknologi manusia yang beradab dan maslahat bagi kehidupan manusia dan alam di sekitarnya.

Melihat perkembangan pendidikan kita saat ini yang bertahan dibudaya menghafal dan indoktrinasi, budaya literasi yang amat rendah, semangat berdiskusi mengkaji dan meneliti yang lemah bahkan cenderung dihindari, menunjukkan bahwa kita masih jauh untuk mampu mengembalikan kejayaan peradaban kita di masa kini.Inilah yang harus dengan seksama kita fikirkan dengan serius bagaimana mentransformasi dan mengaplikasikan ruh intiqod dengan realitas dan tantangan zaman saat ini.

Baca:  Mendidik Generasi Gemilang, Negara jangan

Indonesia sendiri diperkirakan pada tahun 2030 an akan mengalami ledakan demografi yang cukup signifikan. Pada tahun tersebut jumlah generasi muda 60% lebih dari seluruh jumlah penduduk Indonesia.Dimana kita menyadari bahwa wajah dan nasib bangsa ini ke depan akan ditentukan oleh generasi muda saat ini.

Hancur dan berjayanya negeri kita bermula dari bagaimana kita mendidik generasi muda saat ini.Jika model pendidikan yang berlaku saat ini terus dipertahankan, model pendidikan yang kosong dari ruh intiqod maka dapat dibayangkan akan seperti apa generasi muda kita di masa depan saat mereka menerima estafeta kepemimpinan untuk mengurus dan mensejahterakan penduduk negeri.

Intiqod atau Spirit of Inquiriy

Saat ini umat Islam kehilangan motif yang dulu menjadi supremasi kejayaan peradaban umat Islam yakni semangat penelitian dan pengkajian.

Semangat keilmuan dan akademik.

Lemah bahkan hilangnya semangat membaca, menulis, diskusi, seminar, bedah kasus, riset, problem solving, eksperimen, observasi dan sebagainya.

Baca:  Mari Wariskan Islam pada Generasi Muda

Hampir semua orang saat ini menyukai sesuatu yang serba instan, cepat tapi tidak akurat, yang wah, gemerlapan, ramaidan riuh rendah.Sedikit sekali yang mau tekun, teliti, sabar dan focus mengkaji dan meneliti sesuatu.

Kita membutuhkan kelompok-kelompok kajian,focus group discussion, lembaga-lembaga riset untuk membedah problematika umat dan melakukan kajian serius untuk mendapatkan solusinya. Al Qur’an menyebutnya “Tafaqquh Fi ddien.”

Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS: At-Taubah : 122).

Sebuah kelompok kajian/riset yang tidak banyak pesertanya tapi terpilih, cerdas, bersemangat tinggi, ikhlas, pekerja keras, tahan terhadap tekanan, visioner dan kreatif.Lembaga-lembaga seperti inilah yang menentukan keberlangsungan suatu organisasi, pergerakan, negara bahkan dunia.

Berapa jumlah orang Yahudi di dunia? Hanya 15 juta-an, tapi mereka mencengkeram dan mengendalikan dunia.Kenapa mereka mampu? Karena mereka punya keyakinan dan semangat bahwa mereka bisa, mereka unggul, mereka hebat, lalu mereka belajar, meneliti, berinovasi, membuat terobosan-terobosan. Padahal mereka kaum yang kelak akan dinistakan Allah.

Di zaman Orde Baru, lembaga riset bernama CSIS menentukan kebijakan pemerintah dalam berbagai bidang.Mereka tidak terlihat dan populer tapi mereka menentukan bahkan mematikan bagi lawan-lawannya.

Oleh karena itu nyawa-nya institusi pendidikan pun adalah lembaga risetnya (litbang).Jika sebuah lembaga atau institusi pendidikan tidak memiliki semacam biro riset atau ada tapi tidak berjalan maka tunggulah kehancurannya.Jangan sampai Ruh Intiqod ini mati dari dada –dada generasi Islam, murid-murid dan anak-anak kita, karena di tangan mereka nasib umat dan bangsa ini di masa yang akan datang. Allahu A’lam.*

Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Kota Bekasi

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Akhir zamangenerasi mudaMuslimPemudaPendidikanruh intiqod
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sepertiga Staf PBB telah Alami Pelecehan Seksual
Tulisan selanjutnya Qatar Sumbang 50 Juta USD untuk Rakyat Suriah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?